Selfish

Selfish
Selfish : 13



"Hey ngopi-ngopi bae, diem napa diem."


"Kebalik goblok," Rangga menonjok kening Rafi yang kelewat bego.


"Oh iya kah? Kapan diganti?"


"Kagak pernah diganti, lo nya aja yang kudet plus bego."


"Gue cerdas begini dikatain bego."


"Cerdas apaan, nilai Matematika lo aja di bawah standar," ejek Rangga.


"Nilai 42 masih mending lah, emang lo berapa?"


"40,5," jawab Rangga dengan bangga.


"Lah itu sih bego an lo setan."


"Kalian berdua bisa diem gak? Lama-lama gue mutilasi lo pada," kesal Zian karena dua makhluk astral ini mengganggu waktu melamunnya.


"Sadis amat mas, mending ikut Eneng ke kos an yuk," Rafi mencolek dagu Zian ala-ala om pedofil. Aksinya berhasil mendapat tatapan mematikan dari Zian.


"Jangan sampai nih sepatu mahal gue mendarat di mulut lo," Zian yang sudah siap-siap membalingkan sepatu mereka channel nya ke atah Rafi, Rangga hanya tertawa senang melihat perdebatan ini. "Ayoo gelud, gue suka keributan."


"Jangan sampai lo yang gue cakar."


Hari ini adalah hari yang sial bagi Arin, selama pelajaran dimulai dia kembali tidak fokus dan jarang menperhatikan, Arin hanya menelungkup di lipatan tangannya, untung guru yang masuk hari ini baik dan murah hati kalo guru galak udah dilempar si Arin ke segitiga bermuda. Arin sekarang duduk satu meja dengan Rini, semenjak kejadian tadi Nayla memisahkan diri, itu juga guru yang misahin mereka takut masalah tadu diperpanjang lagi.


Kesialannya bertambah kala mendapat telpon dari sang Papa yang katanya gak bisa jemput Arin karena masalah pekerjaan, Arin berdecak kesal. Mau jalan kaki tapi panas banget, pesen taxi ongkosnya gak ada.


"Aarrgghhh sial banget sih gue," gerutu nya seraya memijit pelipisnya pusing. Mau tidak mau dia harus jalan kaki, Arin meraih tasnya lalu keluar kelas. Suasana sekolah sudah sepi, mungkin hanya dirinya murid yang belum meninggalkan area sekolah.


Dari arah depan, Zian berlari kecil menghampirinya tentu saja Arin tidak menghiraukannya. Apakah peringatan tadi kurang tegas sehingga bocah tengil ini terus saja menganggunya.


"Gue akan anter lo pulang."


Arin hanya menatap jengah pada lawan bicaranya, tidak ada niatan sama sekali untuk menjawab.


"Tunggu sebentar, gue ambil motor di parkiran."


Arin yang belum sempat melontarkan kalimat penolakan hanya bisa memandangi punggung pemuda yang dibencinya itu mulai menjauh, kesempatan ini dia gunakan untuk segera kabur, ogah dia kalo harus diantar oleh Zian.


"Gue suruh lo nunggu kok malah jalan duluan? Ayo naik," Zian menunjuk jok motor belakangnya agar Arin segera naik tapi tidak ditanggapi sama sekali.


"Arin gue mau ngomong sesuatu yang penting sama lo, ayo naik," Zian terus memaksa tapi Arin masih terus lanjut jalan tanpa menoleh. Jadilah Zian bawa motor pelan-pelan agar sejajar sama langkah Arin.


Arin merasa capek, padahal baru jalan 5 meter. Kebetulan di sana ada bangku panjang, Arin memutuskan untuk beristirahat. Zian yang melihat itu jadi ikut-ikutan duduk, capek juga nuntun tuh motor, tapi gak apa-apa demi membuat Arin mau maafin dia.


Waktu yang seharusnya dipakai untuk istirahat ini malah keganggu karena ocehan Zian yang cerewet banget, minta maaf gak berhenti-berhenti dari tadi membuat kuping Arin panas, sampai-sampai tuh anak nekat berlutut di depan Arin.


"Berdiri gak lo, gak malu apa dilihatin banyak orang," sungut Arin.


"Sebelum lo maafin, gue gak akan berdiri," Zian mengatupkan kedua tangannya. Arin menggitgit bibir bawahnya, sejujurnya dia masih marah tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia merasa bersalah dan kasihan. Pertahanan Arin sedikit demi sedikit mulai goyah, dia benci mengatakannya tapi...


"Oke fine, gue maafin lo. Sekarang berdiri!," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya padahal sudah ia tahan dari tadi. Zian menarik sudut bibirnya membentuk senyuman mendengar kalimat Arin.


Deru suara mesin motor Zian terdengar memasuki kompleks tempat tinggal Arin tak sedikit menyita perhatian tetangga. Ibu-Ibu gosip tumben-tumbenan siang bolong begini pada kumpul bareng, ada hajatan mendadak kah? Biasanya jam segini pada ngurung diri di dalam rumah. Ehh bentar-bentar, kok pada kumpul di depan rumah Dion, lagi bagi-bagi sembako kali ya?


Arin meloncat turun dari motor tinggi Zian tanpa aba-aba sehingga sedikit membuat Zian oleng hampir kejengkang sama motornya, mana tuh anak belum lepas helm lagi, Arin berlari menghampiri sang Mama yang kebetulan ikutan kumpul juga, sepertinya sedang membicarakan hal yang serius.


"Mah, ada apa ini?"


Rima menatap putrinya dengan tatapan sendu mengingat kejadian yang baru saja terjadi.


"Dion, orang tuanya baru saja bercerai, keduanya tidak ada yang mau bawa Dion jadi mereka pergi berdua dari rumah meninggalkannya."


Ini berita yang sangat menyakitkan, bahkan seseorang yang tidak mengalaminya saja bisa merasakan rasanya seperti apa. Arin segera berlari ke rumah Dion untuk menghiburnya, pasti dia sedang tertekan sekali saat ini.


"Dion!!!! Buka pintunya, gue mau ngomong," Arin mengetuk pintu bercat coklat itu karena dikunci dari dalam. Tidak ada sahutan dari dalam membuat Arin semakin khawatir, pikirannya sudah melenceng ke mana-mana, siapa tau Dion melakukan hal-hal aneh di dalam yang bisa mencelakakan nyawanya. Ini gak boleh terjadi.


"Dion please, buka pintunya atau gue dobrak," Arin mereplay lagi kata-katanya, dobrak pintu? emang gue kuat? Ahh bodo amat lah, percaya diri aja dulu masalah bisa atau nggaknya bisa minta bantuan pak RT nanti.


...Tindakan Arin menyita perhatian semua orang, satu persatu tetangga mulai meninggalkan tempat untuk mengurus hidupnya masing-masing, capek juga ternyata ngurusin hidup orang lain. ...


Pandangan Zian tak lepas dari tingkah laku Arin yang terkesan memaksa, udah tau orangnya lagi depresi malah diganggu, Rima mengajak Zian untuk menyusul Arin.


"Arin, sudah lah mungkin Dion pengen sendiri dulu, nanti kalo sudah tenang pasti dia keluar," Rima mengusap bahu putrinya lembut.


"Tapi Mah, Arin khawatir Dion akan melakukan perbuatan nekat yang bisa membahayakan nyawa dia tanpa sepengetahuan kita."


"Hussh, kamu ini mikirnya kejauhan. Gak mungkin Dion bertindak segila itu," dalam hati Rima juga memikirkan hal yang sama dengan Arin, karena banyak kasus yang dia lihat di berita tentang anak yang bunuh diri hanya karena kurang kasih sayang dari orang tuanya dan banyak lagi kejadian serupa yang awal mulanya berasal dari orang tua, tapi Rima segera mengusir pikiran jahat itu agar tidak membebani Arin juga nanti dia makin overthinking.


Terpaksa Arin mengikuti langkah sang Mama menuju rumah, berkoar-koar gak jelas depan pintu Dion gak ada gunanya karena empunya juga gak bakalan bukain pintu.


"Gue bakal balik lagi nanti," gumam Arin.


...****************...


Gaje banget gak sih😭😭