
Sekolah kembali dibuka setelah lamanya waktu liburan yang dijalani oleh para murid yang tergila-gila cuti. Jujur, jika sudah libur panjang, sekolah akan terasa membosankan. Bangun pagi pun akan terasa hambar jika sudah ada kata 'sekolah'.
Waktu terlalu cepat berlalu, 3 minggu tidak ada artinya, liburan sama sekali tidak meninggalkan pengalaman yang berkesan.
Arin merapikan buku-buku yang sudah selesai dia pilih untuk dibawa ke sekolah, karena menurut informasi dari grup sekolahnya, sesi belajar mengajar akan langsung dimulaikan, jadwal pun sudah dikirim, jadi gak ada istilah jam kosong sampai siang. Hal itu lah salah satu yang jadi pemicu para siswa dan siswi males masuk sekolah.
Rima mengulurkan tangan untuk memperbaiki tatanan rambut Arin yang berantakan.
"Kamu itu mandi gak sih? Kok tampilannya kayak orang gak pernah mandi dua minggu. Sisir rambut sebelum berangkat," oceh Rima, mengambil alih sisir di tangan Arin, kemudian dengan telaten menata rambut putrinya.
"Aku bukan anak kecil lagi, Mama," Arin hendak merampas sisir sebelum Rima selesai.
"Iya, kamu bukan anak kecil lagi. Tapi tingkah kamu masih kekanak-kanakan, sudah diem," Arin auto kicep, membiarkan Rima dengan kreasinya sendiri dengan rambut Arin sebagai bahan percobaan.
Sebenarnya rambut Arin biasa saja gak seberantakan yang seperti Rima bilang, cuma Arin sengaja biarin rambutnya kayak gitu karena dia juga habis keramas jadi belum mau kuncir atau buat rambutnya model lain, entah kenapa Rima lihatnya bisa berantakan begitu.
Setelah sesi pasrah itu bertahan lama, akhirnya Rima selesai dibarengi dengan hembusan nafas lega.
"Sudah, sekarang sarapan setelah itu berangkat bareng Papa," final Rima, melangkah santai ke meja makan dibuntuti Arin dengan langkah malas.
.
Suasana sekolah cukup lengang, padahal jam masuk sudah tiba, tetapi bel pun gak berbunyi sejak tadi. Arin mengumpat kesal, sia-sia perjuangannya datang sepagi itu. Mungkin jika dikalkulasikan, jumlah murid yang standby sejak tadi hanya ada 20 orang dari ratusan siswa di sekolah elite ini.
"Tau gini mending gue dateng jam 10 tadi," celetuknya sambil nendang udara, duduk termenung sendirian di kursi panjang dekat lapangan basket. Wujud Rini pun gak kelihatan sama sekali, padahal kemarin malam sudah janji dengan Arin bakal datang sekitar pukul 7 kurang 10 menit, tapi sekarang sudah lebih 30 menit manusia dengan kebiasaan aneh itu tidak muncul sejak tadi.
Satu persatu murid mulai memasuki area sekolah tapi itu berangsur lama, bahkan guru satu saja gak ada yang datang, hanya pak satpam yang paling setia selalu datang awal.
Arin dikagetkan dengan tiupan nafas yang mengenai lehernya, seketika Arin menoleh dan mendapati pelakunya yang tak lain adalah Bastian. Yah, berandal satu ini memang gak ada habisnya. Tapi Arin apresiasi untuk kedatangan nya yang tepat waktu dibanding siswa lain, secara Bastian itu dikenal suka datang terlambat, dan tak jarang diberi hukuman.
"Sendirian aja lo?" Bastian dengan wajah songongnya menggoda Arin, duduk bersila di samping Arin memperhatikan siswa-siswi yang berlalu lalang di hadapan mereka.
"Terus, pak RW nya mana?" Si anjir, malah ditanggepin, Arin jadi semakin geram, mood nya lagi gak baik lalu dipertemukan dengan Bastian, lengkap sudah kekesalannya pagi ini.
"Lagi naik odong-odong. Lo kalo gak ada urusan di sini mending pergi deh, mengganggu suasana tau nggak," ketus Arin, gak tau kenapa tingkat kesensitifannya melebihi waktu dia PMS.
"Gue nanya baik-baik loh," senyum di wajah Bastian pudar, baru kali ini dia merasakan sakit tepat pada hatinya. Arin tak menjawab, sibuk berperang dengan batinnya. Semenit dua menit, Arin tidak merasakan tanda-tanda Bastian di sampingnya, dengan berat hati Arin menolehkan pandangannya ke samping dan menemukan kekosongan, sejak kapan Bastian pergi, Arin tidak tau lebih tepatnya tidak mau tau juga. Sedikit rasa bersalah mulai menyeruak dalam diri Arin karena telah mengabaikan laki-laki itu. Sedetik kemudian, Arin menepis jauh-jauh rasa bersalah itu dan mulai memasang sikap tidak peduli.
Arin sedari tadi mandangin punggung seorang laki-laki yang jaraknya sekitar 10 kaki dari tempat dia duduk. Matanya tak berkedip sama sekali, seolah menelisik dengan serius bagaimana postur tubuh lelaki di depannya itu.
"Masih sama, tapi sedikit kurus, apalagi lengannya kayak tongkat penyapu," gumam Arin sambil terkekeh, lama kemudian dia langsung sadar atas apa yang baru saja dia ucapkan. Seketika gadis itu bungkam, pokoknya kalimat apa pun yang keluar dari belah bibirnya selalu jadi penyesalan di akhir.
.
Bel masuk kelas sudah berbunyi sejak jam 9 tadi, para siswa melangkah malas menuju kelas masing-masing yang tak tau letaknya di mana. Acara kelulusan untuk kakak kelas mereka pun gak tau kapan diadakan, yang jelas semuanya harus ada di sekolah tanpa kecuali.
Arin asal duduk di kursi sebelah kiri karena kursi yang lain juga sudah banyak yang ngisi, jadi Arin pilih yang masih kosong aja. Suasana kelas masih rusuh, Arin doang yang bengong sendiri karena memang gak ada teman buat bercengkrama, Rini juga belum kelihatan batang giginya, Arin berpikir tuh anak keterusan tidur sampai siang dan gak ingat bahwa hari ini sekolah dimulai.
Tidak ada yang spesial untuk hari ini, semua terlalu membosankan. Arin ingin hari ini berakhir dengan cepat supaya dia bisa pulang dan beristirahat. Memeluk guling kayaknya lebih enak daripada harus memandangi papan tulis setiap hari.
Selama beberapa menit, guru tak kunjung datang ke kelas mereka. Tampak siswa perempuan berdiri depan pintu dengan nafas ngos-ngosan, bertumpu pada daun pintu sambil menatap wajah temannya satu persatu.
"Syukurlah gue gak telat." Itu Rini, tampangnya amburadul, bajunya gak dimasukin, kancing seragamnya belum sepenuhnya dikaitkan, tas dia tenteng di tangan kiri, muka bantal, rambut banyak yang berdiri, sungguh penampilan terburuk untuk alasan ke sekolah.
"Selamat pagi semuanya, udah lama kita gak ketemu," dengan langkah santai Rini berjalan di depan seluruh teman-temannya sembari menyapa satu persatu dari mereka, yang lain natap Rini aneh, kucel, jorok, pokoknya lengkap sudah. Arin sendiri melihat kelakuan temannya pengen menghilang ditelan bumi, mana tuh anak jalan ke arah Arin sambil memamerkan deretan giginya yang masih nempel potongan cabe, kelihatan banget pergi sekolah gak mandi atau sekedar gosok gigi dulu.
Rini tiba di dekat Arin, duduk di salah satu kursi kosong samping kanan. Tak ada percakapan, mereka berdua hanya saling pandang satu sama lain.
CHAPTER KALI INI AGAK NGAWURR ðŸ˜ðŸ˜