Selfish

Selfish
Selfish : 56



Flashback 1 tahun yang lalu


"Bangun lo sialan!!!" Laki-laki dengan emosi yang berapi-api mencoba menarik kembali kerah lawannya yang sudah tidak berdaya di atas tanah dengan darah segar yang tak henti-hentinya mengalir dari sudut bibir dan hidungnya akibat pukulan telak yang dilakukan pemuda itu.


"Gue sudah bilang jauhi pacar gue," kali ini tangannya terkepal kuat hendak memukul kembali laki-laki di bawahnya, namun dengan secepat mungkin tangannya ditahan oleh seseorang.


"Hentikan, aku bilang hentikan!!" Manik pemuda itu kini terpusat pada perempuan cantik yang berurai air mata sambil menahan tangannya. Netra mereka bertemu, tatapan pemuda kian melemah tidak berkilat merah seperti tadi, namun kalimat yang keluar dari mulut perempuan itu berhasil memancing emosinya lagi.


"Aku mencintai dia, Bastian. Jadi jangan halangi perasaan kami, maaf jika kita harus putus." Yap, Bastian. Pemuda dengan amarah menyala dalam dirinya, dengan kasar ia menepis tangan perempuan cantik yang berstatus sebagai pacarnya, namun sekarang tidak lagi karena 'anjing kecil' itu sudah merebut kesayangannya, begitulah Bastian menyebut seseorang yang sudah berani mengusik kebahagiaannya.


"Kau baik-baik saja, Zian?" Laras, perempuan dengan paras cantik dan menawan membantu Zian berdiri dengan luka lebam di sekujur tubuhnya.


Bastian yang melihat pemandangan itu ingin melayangkan kembali pukulannya kepada kedua manusia di hadapannya saat ini, tapi ia urungkan karena bagaimanapun juga Bastian masih mencintai Laras meski wanita itu tak lagi berselera menjalani hubungan dengannya, yahh bukan tanpa alasan. Bastian yang tiap hari kerjanya tawuran antar sekolah jadi jarang sekali memberi perhatian pada Laras, juga sikapnya yang kasar, sering membentak membuat Laras muak, gak jarang Laras juga memergoki Bastian selingkuh dengan teman satu genk nya yang kebanyakan juga isinya perempuan berperilaku buruk, gak jauh beda lah sama Bastian sendiri. Benar, Bastian gak sepenuhnya cinta sama Laras, dia hanya terobsesi, tapi tetap saja Bastian sayang sama Laras dan takut kehilangan dirinya.


Bastian itu orangnya anti romantic, ngajak dating kayak orang ngajak tawuran, asal masuk rumah orang sembarangan terus narik tangan Laras buat keluar. Laras sendiri bingung denvan sikap kekasihnya itu, mau ngajak jalan tinggal bilang doang malah bertingkah. Bilang I love you saja Bastian langsung merinding, bahkan Laras gak pernah tuh dapat kata-kata romantis, miniman 'tidur nyenyak, mimpi indah, selamat malam', gak pernah sekalipun. Kalo telponan ya telponan aja, Laras sampai ngantuk denger Bastian ngoceh sama teman-temannya tanpa mempedulikan panggilannya. Laras juga gak inget bagaimana dulu dia bisa jadian sama Bastian.


Oke, back to the topic....


Zian menarik sudut bibirnya saat matanya tidak sengaja bertemu tatap dengan Bastian yang masih dikendalikan oleh emosi.


Tatapan Zian seolah mengejek, meski wajahnya penuh lebam tetapi Bastian bisa melihat dengan jelas seringai pemuda songong yang notaben adik kelasnya itu.


"Tarik ucapanmu tadi, aku tidak suka mendengarnya," ucap Bastian penuh penekanan.


"Tidak akan, aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Mulai sekarang kita gak ada hubungan apa-apa lagi. Ayo Zian, aku antar ke UKS," Laras menuntun Zian yang terseok seok karena kakinya sedikit patah akibat ditendang Bastian tadi. Laras berjalan menuju UKS tanpa mengundahkan panggilan Bastian.


Jadi, adu jotos ini terjadi di gudang belakang sekolah, dan tepat setelah bel pulang berbunyi jadi gak ada yang sadar jika Bastian dan Zian sedang adu mekanik, sebenarnya Bastian doang sih yang mukul, kalo Zian diem aja dipukulin, mungkin karena dia sadar salah kali ya ngambil pacar kakak kelasnya. Ya siapa suruh si Laras cantik, kan Zian jadi merasa tergoda dan tertantang buat deketinnya meskipun sudah tau Laras udah jadi milik Bastian. Eitss, sebelum janur kuning melengkung, Laras belum sepenuhnya milik berandal itu, batin Zian untuk menyemangati dirinya. Fyi, Zian saat itu baru kelas 10, sedangkan Bastian kelas 11 dan Laras kelas 12. Mereka berdua sama-sama suka berondong wkwk, canda.


.


Berbulan-bulan berlalu, hubungan antara Zian dan Laras semakin nempel saja, bahkan mereka berdua tak segan menebarkan keuwuan di depan siswa dan siswi yang lain sehingga menimbulkan rasa iri dari yang melihatnya. Lain dengan Bastian, walau masih memendam perasaan pada sang mantan kekasih tetapi dia terlihat biasa saja, gak ada rasa cemburu yang ia tampilkan di wajahnya, hanya raut datar yang menemani tiap paginya. Namun, Bastian semakin brutal saja, tak segan-segan memukul orang yang berurusan dengannya bahkan hanya karena masalah kecil, tak jarang Bastian keluar masuk ruang BK karena ulahnya, dan tingkahnya itu berlangsung sampai sekarang.


Hingga tiba waktu kelulusan Laras, dia tak masalah jika harus minggat dari sekolah ini, tetapi orang tuanya berkata lain, mereka mau Laras melanjutkan study nya di London, Laras berusaha menolak tapi bukankah ini keinginannya dari dulu. Meninggalkam Zian bukanlah pilihan yang tepat bagi Laras.


Keputusannya sudah bulat, Laras memutuskan untuk LDR saja dengan Zian, pemuda itu sedikit menolak saat sang kekasih menyampaikan kabar ini karena bagaimanapun juga Zian gak kuat LDR.


"Aku--aku tidak bisa menolak permintaan orang tuaku, ini juga yang aku mau sejak dulu," Laras memejamkan matanya di bawah sinar rembulan, duduk berdua di bangku taman. Laras menatap wajah Zian yang diterpa sinar bulan yang membuatnya berkali-kali lipat lebih tampan.


"Itu impianmu, jadi gak ada salahnya buat digapai. Tapi, aku tidak bisa berjanji jika akan bisa tanpamu," jawab Zian dan langsung mengundang tatapan bingung dari Laras.


"Maksud kamu?"


"Kamu bisa memahaminya sendiri. Ayo pulang, sudah hampir larut," Zian mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Laras.


.


"Ngapa lo? Lemes banget kayak mayat hidup," Agatha menegur adik sepupunya yang lesu saat masuk rumah.


"Ngapain lo di sini?" Bukannya menjawab, Zian malah balik bertanya.


"Suka-suka gue lah," jawab Agatha sambil tiduran di sofa, Zian mendelik kesal hendak menarik paksa Agatha agar perempuan cantik itu pulang.


"Huwaaa, Tante!!! Tolongi Aga, Zian kurang ajar," suara Agatha menggelegar memenuhi sudut ruangan, sehingga seisi rumah keluar kamar melihat situasi.


Riana menghela nafas pelan, dia kira ada apa tadi.


"Tante, ihh. Tolongin, ini anak Tante tarik Aga terus, dia mau usir Aga huwaaa. Padahal cuma mau nginep sehari doang, soalnya Papa sama Mama lagi ke luar kota," rengek Agathat sambil terus mengeratkan pegangan tangannya pada knop pintu, gak mau diusir.


"Ohh mau nginep karena lo takut sendiran, bilang kek dari tadi, lo sih songong banget," Zian menghentikan aksinya lalu berjalan santai seolah tak terjadi apa-apa menuju anak tangga.


.


Keberangkatan Laras ke London hari ini, Zian juga ikut anter Laras ke Bandara. Sebenarnya masih ada waktu dua minggu lagi, baru Laras akan masuk Universitas di sana, tetapi karena orang tuanya yang selalu mendesak, mau tak mau dia harus berangkat lebih cepat, katanya biar gak repot nanti.


"Jangan lupa, kalo sudah sampai kabarin," Zian mengusak pelan rambut Laras yang sudah tertata rapi membuat sang empu berdecak kesal.


"Iya bawel," jawab Laras sambil merapikan rambutnya. Zian terkekeh gemas, perlahan Zian berjalan mendekat mengikis jarak antara mereka. Zian celingak-celinguk dulu lihat keberadaan orang tua Laras yang katanya mau beli oleh-oleh buat anaknya untuk dibawa ke London. Merasa situasi sudah aman, dengan cepat Zian mengecup bibir Laras, hanya kecupan singkat. Mata Laras kian melebar atas perlakuan kekasihnya, namun di sisi lain dia juga senang. Laras seketika membuang muka karena pipinya bersemu merah.


"Kasih aba-aba dulu kek, asal nyosor aja," ucap Laras dengan nada ketus, padahal dalam hati dugun-dugun, Zian cengengesan sambil menggaruk tengkuknya.


Aku buat flashback karena kemarin ada yg komen gak tau permasalahan antara Bastian dan Zian. Awal buat book ini sih gak mau ada konflik antara mereka berdua, tapi karena Bastiannya juga udah kelewatan ya udah deh buat aja xixixi. Yah semoga saja paham dengan isi otakku yang error ini🙂. Tentang konfliknya nyambung gak sih? Dinyambungin aja kalo gak nyambung.