Selfish

Selfish
Selfish : 48



Acara Pensi akan diadakan dua hari lagi, seluruh anggota Osis bekerja keras demi mengatur acaranya agar lebih meriah dan seru. Arin planga-plongo kayak orang bego lihat anggotanya berlalu lalang, sibuk mindahin seluruh barang dati gudang.


"Arin, bantuin napa, jangan malah berdiri tengah jalan," Rangga teriak sambil membawa speaker di tangannya. Arin berdecak malas lalu berjalan pelan ke arah gudang tempat di mana sekolah elite ini menyimpan perlengkapan. Gak ada tempat lain apa selain gudang, yah walaupun disebut gudang tapi tampilan dalamnya tidak mirip gudang, malah lebih kayak ruangan kosong namun diisi oleh barang-barang berharga.


Di sana, Zian sudah stand by bersama anggota yang lainnya, kurang lebih jumlahnya 10 orang tengah sibuk mengangkat benda apa saja yang perlu dibutuhkan saat acara pensi. Arin berjalan mendekati Zian yang sibuk mengarahkan.


"Ada tugas gak buat gue?" tanya Arin malas, sesekali melirik anak-anak Osis yang masih sibuk berlalu lalang.


"Ada. Bawa tuh kain ke aula, sama bahan buat dekor-nya nanti," Zian menunjuk dengan dagunya ke arah tumpukan kain dan beberapa hiasan untuk dekorasi panggung. Lumayan banyak, dan Arin harus melakukannya sendiri.


"Serius? Gue bawa nih sendiri?"


"Ya iyalah, masa lo mau minta tolong pak RT, bawa sendiri lah. Kenapa? Gak sanggup? Lemah," ujar Zian dengan ketus lalu meninggalkan Arin yang masih berdiri mematung, gak percaya dengan apa yang diucapkan Zian tadi.


"Tuh anak kenapa sih jadi sensitif banget akhir-akhir ini, PMS kah? Anjir dia cowo," Arin melambaikan tangan berusaha mengusir pikiran yang tidak penting, tangannya bergerak mengambil kain tadi.


"Nanti deh gue balik lagi buat ambil sisanya, tangan gue cuma dua, jadi gak muat," Arin berjalan santai keluar gudang menuju aula tempat di mana yang lain tengah berkumpul juga di sana untuk membantu termasuk guru-guru ikut serta turun tangan. Acara nya sih di lapangan, tapi kumpul dulu di aula sebelum menunu ke lapangan depan. Hari ini pelajaran kosong karena acara pensi dadakan ini, jadi semua siswa bebas mau keluyuran kemana saja asal jangan menghadap yang Maha kuasa, seluruh siswa juga bisa pulang tapi disarankan agar tidak berpulang dulu ke Rahmatullah.


"Mana bahan dekor-nya?" tanya Zian saat melihat Arin hanya bawa kain.


"Sabar anjing, gue gak bisa nawa sekaligus. Lo kalo nyuruh yang masuk akal dikit kek, gue bukan gurita punya banyak tangan, ehh gurita punya tangan gak sih? Aishh bodo amat, gue ambil sekarang. Nih pegang dulu," Arin menyerahkan kain itu dengan paksa lalu berlari kembali ke gudang. Zian mendengus kesal lalu menaruh kain tadi di atas meja.


"Jadi orang gak sabaran banget, heran gue," Arin ngomel di sepanjang jalan. Tiba-tiba, notifikasi ponselnya membuat Arin sadar, itu chat dari Zian.


'Kalo sudah selesai, jangan lupa kunci gudang habis itu kasih kuncinya ke gue'


"Dih, siapa lo perintah-perintah gue?"


"Oke, terakhir nih ya, jangan sampai gue gak mampu bawa," Arin mengangkat kardus yang lumayan gede isinya properti semua ditambah beberapa benda untuk hiasan panggung.


"Anjir, berat banget. Ini mah tugas lelaki buat ngangkat, awas lo Zian," Arin susah payah buat angkat tuh kardus.


"Arin kuat, Arin hebat." Mantra yang Arin ucapkan sebelum kembali mencoba ngangkat kardus, setelah berhasil senyum bangga terlukis di wajahnya. Saat hendak berbalik, pintu tampak menutup sendiri dan menguncinya sendirian di gudang, Arin terbelalak, tanpa pikir panjang dia melempar kardus tadi dan berlari ke arah pintu. Dari luar, Arin bisa mendengar tawa seseorang yang familiar.


Suara cekikikan masih terdengar jelas dari luar.


"Huh, dasar cewek-cewek jaman sekarang, selalu main kotor, kalo emang suka sama cowok terus cowok itu gak suka sama lo dan lebih memilih sama cewek lain, ya jangan balas dendam sama cewek nya lah, tanya ke cowoknya alasan dia gak suka sama lo, bukannya cemen kayak gitu," teriak Arin dari dalam sampai yang di luar dapat mendengarnya, tau betul itu suara Nayla yang lagi tertawa bahagia. Bukannya sahutan yang diterima Arin, malah dentuman keras di daun pintu sehingga membuat Arin terlonjak kaget. Suara sudah tidak terdengar lagi, Arin duga pasti mereka sudah kabur.


Arin mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Zian, siapa tau tuh anak bisa bantu.


"Anjir, lowbat. Padahal tadi seingat gue masih full loh baterai nya, heran gue saat keadaan genting begini ada aja masalahnya, berasa main film gue, kekunci di gudang terus ponsel mati, kalo gak mati ya ketinggalan," gerutu Arin karena saat ia akan menyalakan ponselnya, benda pipih itu langsung mati mendadak.


Sementara itu di tempat lain....


"Arin kemana sih, disuruh ambil kardus kecil doang, lama. Gak mungkin kan dia ketimpa kardus sampai mati. Ahh, gue tau, pasti dia kabur nih biar gak usah keluarin tenaganya, dasar licik," Zian hendak menyusul Arin ke gudang, dengan berbagai firasat kotor di kepalanya, segala macam tuduhan dia tujukan pada Arin yang jelas-jelas terkurung sendiri dalam gudang. Untung masih siang, kalo malem udah gak tau gimana nasib Arin, secara kan dia takut gelap.


"Heh, mau kemana lo?" tanya Rafi.


"Mau nyusul Arin di gudang, kenapa emang?"


"Gak ada sih, gue kira lo mau ke Alfamart, gue mau nitip susu Unta soalnya."


"Lo masih minum susu?"


"Apa salahnya bambang? Kakek gue aja yang sudah berumur masih minum susu, bahkan buyut gue yang sering sakit-sakitan juga minum susu walaupun harus pakai selang," protes Rafi tidak terima karena diketawain oleh Zian.


"Santai aja kali, gue gak nyalahin lo minum susu ya, hanya saja lo gak cocok minum susu."


"Ya terus gue cocoknya minum apa?"


"Air cucian piring." Zian sudau berlari saat Rafi hendak mencopot sepatunya melempari Zian dengan sepatu mahalnya, dari kejauhan Zian meleletkan lidahnya mengejek Rafi.


"Heran, Bunda Riana (Bundanya Zian) kok mau-mau aja melihara Zian, anaknya kelakuan kayak setan," kesal Rafi.