
Arin menggaruk dagunya bingung, menatap Laras yang tengah terpejam dengan posisi tiduran di sofa, habis nangis tadi Laras langsung tepar.
"Kalo ngantuk kenapa dateng ke rumah gue sih, bikin repot orang aja, sok-sok an mau bahas masa depan ujung-ujungnya cuma numpang tidur doang," ketus Arin, tangannya meraih ponsel di saku celananya hendak menghubungi Zian.
"Dih apaan, gue gak sudi ya telpon dia duluan, tapi perempuan ini gimana, gak mungkin kan gue biarin dia di sini," Arin menghentakkan kakinya di lantai, kesal karena otaknya gak bisa berpikir.
Suara ketukan di pintu mengalihkan atensi Arin.
"Ini lagi, siapa sih yang dateng, gak tau apa orang lagi uring-uringan, lagian bel pintu ada kenapa pake diketuk segala." Walau tengah ngomel, Arin tetap berjalan menuju pintu sambil mendengus kesal.
"Hello everybody, kangen sama gue gak?" Itu Dion, laki-laki tengil yang belakangan ini jarang kelihatan tau-tau sekarang udah muncul depan pintu, gak ada yang tau kabarnya dia kemana.
"Apaan sih, najis kangen sama lo. Ngapain ke sini? Gue lagi gak menerima tamu," baru saja hendak menutup pintu, Dion menggunakan kakinya untuk menahan pintu tersebut.
"Santai dong, Neng. Gue ke sini tuh mau berbagi cerita sama lo," jelas Dion dengan cengiran khas nya. Entah kenapa Dion kalo senyum tuh manis banget. Arin berdehem pelan lantas membuang pandangan.
"Bagi cerita doang? Makanan ada gak? Minimal bagi tiket konser lah, kalo cerita doang mah gue gak minat," jawab Arin sambil bersidekap dada. Dion mendelik tajam, tak ingin menyahuti ucapan Arin, Dion sedikit mendorong bahu perempuan itu dan melangkah masuk tanpa izin.
"Woy, tau diri dikit dong, main asal masuk aja ke rumah orang," Arin menutup pintu dan berlari menyusul Dion yang berdiri mematung di dekat sofa.
Tatapannya tertuju pada Laras yang masih terlelap.
"Ehh, lo sekap anak siapa?" tanya Dion menoleh pada Arin yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Sembarangan lo kalo ngomong, dia sendiri yang dateng ke sini habis itu tidur," jawab Arin kesal.
"Mana cantik banget lagi, sebelas dua belas lah sama Agatha," kekeh Dion membayangkan sang kekasih, tapi mereka gak jadian ya, Dion digantung sama Agatha wkwk.
"Istighfar lo, jangan mata keranjang, lihat yang bening dikit langsung kepincut, dasar laki-laki pemuja fisik, semua laki-laki sama saja," ejek Arin dengan kata-kata pedasnya.
"Bilang aja lo iri karena lo gak cantik, eh," Dion sontak menutup mulutnya karena salah bicara, jangan tanya ekspresi Arin sekarang, dia langsung terdiam dengan tatapan kosong, hatinya begitu sakit mendengar kalimat Dion, matanya memerah entah karena marah atau hendak menangis, Arin menunduk menatap lantai.
"Arin, sorry. Gue salah bicara, gue gak senga--"
"Keluar!"
"Maaf, Arin,"
"GUE BILANG KELUAR!!!!" Dion memejamkan matanya, Arin kalo sudah marah serem.
"Gue bener-bener gak sengaja. Arin, please maafin gue."
"Pantes lo ngomong begitu? Iya, gue emang gak cantik seperti perempuan tipe ideal lo."
"Bukan gitu, gue tadi cuma salah ngomong," Dion sudah panik melihat bulir bening turun dari pelupuk mata Arin, itu berarti ucapannya pasti sangat menyakiti hati gadis ini. Arin menggeleng lalu tertawa sarkas, mengusap kasar air matanya lalu kembali menatap Dion tajam.
"Tunggu, lo suka sama gue?" tanya Dion, antara senang dan kaget bercampur jadi satu di raut wajahnya. Arin menatap Dion tidak suka.
"Iya, kenapa? Tapi itu dulu, sekarang udah nggak lagi. Apa lagi? Lo mau ejek gue, silahkan, gue gak masalah," ketus Arin saat melihat senyum merekah terbit di wajah manis Dion.
Tiba-tiba saja Dion bertepuk tangan mengundang tatapan bingung sekaligus malu dari Arin, bisa-bisanya dia bicara blak-blakan kalo dulu pernah suka sama cecurut ini, tapi gak apa-apa sih yang penting hati Arin jadi tenang dan damai, lagipula Arin gak akan bertemu Dion lagi kan, ya kan?
"Kenapa lo? Kesambet Fir'aun?"
"Mata lo, gue gak percaya aja sih kok lo bisa suka sama gue, secara kita tuh kayak kucing sama anjing, berantem terus tiap ketemu," jawab Dion. Arin memicingkan mata, benar juga sih apa yang dikatakan Dion.
"Wow, baru kali ini gue dicrush-in sama cewek judes dan pemarah kayak lo, harus dimasukkan ke buku rekor nih," ucap Dion bangga.
"Alay banget. Satu lagi kalo lo lupa, gue judes, pemarah dan juga JELEK," sela Arin dengan menekankan kata 'jelek'. Dion jadi salah tingkah.
Karena mendengar keributan, Laras perlahan membuka mata dan melihat dua siluman tengah menatap ke arahnya.
"A-aku ketiduran ya? Maaf," Laras menguap lebar tapi hal tersebut tidak mengurangi kadar kecantikannya, malah membuat Laras semakin cantik dan imut di mata Dion doang tapi, kalo Arin sih udah buang pandangan karena takut insecure.
"Kamu siapa?" Laras menunjuk Dion, memang terkesan tidak sopan sih tapi yang ditunjuk gak masalah, dengan senang hati memperkenalkan diri.
"Gue Dion, senang bertemu denganmu Bidadari surgaku," ucap Dion sembari mengedipkan matanya. Arin sontak menepuk kepala Dion cukup keras sehingga pemuda itu mengaduh kesakitan.
"Dia pacarnya Zian, gak usah mimpi," ujar Arin.
"Heran gue, kenapa ya Zian dikelilingi oleh perempuan cantik, padahal jika dibandingkan masih gantengan dan kerenan gue," Dion mengetuk dagunya memasang raut berpikir.
"Dih, muka kayak topeng pulu-pulu dibilang ganteng, punya kaca gak lo di rumah, kalo gak punya biar gue beliin." Dion merotasikan bola matanya lalu kembali menatap Laras yang masih bingung dengan situasi.
Tanpa diminta, Dion berjalan mendekati Laras dan duduk di samping gadis itu. Laras mengerutkan dahi.
"Heh babi hutan, jauh-jauh dari dia, lo gak lihat dia ketakutan gara-gara tingkah lo," bentak Arin. Laras sedikit menjauh dari Dion sambil tersenyum canggung.
"Aku kayaknya harus pulang sekarang."
"Ayo, biar Abang yang anterin," ucap Dion dengan mata berbinar.
"Dia lebih tua dari lo, sat," sela Arin.
"Ett dah lo nyambung mulu kek kabel PLN, diem napa sih."
"Mending kamu pulang sekarang aja, bahaya kalo lama-lama sama si babi hutan ini."