
Tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan Nayla dan kedua tenannya, karena mereka belum tersesat cukup jauh, untung saja tidak menyusahkan seluruh isi sekolah lagi. Mereka bertiga kembali dalam keadaan payah sekali, pakaian banyak yang sobek, rambut acak-acakan, sepatu tinggal sebelah, sontak kondisi nya mengundang gelak tawa dari yang lain. Nayla mengumpat kesal karena harus menjadi tontonan semua teman-temannya. Anjir, mereka pikir gue tokoh komedi apa pakai acara ketawa segala, awas aja ya lo semua. Nayla hanya bisa membatin dalam hati.
Karena kondisi yang tidak memungkinkan mereka untuk melanjutkan acara camping ini, semua memutuskan untuk pulang saja karena terhitung sudah tiga hari mereka di sini dan baru saja sampai sudah ada masalah, bagaimana jika mereka benar-benar mentap selama lima hari di sini, apa gak semakin runyam masalahnya, mungkin hutan ini tidak mengizinkan mereka tinggal lebih lama.
"Padahal gue mau lebih lama, tapi sayangnya keadaan yang memaksa untuk pulang," Rini mendengus pelan, sedikit kecewa karena keputusan yang tiba-tiba, Rini jadi tidak bersemangat lagi. Memori tersesat yang sudah menimpanya tidak membuatnya trauma sama sekali, padahal selama di dalam hutan mungkin Rini yang paling heboh setelah Amber, dan sekarang dia mengeluh karena cepat pulang? Memang gak ada kenangan yang menyenangkan sama sekali selama camping, tetapi peristiwa yang sudah menimpa cukup menjadi pelajaran bagi mereka semua.
"Jangan mikirin diri sendiri doang, gak liat noh gimana nasib si Nayla, dia dari tadi gak berhenti menggigil, entah apa yang dia lihat sampai seperti itu," tunjuk Arin yang kebetulan duduk di sampingnya. Semua yang ada di bis melihat ke arah Nayla yang nampak sangat parah sekali. Nayla yang biasanya akan ribut hanya karena masalah tempat duduk kini mojok di kursi paling belakang bersama kedua temannya.
Sampai sekarang gak ada yang tau kenapa Nayla jadi bertingkah seperti itu, sementara Karin dan Mila hanya diam sambil menatap kosong ke atap bis.
Seluruh guru dan murid sepakat untuk merahasiakan semuanya dan bersedia tanggung jawab atas peristiwa yang terjadi.
.
.
Arin diantar pulang oleh Zian dengan mobil sekalian Agatha juga di sana katanya mau nebeng. Sebelumnya Arin sudah ngabarin ke orang tuanya bahwa ia akan pulang sebentar lagi, Rima sempat bertanya namun tak bisa Arin jawab dan memilih untuk membahas topik lain.
Rima sudah berdiri di depan rumah siap menyambut putri semata wayangnya.
"Kamu gak apa-apa kan, sayang? Gak tersesat lagi seperti dulu?" Rima hanya menggoda Arin tetapi Arin menanggapinya dengan serius, jadi dia berusaha menyembunyikan kegugupannya. Tanpa diduga, Dion muncul dari balik badan Rima, sambil merentangkan tangan hendak memeluk Arin sebagai ucapan selamat kembali ke rumah dengan selamat. Arin menatap sang Mama penuh tanya, kenapa bisa kebo gundul ini ada di sini.
"Denger kamu pulang hari ini, Dion mampir ke sini dan nemenin Mama nunggu kamu," seakan tau arti tatapan Arin.
"Lo gak mau nih peluk gue?" Dion masih setia merentangkan tangan, sementara Arin tak menggubris sama sekali, dia sangat lelah hari ini.
"Zian, gak masuk dulu?."
"Lain kali aja, Tante. Zian juga harus anter Agatha dulu."
"Ohh ada yang lain juga? Mana dia?"
Zian menyuruh Agatha untuk turun dan memberi salam agar lebih sopan sedikit.
"Halo Tante. Saya Agatha, kakak kelasnya Arin, sepupu Zian juga." Pengakuan Agatha membuat Arin kaget, jadi selama ini dugaannya salah, Arin pikir Agatha adalah pacar Zian karena memang mereka sedekat itu. Arin terkekeh kala dia tau dirinya salah sangka. Ehh tapi sepupu juga kan boleh nikah, kecuali mereka berdua satu darah.
"Tante bisa aja, saya jadi besar kepala sampai gak muat di botol aqua," kekeh Agatha malu-malu.
"Serius loh, bener kan Arin, Dion? Ehh Dion??" Rima kaget karena Dion menganga lebar sampai liurnya netes dikit.
Dion terpesona melihat Agatha pada pandangan pertama, sampai dia tak mampu berdiri dengan kedua kakinya, aura Agatha begitu kuat sampai menembus dinding hati yang sudah lama Dion kunci. Arin akui, Agatha memang secantik itu jadi gak salah kalo Dion natapnya kayak gitu. Untuk kedua kalinya Arin cemburu, dia jadi bete lama-lama di sini.
"Kalo begitu kami pamit undur diri, tante. Arin juga sepertinya lelah." Setelah ini mungkin Arin akan berterima kasih pada Zian.
"Padahal tante mau ajak kalian makan siang di sini," Rima memasang wajah sedih.
"Agatha janji besok kalo ada waktu akan mampir di sini, boleh kan Arin?" Agatha melirik Arin yang cengo.
"Ahh iya-iya, boleh dong. Mau mampir tiap hari juga boleh kok." Semuanya sontak tertawa, kecuali Dion yang pandangannya yang masih belum lepas dari Agatha membuat perempuan cantik ini khawatir.
"Tante, Dion-nya gak apa-apa kan?"
"Tentang saja, Agatha. Dia biasa kayak gitu kalo lihat gadis cantik, paling juga bentar lagi sadar."
Setelah Zian melajukan mobilnya, Arin melenggang masuk untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sepertinya akan remuk sebentar lagi.
"Arin!!! Arin!! Arin!!!" Panggilan dari luar membuat telinga Arin panas, siapa lagi pelakunya kalau bukan Dion, tuh anak heboh banget berlarian menghampiri kamar Arin, langkahnya terlalu kencang sehingga membuat rumah bergetar dan hampir roboh.
"Kenapa sih, sat?. Gue mau istirahat, jangan ganggu!" Arin berdecak kesal kala Dion melompat ke kasur dan duduk bersila di hadapan Arin. Jantung Arin berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya saat tatapannya bertemu dengan manik hazel milik Dion, lelaki itu tampak berbinar dari biasanya, yah Arin senang akhirnya nih anak gak terpuruk lagi. Tapi apa yang membuatnya sebahagia ini? Entahlah, Arin tak bisa menebak yang jelas keadaan jantungnya sedang tidak baik-baik saja, ini baru pertama kali dia bertatapan sedekat ini dengan Dion.
"Ke-kenapa lo?" tanya Arin gugup.
"Gua mau minta tolong sama lo, boleh kan?" ****. Dion menampilkan puppy eyes nya di depan Arin, mana bisa nolak kalo begini.
"Iya udah iya, jangan berlagak sok imut begitu, gue jijik tau gak," Arin membuang muka dengan kesal, padahal jantungnya jedag jedug gak karuan.
"Bisa gak lo bantuin gue deket sama Agatha?"
"Hah? Lo serius?"