
"Ngelamunin apaan?" Rini mengejutkan Arin sampai membuat bahu Arin sedikit terangkat.
"Gak ada."
"Bagus lah, gue kira tadi lo kesambet jin penjaga meja keramat ini. Nih, dari kak Zian," Rini menyerahkan sebotol air mineral yang katanya dari Zian.
"Buat apa?"
"Buat mandi. Ya jelas buat diminum lah cantik, seumur hidup lo gak tau air mineral di sini dijual untuk apa?"
"Gue tau, tapi kenapa tiba-tiba ngasih air? Gue juga udah punya."
"Tanya aja langsung, noh kebetulan dia lagi liatin lo tuh." Arin berbalik mengikuti arahan Rini. Zian tersenyum tipis menatap ke arahnya, Arin membalasnya dengan senyuman kaku karena dia juga belum paham apa maksud lelaki ini. Cukup lama mereka saling tatap, fokus mereka buyar seketika saat Bastian muncul dengan segala kesongongannya, tanpa permisi langsung duduk di samping Arin dan merangkul bahu gadis itu.
Zian mengeraskan rahangnya, dia lagi, dia lagi. Jika sudah sekali berurusan dengan Bastian jangan harap bebas gitu saja.
"Santai, bro. Kalem, kalem. Gue yakin dia gak akan menyakiti si Karin itu," Rafi menahan tangan Zian yang sudah siap menghampiri meja Arin.
"Arin, setan. Karin, Karin, mata lo," timpal Rangga yang tengah asik makan bakso ceker kesukaan Emak nya, jika sudah dihadapakan dengan makanan, masalah lain akan terabaikan.
Bastian cukup famous juga loh di sekolah ini walaupun kenakalan dan kebandelannya mendarah daging tapi wajahnya menyelamatkan kebiasaan buruknya itu, memang ya prinsip jaman sekarang, lo cakep lo aman.
Arin berusaha menyingkirkan lengan Bastian yang melingkar di lehernya. Tapi, seolah sengaja Bastian malah semakin menekannya agar tambah berat dan itu berhasil membuat Arin menunduk. Bastian tertawa dalam hati melihat Arin yang kewalahan memikul beban tangannya, dia sedikit risih dengan tatapan para siswi yang sebagian kagum dan sebagian lagi takut padanya, padahal dia tidak seberbahaya itu kali. Ini kali pertama semua murid di sekolah ini melihat Bastian menginjakkan kakinya di kantin, biasanya tuh anak akan mendekam di kelas atau nggak nyari masalah di luar area sekolah saking gabutnya.
"Udah sabar aja, Arin gak bakal berpaling dari lo Zian, itu tuh si Bastian cuma caper doang," Rafi yang sudah mulai capek karena dari tadi menarik Zian untuk duduk kembali, kalo dilepas ntar Zian di luar kendali.
Arin mulai tidak berselera makan sejak kedatangan Bastian yang langsung menghancurkan moodnya, yang rusak malah tambah rusak.
"Kak, kalo mau makan sana pesen, aku traktir deh," Rini sejak tadi hanya diam melihat Arin yang tersiksa, baru sekarang dia buka mulut sambil nyengir lagi. Bastian menatap Rini datar, namun tidak menjawab ucapan gadis itu.
"Gue ikut, kebetulan juga ada tugas yang harus gue cari materinya di perpustakaan," Bastian ikut berdiri, tangannya kembali merangkul Arin dengan manis, sengaja lewat depan Zian biar lelaki itu cemburu dan panas karena melihatnya menggandeng Arin yang katanya adalah pacar Zian. Seperti dugaan, rencana Bastian berjalan lancar, persis seperti apa yang dia harapkan, Zian tengah menatapnya tajam, tangannya terkepal ingin menonjok objeknya langsung, Bastian menampilkan senyum mengejeknya dan tetap jalan lurus ke depan.
"Kayaknya, preman sekolah kurang pengalaman itu berhasil rebut Arin dari lo, Zian."
Arin sibuk cari buku paket yang dimaksud guru Ekonominya kemarin, Arin mengumpat kesal karena tak kunjung menemukannya, Rini pun begitu, dia yang kurang paham seluk beluk letak buku hanya bisa ngekor di belakang Arin.
Setelah sekian lama keliling mencari, akhirnya Arin menemukam apa yang dicari nya. Arin berjingkrak-jingkrak bahagia, buru-buru dia menuju meja untuk bergegas mengerjakan tugasnya.
Jam istirahat masih tersisa 20 menit lagi dan Arin masih belum jadi, tugasnya cukup sulit dan susah dimengertti, seingatnya kemarin saat dijelaskan dia memperhatikan dengan seksama tapi kok sekarang otak Arin mendadak ngeblank. Netra Arin tak henti-hentinya menatap ke arah jam dinding, waktu seakan mengejarnya dengan cepat. Bastian yang duduk di meja sebelahnya, melihat betapa gelisahnya seorang Arin. Banyak lembaran yang dia coret hanya untuk mencari jawaban dari satu soal tapi tetap saja tidak sesuai. Bastian berjalan ke meja Arin dan merebut bukunya. Matanya fokus menerawang soal yang baru saja membuat Arin uring uringan. Sudut bibirnya terangkat, bagi Bastian soal macam ini sudah gak jaman dan tentu sangat mudah dalam mengerjakan nya. Tangan Bastian mulai bergerak memegang pulpen dan menulis sesuatu di buku Arin
"Noh, udah jadi tuh. Lagian soal kayak gini bikin lo pusing, kerjain sambil merem doang jadi." Arin memperhatikan jawaban Bastian dan mulai mencocokkan rumusnya dengan yang ada di dalam buku paket. Sangat detail, tidak ada satu rumus pun yang tertinggal. Arin menatap Bastian takjub, tidak menyangka preman satu ini jago Ekonomi, dibalik tingkahnya yang berbahaya ternyata otaknya ecer luar biasa. Arin sungguh tidak bisa menyembunyikan rasa kaget. Rini yang duduk di samping Arin sudah selesai menyalin jawaban Bastian.
"Aww-- kenapa sih kak?" Rini merasakan kepalanya ditotor oleh Bastian, karena kalo Arin yang melakukannya 'kan gak mungkin, walaupun Arin sama jahatnya.
"Hitung ulang hasilnya sendiri, jangan asal tulis jawaban orang. Gue kasih tau Mama, tau rasa lo," ancam Bastian.
"Dih curang main ngadu segala, Mama juga gak akan percaya sama Kakak." Rini menjulurkan lidahnya lalu kembali menulis. Arin menangkap sesuatu yang janggal dari dialog mereka tadi, Rini dan Bastian sudah saling kenal lama sampai bawa-bawa Mama. Tak ingin merusak suasana dan waktunya juga yang mepet, Arin memilih bungkam dan bertanya nanti di kelas pada Rini.
Zian tergesa-gesa menuju perpustakaan, langkahnya berhenti di depan pintu, Zian melihat Arin yang sedang tertawa bersama Bastian seperti orang yang sangat akrab. Cemburu? Tentu saja, hanya saja Zian tak menampakkan rasa itu karena takut dibilang lemah. Tatapan Zian bertemu pandang dengan Bastian, lelaki itu tersenyum licik lalu dengan sengaja merangkul bahu Arin agar Zian melihat semuanya. Ingin sekali Zian meremas wajah Bastian sampai penyok, karena Zian sadar ini adalah perpustakaan, dia memilih pergi dari pada nanti kepancing emosi dan melakukan keributan di sana.
Suara bel memecah konsentrasi mereka. Arin mengajak Rini untuk kembali ke kelas, tak lupa berterima kasih pada Bastian karena sudah bersedia mengajarkannya tentang cara cepat menghafal rumus.
"Gue mau nanha sesuatu sama lo, Rini."
"Pasti tentang gue sama kak Bastian?" Arin mengernyit, sepertinya rasa penasarannya terlalu kentara sampai Rini dapat menebaknya.
"Sebenarnya, kak Bastian itu sepupu gue."