Selfish

Selfish
Selfish : 08



Arin berlari kecil di koridor sekolah mencari di mana letak kelas barunya, sudah keliling dari tadi tapi gak ketemu, salahin guru kepseknya gak naruh daftar nama di jendela, murid auto bingung nyari kelas mereka.


Keadaan sekolah sangat sepi, terhitung mungkin hanya dia murid yang baru tiba, ya gimana gak sepi si Arin datangnya jam 6, sedangkan sekolah masuk jam 7, kebiasaan para murid yang lain nunggu bel dulu baru buru-buru masuk. Arin menuju kantin, tadi dia belum sarapan soalnya Papanya Arin harus pergi ke kantor karena ada rapat penting, terpaksa Arin ngekor berangkat pagi padahal dalam hati dia menggerutu pengen tidur lagi.


Arin memesan makanan untuk sarapan, lumayan mahal di sini, yah namanya juga sekolah elit. Untung bawa uang lebih, kalo kurang kan malu harus ngutanh dulu. Kayaknya uang jajan Arin sehari cuma cukup buat sarapan.


Sambil makan Arin main hp untuk menghilangkan suasana sepi.


Saat asik makan, dari belakang bahunya ditepuk oleh seseorang hampir saja membuat nasi yang ada di mulutnya menyembur keluar karena kaget. Arin menoleh dan menatap sinis orang itu.


"Masih pagi kok minum es? Gak baik loh buat lambung lo," ujar seseorang itu lalu tanpa izin duduk di samping Arin bersama geng nya. Arin mengernyit heran, repot banget nih orang ngurusin orang.


'Kok dia yang sewot sih, lambung-lambung gue juga' batin Arin dalam hati.


"Ehh kita ganggu lo sarapan ya?" tanya Zian lagi setelah mendapat pelototan tajam dari Arin.


Arin mengunyah pelan-pelan sisa makanannya tadi dan menelannya dengan cepat.


"Eng-enggak kok, gak ganggu. Saya sudah selesai," Arin segera meneguk es jeruknya kemudian membereskan bekas makannya lalu pergi, menghilang dari hadapan geng rusuh itu yang katanya panutan sekolah.


"Udah tau ganggu malah nanya lo, pake ngajak kita segala lagi, kayak gak ada kerjaan aja lo ganggu anak orang," Rafi misuh-misuh kesal.


"Bener, tujuan lo apa sih deketin tuh anak?" tanya Rangga menimpali.


"Deketin apaan, gue cuma berusaha mengakrabkan diri dengan murid baru di sini," jawab Zian santai.


"Dih keliatan bohongnya, kalo mau mengakrabkan diri jangan sama Arin doang dong, noh salah satu fans fanatik lo juga mau disapa kayaknya," tunjuk Agatha ke arah lapangan. Zian mengikuti telunjuk Agatha dan menemukan Nayla si cewe gila itu sudah di sana menatapnya dengan tatapan nya yang membuat Zian merinding.


"Kalo dia mah gue angkat tangan, gue gak mau berurusan sama dia lagi," Zian berlari menuju kelasnya disambut tawa ngakak dari ketiga temannya.


Arin menggeram kesal kala si ulat bulu mulai memasuki kelas yang sama dengannya.


"Ehh di sini kosong ya?, boleh duduk gak?" tanpa menunggu persetujuan Arin, Nayla langsung nyelonong duduk di sebelah Arin. Kebetulan Arin milih meja paling depan soalnya kalo paling belakang suka gak konsen kalo dengar guru menjelaskan, biasalah bisikan setan.


Selama di dalam kelas, tidak ada pembelajaran sama sekali hanya perkenalan guru dan murid, itu saja yang dilakukan sampai jam istirahat. Jujur Arin tidak suka sesi perkenalan seperti ini, harus maju satu satu ke depan untuk memperkenalkan diri, Arin benci jadi pusat perhatian jika sudah begitu badan Arin akan gemeteran, tapi untungnya tadi bisa ia tahan.


Bel jam istirahat mulai berbunyi disambut sorakan dari seluruh murid kecuali Arin yang biasa-biasa aja. Yang lain langsung berhambur keluar kelas kayak anak SD, sementara Arin diam di kelas. Sudah gak ada lagi uang buat digunakan untuk membeli jajan karena semua sudah habis dia pake buat sarapan tadi pagi.


Kelas mulai kosong dan sepi, Arin lumayan bosan dalam keadaan seperti ini.


Jam menunjukkan pukul 12 siang, disaat itu pula bel pulang berbunyi, sekali lagi diiringi dengan sorakan yang memekakkan telinga dari para murid yang bahagia karena sudah waktunya untuk kembali ke rumah.


Setelah kelas kosong, Arin menghampiri salah satu guru yang terakhir masuk tadi kebetulan belum keluar kelas, masih asik chattingan dengan pacarnya.


"Bu, saya boleh minta tolong nggak?" Arin bertanya dengan ragu takut gurunya keganggu olehnya.


"Hmm Arin ya? Boleh, mau minta tolong apa?" Guru muda dan cantik itu mengalihkan atensi sepenuhnya pada Arin, menatap lekat manik mata gadis itu, tatapannya begitu teduh dan lembut membuat rasa canggung Arin menghilang begitu saja.


"HP saya lowbat, saya mau telpon Papa saya, boleh pinjam ponsel Ibu sebentar?"


"Tentu saja, kamu hafal nomor Papa kamu?" pertanyaan yang membuat Arin mengerutkan dahi, mana mungkin kan dia tidak hafal nomor Papanya, walaupun kebanyakan anak seperti itu termasuk saya hehe...


Guru cantik itu dengan senang hati menyerahkan ponsel miliknya kepada Arin. Arin menjauh sedikit dan berdiri dekat pintu. Tak berselang lama, dia kembali dan menyerahkan ponsel gurunya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih sebelum pergi.


"Panas banget, heran. Kenapa ya di Indonesia gak ada musim salju, kan enak bisa buat olaf," Arin menyusuri koridor sambil bergumam.


Di sepanjang koridor, Arin tidak sengaja berpapasan dengan salah satu guru laki-laki yang Arin tidak kenal karena tidak pernah masuk ke kelasnya, sebagai murid yang baik Arin tetap menyapa dengan sopan.


"Hey, kamu kelas berapa?" Arin berbalik ke belakang karena guru laki-laki tadi terdengar memanggilnya, kenapa Arin berfikiran seperti itu? Ya karena gak ada orang lain selain dia di sini.


"I-iya Pak, saya baru masuk sekolah hari ini," jawabnya.


"Ahhh kebetulan, Osis di sini lagi cari anggota baru, saya lihat kamu sepertinya cocok. Sistem di sini gak pake pemilihan suara, kalo mau pilih anggota Osis harus guru yang pilihkan, jadi saya pilih kamu. Ini, isi formulir dengan biodata kamu habis itu antarkan ke ruang Osis mumpung mereka semua masih ada di sana."


Arin menelan ludahnya kasar, dia ingin bersekolah dengan tenang tanpa terlibat dalam organisasi apalah itu.


"Tapi Pak, saya tidak berminat untuk..."


"Sudah, sudah. Semakin lama kamu juga akan terbiasa, ini juga untuk menambah nilai kamu loh," jelasnya lagi kemudian berlalu pergi setelah Arin menerima kertas tersebut.


"Bisa disobek gak sih? Gue pengen ngamuk," gerutunya, tapi tangannya tetap menulis apa yang disuruh di atas kertas itu.


"Semoga aja gue gak kepilih walaupun dipilih oleh guru, mager banget harus keliling sana sini, belum lagi rapat yang harus dihadiri, gimana mau masuk pelajaran kalo kayak begini terus, gak tau apa kapasitas otak gue kurang buat nerima pelajaran, lah ini malah disuruh ikut beginian."


Waktu menulisnya digunakan untuk ngomel sepanjang perjalanan menuju ruangan Osis.