
Tiga bulan berlalu, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Upacara hari ini biasa saja sama seperti biasa, namun ada hal yang Arin tidak sukai yakni ia akan maju ke depan dan disaksikan banyak orang karena Agatha akan menyerahkan jabatannya sebagai wakil ketua Osis, dan namanya terpilih menjadi pengganti Agatha. Arin menatap Zian kesal, karena anak itu lah Arin harus menjadi pusat perhatian, dibanding Agatha yang sudah biasa percaya diri dari lahir, bukan hanya wajahnya yang sempurna tetapi mental nya juga.
Arin hanya berharap waktu berjalan lambat agar acara yang selama ini dia hindari tidak pernah terlaksana, tapi sepertinya harapan Arin tidak bisa dikabulkan.
"Ini gue harus ngapain? Bersikap kayak gimana? Gue belum pernah ngelakuin ini sebelumnya, gue gak mau jadi bahan tertawaan," Arin berusaha tenang tetapi tangannya bergetar hebat membuat otaknya susah berpikir, mau nanya ke Rini tapi tuh anak gak masuk sekolah dengan alasan sakit.
"Yang harus lo lakukan yaitu fokus dan ikuti semua instruksi, jangan mengacaukan semuanya atau lo yang akan nanggung malu. Jangan bicara sebelum disuruh dan jangan tertawa cukup tampilkan senyuman tipis saat sudah berhadapan dengan Agatha, setelah itu lo bisa berekspresi biasa saja asal terlihat tegas, jangan loyo dan jangan lemas seperti orang kurang makan."
Pesan dari Zian jauh sebelum acara dilakukan, awalnya Arin tidak menghiraukan saat Zian kasih petuah kepadanya, namun sekarang dia sangat membutuhkan nya sehingga berusaha memutar kembali ucapan Zian dalam otaknya, apa saja yang perlu dan tidak perlu dia lakukan.
Sepertinya Arin benar-benar mengikuti ucapan Zian dan semua berjalan dengan lancar, Zian yang ada di barisan paling ujung tersenyum bangga sekaligus juga kagum karena Arin bisa menyelesaikan semuanya dalam sekejap, kalimat yang ia ucapkan juga lancar tidak terbata-bata. Acara serah terima jabatan sudah selesai, Arin akhirnya bisa bernafas lega setelah mengucap sumpah.
"Hebat juga lo tadi, gue sampai takjub lihat lo," Bastian menyenggol bahu Arin saat hendak masuk kelas.
"Biasa aja sih menurut gue, mungkin faktor gue gugup jadinya kayak gitu," jawab Arin seadanya, tidak suka dipuji karena hal sepele. Bastian memicingkan matanya lalu bergegas pergi.
"Dia ngomong apa tadi?" Arin gak jadi masuk kelas karena Zian lebih dulu menghampirinya.
"Gak ada, kepo banget lo," ketus Arin.
"Sekarang lo sudah resmi jadi wakil ketua osis, jadi lo harus turuti apa kata gue dan lakukan apa yang gue suruh," Zian menarik sudut bibirnya.
"Gue bukan babu lo ya, enak aja suruh-suruh gue, ohh atau jangan-jangan tujuan lo milih gue cuma mau manfaatin gue doang?" Arin berkacak pinggang, sedikit tersinggung dengan ucapan Zian.
"Bukan seperti itu Arin, memang tugas lo ya dampingi gue kemana pun gue pergi, kalo gue sakit lo bisa gantiin gue untuk sementara," jelas Zian meluruskan kesalah pahaman Arin.
"Tapi lo jangan semena-mena kalo nyuruh, gue turutin lo cuma di area sekolah kan, kalo sudah di rumah gak perlu gue nurut?"
"Ngawur lo, ya iyalah. Bodoh banget sih," Zian menjitak kening Arin, membuat Arin mengaduh kesakitan, hendak membalas pelakunya malah kabur.
"Dasar, Zian Asuu!!!"
"Arin, kenapa kamu berkata kasar hah? Apa ucapan kotor kamu itu layak jadi contoh untuk teman dan kakak kelas mu? Ingat Arin, jabatan kamu sekarang adalah wakil ketua Osis dan tugasnya bukan hanya mengelola organisasi tetapi juga harus memcerminkan contoh yang baik buat yang lain, bukan malah seperti ini, kamu gimana sih?" Guru BK yang kebetulan lewat sehabis dari toilet tidak sengaja mendengar sumpah serapah Arin untuk Zian, jadilah dia diomelin sampai mampus, untung gak dihukum kalo sampai itu terjadi pasti malu banget sih. Arin hanya menunduk ketika mendapat ceramah panjang lebar dari guru BK.
Pelajaran pertama dimulai, baru saja guru menjelaskan materi dari arah speaker terdengar nama Arin dipanggil, siapa lagi yang manggil kalo bukan Zian. Arin melirik teman satu kelas terutama gurunya juga yang tengah memperhatikan ke arahnya.
"Tunggu apa lagi? Burun ke ruang rapat osis, jangan lupa tutup pintu setelah kamu pergi. Baik semuanya, kita lanjutkan," Bu Nila dengan ekspresi datar melanjutkan pembelajaran, Arin buru-buru merapikan buku dan pulpen ke dalam tas kemudian bergegas pergi.
"Kenapa gak tunggu jam istirahat aja sih, gue paling anti bolos jam pelajaran seperti ini," Arin ngedumel sepanjang perjalanan.
Pintu ruangan osis tertutup rapat, jika Arin sudah kehilangan akal sudah ia dobrak pintu di depannha ini sampai bolong, kurus-kurus gini pernah jadi atlet taekwondo dulu, cuma Arin dulu orangnya mager jadi terpaksa berhenti karena ada alasan khusus juga.
"Rapat apaan yang mengganggu jam pelajaran," Arin masih tidak terima jika besok nilai rapotnya di bawah rata rata. Baru saja hendak buka pintu, tangannya ditahan oleh Rangga yang kebetulan juga sedang menuju ruang osis.
"Kenapa sih kak?" Arin menarik tangannya buru-buru dan menatap Rangga malas, yang ditatap hanya cengengesan sambil garuk leher.
"Gue cuma mau tanya soal Rini, kok dia kenapa gak masuk hari ini?"
"Suka ya sama Rini?"
"Kalo gue gak suka ngapain gue nanya Arin, ya iyalah gue naksir sama dia saat awal ketemu."
"Halah bacot buaya darat, uppsss." Arin buru-buru menutup mulutnya, memang lidahnya gak bida dikontrol kalo ngomong, Rangga langsung melotot mendengar ucapan Arin.
"Gue gak kayak Zian ya suka main cewek yah walaupun sekarang sudah berhenti, tapi dulu lo tau gak Zian itu---Mmmpphh," mulut Rangga dibekap dari belakang, siapa lagi pelakunya jika bukan Zian. Arin mendengus kesal, hampir saja dia tau rahasia Zian dari Rangga.
"Lo ngomong apa sama Arin?"
"Mmmpph," Rangga memukul tangan Zian yang masih menempel di mulutnya.
"Anjing, gila ya lo? Kalo gue mati kehabisan nafas gimana? Terus nanti Rini nikah sama siapa? Lo mau lihat sahabat tersayang lo ini mati dalam keadaan jomblo? Mana tangannya bau telur busuk lagi."
"Gak peduli, lo jangan sembarang kalo ngomong, gue bogem juga lo lama-lama. Arin, jangan percaya ucapan dia kalo dia bicara soal gue."
"Halah, palingan lo takut dijauhi Arin, ya kan?"
"Bacot, anak setan." Dan berakhir lah Arin menyaksikan perdebatan konyol dua orang yang sama-sama kehilangan akal ini, rapat pun sedikit terlambat karena aksi saling betot antara Rangga dan Zian.