Selfish

Selfish
Selfish : 72



Rini mengendarai motor kesayangannya dengan kecepatan sedang, sejak awal tiba sampai di tengah perjalanan tidak ada percakapan sama sekali, Rini seperti berada di kuburan ditemani suara jangkrik yang nyaring. Rini melirik dari kaca spiom di mana Arin dengan wajah muram lebih ke kesal sih sebenarnya, menunduk menatap ponselnya dan tidak sadar sedang ditatap oleh Rini.


Berusaha keras Rini mengingat apakah dia ada salah kemarin sama Arin sampai diabaikan begini. Diajak bicara juga gak nyahut, Rini jadi panik dan takut, gimana kalo Arin gak mau temanan sama dia lagi? Ahh mikirnya kejauhan, Rini menggeleng hingga membuat helm-nya miring dan motor juga yang ikut goyang karena tingkahnya.


Tiba di sekolah tepat waktu sebelum bel berbunyi. Parkiran cukup ramai hingga Rini sampai celingak-celinguk buat nyari space untuk motornya.


Arin turun sebelum Rini menjalankan motornya. Rini mengerjap pelan kemudian cepat-cepat mengisi tempat yang lumayan muat untuk satu motor.


Melihat Arin yang hendak berjalan lebih dulu ke kelas, Rini buru-buru menahannya sampai lupa jika dia belum lepas helm, hal tersebut sontak mengundang tatapan aneh dari penghuni parkir yang lagi asyik gibahin kepala sekolah.


"Arin, lo marah sama gue gara-gara gue tinggal kemarin?" Rini mencekal lengan Arin, hanya kejadian kemarin yang Rini ingat jelas, masa iya karena itu Arin kesel, kan udah nerima Zian buat anterin dia pulang.


Berbeda dengan Arin, dia malah menatap Rini bingung kemudian gantian menatap tangannya yang dicekal Rini.


"Gue? Marab sama lo? Sejak kapan?" tanya Arin yang masih gak paham. Rini mengerlingkan matanya, jadi dia sudah salah paham.


Buru-buru ia melepaskan cekalannya pada lengan Arin.


"Terus, kenapa lo diem aja waktu gue ajak ngobrol tadi?" Rini balik bertanya berusaha menuntaskan rasa penasaran, siapa tau Arin ngelak dan benar-benar lagi kesal sama Rini.


"Emang lo ada bilang sesuatu tadi? Maaf deh, gue gak denger soalnya gue pake earphone," Arin menunjukkan benda yang sejak tadi ia pasang di telinga. Rini memutar bola mata malas, bergegas pergi ke motornya lagi untuk meletakkan helm. Memang membuang-buang waktu kalo bicara sama Arin.


"Lo kayanya stres banget, ada sesuatu yang mengganjal?" Mereka berdua jalan beriringan melewati tangga, melihat raut wajah Arin yang tampak gelisah campur kesal membuat Rini tak bisa menahan lidahnya untuk bertanya. Arin menoleh, tangannya menyodorkan buku paket mata pelajaran Sejarah.


Rini menaikkan alis bingung, meraih buku paket Sejarah dari tangan Arin tanpa protes.


"Gue semaleman gak fokus belajar dan materi nya sama sekali gak ada yang masuk ke otak gue, makanya gue stres dari tadi," gerutu Arin seraya mengacak rambutnya frustasi, mana sebentar lagi bel masuk kelas sementara Arin belum ingat sedikitpun yang ia baca malam tadi, jelas Arin gak mau bilang dong kalo penyebab dia gak fokus itu gara-gara Zian, bisa-bisa habis dia diejek Rini.


"Beban berat apa yang lo pikul sampai belajar saja gak fokus," Rini mengetukkam buku paket Sejarah yang cukup tebal itu ke kepala Arin, untung pelan kalo keras Rini udah ngegelinding di tangga.


Arin diam sejenak, mencari alasan yang pas dan masuk akal. Belum sempat buka suara, bunyi bel yang nyaring memekakkan telinga membuat mereka berdua mau tak mau berlari menuju kelas untuk mengulang materi ujian hari ini. Arin berharap dia bisa fokus dan setidaknya ada sedikit materi yang bisa diingat di otak kecilnya.


Rini tersenyum senang karena memang Sejarah adalah pelajaran paling favorit buatnya, berbeda dengan Arin dia sukanya Geografi kalo Sejarah suka juga sih tapi gak terlalu, sekenanya saja.


Soal sudah tersedia di depan Arin, tetapi matanya enggan melirik karena takut soal yang keluar akan berbeda jauh dengan apa yang sudah ia pelajari karena kebanyakan kayak gitu atau mungkin Arin-nya aja yang kurang belajar.


Temannya yang lain sudah sibuk dengan pena dan kertas masing-masing sementara Arin masih membeku di tempat, tangannya bergetar entah ujian kali ini gagal atau tidak Arin belum pasti.


Sebelum membuat keputusan, Arin tarik nafas dalam-dalam lalu perlahan mengeluarkan nya, hal tersebut dia lakukan berulang kali untuk membuat dirinya lebih rileks.


BRAK!!!!


Suara gebrakan meja yang Arin buat sontak mengalihkan seluruh atensi siswa tak terkecuali sang guru pengawas yang sudah menatap Arin cemas.


"Apakah ada masalah?" tanya guru. Arin segera menggeleng, mengusap tangannya yang mulai berasa sakit.


"Tadi ada nyamuk di meja saya," jawab Arin beralasan, terdengar dengusan pelan dari si guru pengawas.


"Baiklah, mulai kerjakan! Jangan membuat keributan lagi, karena kalian tidak punya waktu banyak untuk menjawab, jadi silahkan manfaatkan waktu dengan baik, baca soal dengan teliti jika ada yang kurang jelas silahkan bertanya sama saya jangan sama teman kalian." Semua serempak menjawab lalu kembali fokus pada soal masing-masing, kecuali Arin yang jatuh bangun karena gak ekspek bakal ada soal tentang 'interaksi antar masyarakat' padahal jelas-jelas mapel-nya sejarah, kalo tentang interaksi itu untuk materi Sosiologi.


"Yang buat soal sambil merem deh kayaknya, soal-nya banyak yang dicambur begini. 'Dengan siapa Meganthropus berinteraksi saat mencari makan?' What? Soal jenis apa ini? Ya mana gue tau, gue bukan emaknya atau tetangganya," Arin memijat pelipisnya, sudah cukup beban hidup Arin yang bikin pusing jangan ditambahin lagi.


Merasa otaknya tak bisa diandalkan, Arin melirik ke meja Rini, tampak gadis yang berstatus sebagai sahabat karibnya itu dengan enteng menggerakkan pena di atas kertas tak lupa senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya. Arin mengernyit bingung, Rini gak ngerasa aneh ya sama soalnya. Tau kok, temannya itu suka Sejarah tapi jika soal sudah melenceng begini mana bisa ditoleransi.


'Ehh apa tuh? Rini sudah selesai?' Kebingungan Arin tak sampai di situ, melihat Rini sudah berdiri dari bangkunya sambil menenteng kertas jawaban membuat Arin kalang kabut karena waktu juga tinggal beberapa menit lagi.


Sebelum keluar kelas, Rini melirik ke arah Arin sambil menunjuk keluar, menggumamkan bahwa dia akan menunggu Arin di luar, melihat tatapan sang guru pengawas yang mengintimidasi mengharuskan Rini melakukan bahasa isyarat dengan Arin.


"Yang sudah selesai segera keluar!" Suara yang terdengar tegas membuat Rini terlonjak.


"Baik, Bu." Rini membungkuk sejenak lalu ngacir keluar.


"Yang lain segera selesaikan, waktu kalian tingal 10 menit lagi." Kelas auto panik, mereka langsung sibuk dengan kertas ujian masing-masing, memeriksa mana yang belum disilang.