
Perempuan cantik tampak duduk di kursi tunggu, menyibukkan diri dengan benda pipih di tangannya untuk mengusir rasa bosan yang menyelimuti. Sudah genap tiga jam ia menunggu, namun orang yang ditunggu tak kunjung datang memberi kabar, sesekali si cantik melirik jam untuk memastikan apakah masih lama lagi ia akan duduk menyendiri di antara orang-orang yang tak ia kenali.
Karena diusik rasa bosan, perempuan itu memilih untuk menghubungi saja biar lebih pasti. Jarinya bergerak mendial nomor telpon yang ia yakini adalah nomor pria-nya. Belum sempat tersambung, netra cantik bak almond menangkap sosok lelaki yang saat ini tengah ia tunggu, berdiri tegap di hadapannya, tatapan lurus tanpa belokan membuat senyum binar terpasang jelas di wajah wanita itu.
Masih dengan senyum berbinar, berjalan pelan penuh kepastian, kini ia sudah berdiri berhadapan dengan pria yang selama ini ia rindukan.
Satu yang membuatnya kebingungan, kenapa pria-nya terlihat datar bukannya senang seperti yang saat ini ia rasakan, bahkan untuk melempar senyum pun enggan.
Hal tersebut membuat perempuan cantik itu mengurungkan niatnya untuk memeluk sang pujaan hati.
"Lama ya nunggunya?" suara berat yang seksi selalu memikat hati terlontar untuk bertanya.
"Gak kok, aku juga baru sampai," jawab si cantik diselingi senyum manis, meski pemuda tersebut tidak percaya sepenuhnya, tetapi ia hanya bisa diam.
"Ayo, kita pulang," tanpa izin, Laras mengaitkan lengannya pada lengan Zian mengajaknya untuk buru-buru balik meninggalkan Bandara yang sudah mulai sepi.
Zian tersenyum canggung lalu menangngguk samar untuk menanggapi.
"Kamu bawa mobil? Wow, aku tidak tau kamu bisa nyetir mobil, biasanya kalo sekolah atau ajak aku jalan selalu pake motor," kekeh Laras tak percaya sekaligus takjub, bocah ingusan yang memikat hatinya ini ternyata jago juga bawa mobil, Laras jadi teringat ucapan Zian yang katanya gak mau pake mobil kalo bepergian bareng Laras, maunya pake motor biar bisa nempel terus gak kayak di mobil duduknya jauhan.
Laras terkekeh pelan kalo mengingat masa lalu sampai gak sadar Zian capek nungguin dia yang tengah menyelami masa-masa indah penuh kenangan.
Laras banyak bercerita dalam mobil saat dirinya berada di London dan Zian menjadi pendengar yang baik sesekali melirik ke arah Laras yang asik membicarakan tentang teman-temannya yang baik di sana. Tak jarang juga Laras menanyakan beberapa hal kepada Zian, seperti : di mana pohon kelapa yang dulu ada di pinggir jalan ini?, rumah kamu cat-nya berubah gak?, di sekolah kamu suka berantem lagi gak?, dan masih banyak lagi yang hanya mendapat tanggapan singkat dari Zian, namun Laras tidak mempermasalahkan itu, baginya Zian diam mendengarkan itu sudah lebih dari cukup.
"Kita puter balik aja, Zi. Aku mau ke rumah kamu dulu," tutur Laras setelah seperkian menit mereka hanya diam. Zian mengernyit bingung, padahal mereka sudah setengah jalan menuju rumah orang tua Laras dan dengan seenak jidat bilang puter balik, heh bensin sekarang mahal ya...
Laras hanya menatap Zian tanpa dosa alias sok polos.
"Kenapa natap aku kayak gitu? Salah ya? Kamu gak mau aku mampir?" Laras memasang wajah muram. Zian memejamkan mata lalu berhenti di pinggir jalan untuk putar mobilnya menuju arah yang berbeda.
Arin baru saja sampai di depan pagar besi yang menjulang tinggi tapi nggak sih tinggi banget, mungkin tiga meter. Arin nekat pergi ke rumah Zian siang-siang bolong dan panas-panasan di jalan cuma buat kembaliin benda yang dua hari lalu Zian kasih ke dia, yap benar sekali kalung dengan liontin bulan sabit warna silver dengan butiran berlian. Alasannya simple aja sih, because Arin tuh gak bisa nerima barang dari seseorang yang harganya melebihi harga dirinya, gak woy canda.
Setelah melihat isi totebag pemberian Zian kemarin, Arin segera menghubungi Rini dan speak up tentang barang dari Zian, Rini tentu saja antusias, yang dikasih siapa yang seneng siapa. Rini maksa supaya Arin spill barang tersebut, dengan songongnya Arin fotoin tuh kalung lalu send ke Rini. Satu menit kemudian, Rini tiba-tiba teriak dari seberang sana bilang kalo tuh kalung edisi terbatas alias limited edition, ehh sama aja gak sih.
Mata Arin membulat sempurna saat tau harganya.
"Gila, mahal banget anjir. Zian dapet duit darimana buat beli tuh kalung, padahal di kantin aja sering minta traktir sama temen osis-nya, alasannya gak ada uang dipinjem Bunda kata dia, kasihan Bunda Riana dijadiin tumbal makan gratis oleh anaknya," ujar Arin tak habis pikir.
"Simpan aja tuh kalung, siapa tau besok lo melarat butuh makan, bisa deh lo jual kalung itu," ucap Rini dari seberang.
"Gue tebas, mampus lo. Lo do'a-in keluarga gue melarat hah? Dan untuk kalung ini gak gue simpen, gue mau balikin ke pemiliknya. Sebenarnya gue agak curiga sih kenapa tuh anak kasih gue beginian, takutnya ini tuh kalung santet, kan banyak tuh perempuan yang dikasih beginian sama pacarnya, ehh besoknya langsung mati."
"Kebanyakan nonton sinetron lo, udah sih pake aja lumayan itu, bego banget jadi orang. Kalo gue jadi lo sih udah gue jual," sahut Rini geregetan. Arin acuh dan masih keukeh sama niatnya untuk kembaliin barang yang emang gak pantes buat dia terima.
Kurang lebih begitulah isi pembicaraan mereka tempo hari, dan di sinilah Arin sekarang masih memandangi gerbang, ragu-ragu buat masuk untuk sekedar ucap permisi.
"Cari siapa neng? Di sini gak nerima lowongan jadi pembantu," tiba-tiba saja seekor ehh seorang security menegur Arin yang masih perang batin antara masuk atau tidak.
Arin melongo, bisa-bisanya remaja gadis nan cantik aduhai ini dibilang pembantu. Arin mau ngamuk sambil jambak rambut pak security yang asal ngomong ini tapi Arin tahan.
"Nggak, pak. Saya mau ketemu temen saya, Zian-nya ada?" tanya Arin walau sudah kesal setengah mati. Bukannya dibukain gerbang malah diajak ngobrol lewat dalem.
"Tuan Zian lagi keluar, kalo gak salah tadi pagi jam 9. Kalo neng ada perlu biar saya yang sampein, tapi kalo mau tunggu di luar juga gak apa-apa, siapa tau bentar lagi balik," ucap security itu sopan, iya, sopan minta ditabok pake sendal swallow. Arin hanya bisa menggerutu dalam hati.
Dari arah belakang, tampak mobil hitam mendekati gerbang, Arin sontak menyingkir dan mencoba menerawang siapa yang ada di dalam mobil itu. Security yang tadinya mau nyebat kembali tertunda dan segera membuka gerbang untuk si pengendara mobil. Arin sudah tau sih itu Zian, tapi tunggu, yang di sebelahnya siapa? Kok Arin gak pernah lihat ya? Ya iyalah gak pernah, dia aja baru balik dari London....
Heh, pada komen aku maksaš¤, ga, bercanda jangan dimasukin hati ataupun jantung nanti sakit Malariaš¤....