
Dua insan muda mudi tengah duduk berhadapan di kursi depan supermarket yang memang sudah disediakan di sana. Rasanya canggung sekali terutama Arin yang sudah dag dig dug serrr ketemu sama orang ini. Dia boleh kabur aja gak sih?, gak tahan soalnya.
"Lo tinggal di daerah sini?" tanya lelaki itu sambil terus memperhatikan wajah Arin yang sepertinya enggan menatapnya balik, pandangannya selalu tertuju pada jalan setapa di samping mereka. Untuk mempercepat waktu tanpa bicara, Arin mengangguk saja sebagai jawaban.
"Sama dong, gue juga tinggal dekat sini," ujarnya antusias. What? Arin melotot kaget, kali ini netra mereka bertemu, saling pandang sejenak.
"Ma-maksud lo apa?" tanya Arin gugup. Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya heran dengan pertanyaan yang dilontarkan Arin.
"Apanya? Gue cuma bilang kalo kita satu komplek," jawab lelaki itu dengan senyuman tipis terukir di bibirnya.
'****! Jangan sampai gue salting di sini, aduh kenapa nih orang satu muncul lagi sih, padahal gue sudah membuang rasa suka gue sama dia' Arin memejamkan matanya berusaha mengontrol hatinya yang dugun-dugun dari tadi.
"Yahh selamat untuk lo Dion," jawab Arin dengan keadaan jantung yang masih ingin melompat keluar.
"Lo kenapa? Kayak gak nyaman gitu, gue ganggu waktu lo ya?" tanya pemuda yang bernama Dion ini, sejujurnya dia merasa gak enak.
"Eng-enggak kok, gue free. Hanya saja gue laper, belum makan siang," jawab Arin seadanya.
"Ya sudah kita cari makan, kebetulan gue juga belum makan habis beres-beres barang di rumah," Dion segera berdiri. Arin merutuki dirinya karena salah bicara, padahal dia gak laper sama sekali, dia cuma gak nyaman aja duduk berhadapan sama Dion.
"Ayo, katanya belum makan," teriak Dion yang sudah setengah jalan dari tempatnya tadi. Arin cengegesan lalu berlari menghampiri Dion dan menyamakan langkahnya.
"Gue gak terlalu hafal tempat di sini karena gue baru pindah kemarin, lo tau tempat makan yang deket?" tanya Dion selama perjalanan mencari tempat makan.
"Gue juga gak terlalu hafal sih, tapi setau gue di sebelah sana ada warung bakso, kalo pagi sampai sore jualan di sana, kalo malem baru tuh keliling ke setiap kompleks," detail ya penjelasannya, padahal Dion nanya tempat bukan nanya yang lain, tapi di iyain aja ntar Arin ngambek. Dion hanya ngangguk-ngangguk kayak orang bego, emang bego beneran sih. Udah dijelasin letak tempatnya masih aja nyasar.
"Mang, pesen dua mangkok ya, yang satunya gak pake mie, soalnya saya alergi," ujar Dion menyebutkan pesanannya pada kang bakso.
"Aneh lo, masa alergi sama mie, alergi tuh sama bakso," ucap Arin.
"Lah, lo alergi sama bakso?"
"Enggak."
"Terus? Ngapain bilang gue aneh alergi sama mie?"
"Gak ada sih, gue iseng aja. Lagian lo emang aneh sih, dari dulu alergi lo gak ada yang bener."
"Memangnya alergi harus bener ya?"
"Tergantung sih, kayak gue alergi sama seafood."
"Lo juga aneh, masa alergi sama seafood. Seafood tuh enak loh."
"Lebih aneh lo sih dibanding gue."
"Anehan lo lah."
"Gue gak aneh, lo yang bener-bener aneh."
"Pesanannya sudah jadi, kalo kalian mau debat silahkan di ruang pengadilan, jangan di sini nanti para pelanggan saya pada lari," kekeh tukang bakso tadi lalu pergi menuju gerobaknya. Arin dan Dion saling pandang kemudian beralih menatap sekitar, dan benar saja semua pasang mata tertuju pada mereka berdua.
Selesai dengan acara makan, mereka memutuskan untuk pulang karena Dion yang dari tadi di telpon mulu oleh Mamanya, kalo Arin mah mau hilang juga gak bakalan dicari, hehe becanda.
Mereka jalan beriringan, suasana saat ini sedang mendukung sekali momen mereka. Keadaan mulai canggung, mereka cuma saling diam gak ada yang berani buka suara karena memang gak ada topik yang sesuai.
"Oh iya, tadi gue lihat lo beli es krim deh, gak cair tuh?" tiba-tiba saja pertanyaan dari Dion membuat Arin menghentikan langkahnya, karena pasalnya dia juga baru ingat. Mampus dah es krimnya gak berbentuk lagi. Dengan sigap Arin membuka kantong plastik hitam di tangannya dan memeriksa, ternyata beneran cair banget. Arin mendengus kesal, Dion tertawa lepas.
"Jangan cemberut, besok deh gue traktir es krim yang banyak, itung-itung sebagai permintaan maaf gue karena ini semua salah gue," kekeh Dion.
"Gak usah, gue masih punya kulkas buat bekuin nih es krim."
Akibat kesal, Arin jadi tidak fokus pada jalanan, sampai dia tidak sadar menginjak sebongkah batu kerikil cukup besar dan membuatnya tersandung hampir jatuh, jika saja Dion tidak sigap saat itu, sudah dipastikan wajah Arin akan tergores kasarnya aspal jalanan.
"Astaga Rin, kalo jalan liat-liat dong," Dion segers membantu Arin berdiri. Arin sendiri bengong gak ketolong, ini antara malu atau salting entahlah gak tau. Asikkk, CLBK gak nih???..
"Gue jadi teringat sama kejadian satu tahun yang lalu, saat lo sedang fokus lihatin gue sampai-sampai lo kesandung batu, persis banget sama yang terjadi sekarang," Dion terkekeh jika mengingat kejadian itu, Arin membuat satu sekolahan panik dengan tingkahnya.
"Gue tipe orang yang gak suka bahas masa lalu," gerutu Arin, kalimatnya terdengar sarkas. Dion mengatup kembali bibirnya, khawatir dengan perubahan aura wajah Arin.
"Sorry, gue cuma nostalgia aja, gak bermaksud lain," Dion mengusap tengkuknya, jadi tidak enak.
"It's okay, gue juga gak mempermasalahkan itu," Ari itu di luarnya aja sok cool padahal dalam hati pengen ngereog aja rasanya, jantungnya udah di ujung tanduk pengen lompat.
"Ini rumah lo?" tanya Dion setelah mereka berdua sampai depan rumah Arin.
"Iya, kenapa? Jelek yah?" Arin nanya balik.
"Lo gila, jelek dari mana, ini sih perfect banget, udah kayak rumah kartun-kartun itu."
"Anjir, lo pikir rumah gue cuma ilusi? Ini real woyy, lihat gue bisa pegang temboknya."
"Bukan itu maksud gue, modelnya kayak rumah yang ada di kartun," Dion meluruskan sekali lagi, susah memang ngomong sama orang yang otaknya lemot.
"Ya sama aja lo ngira rumah gue kayak ilusi," Arin gak mau kalah walaupun dia sudah paham omongan Dion. Dion angkat tangan, gak mau lanjutin perdebagan yang gak akan pernah selesai ini, mending dia ganti topik.
"By the way, kita tetangga loh. Rumah gue ada di samping rumah lo," Dion menunjuk ke arah kiri.
"Gue gak nanya, udah sana pulang!" Arin berlari masuk dan segera menutup pintu rapat-rapat, Dion tertawa melihatnya. Arin mengintip dari jendela, melihat apakah Dion masih jadi patung depan rumahnya.
Dion mulai melangkah pergi, meninggalkan halaman depan rumah Arin.