Selfish

Selfish
Selfish : 41



"Mall kuy sepulang sekolah," suara antusias Rini berhasil memecah lamunan Arin yang entah sedang memikirkan apa. Masih tersisa satu mata pelajaran lagi dan bel pulang akan berbunyi.


"Gak ahhh, duit gue lagi koma," sahut Arin membuat Rini cemberut.


"Lo gak ada persiapan sama sekali ya untuk bahan praktikum minggu depan," akhirnya ada cara buat ngajak Arin sesekali keluar rumah. Arin merenung, benar juga apa kata Rini, setelah menimang-nimang sebentar akhirnya Arin setuju.


"Oh iya, kapan acara pensi sekolah yang katanya bakal diadakan sebentar lagi? Gue udah gak sabar," Rini menghentakkan kakinya di lantai dengan ekspresi antusias.


"Gak tau tuh, katanya diundur lagi."


"Astaga, padahal gue mau lihat kak Rangga tampil, pasti keren banget," pikiran Rini sudah melayang membayangkan Rangga di atas panggung dengan gitarnya lalu menyanyikan lagi romantis sambil menatap Rini, kurang lebih begitulah isi otak gadis cantik itu.


Arin bergidik ngeri menyaksikan kebucinan sahabatnya, sampai segitunya. Arin sampai lupa bahwa tugas rangkuman minggu lalu belum dia antar.


"Mampus gue kena omel lagi," sungut Arin seraya mencari-cari di mana buku Sosiologi miliknya.


"Cari apaan lo?" tanya Rini yang heran, sambil ikutan nyari juga.


"Buku Sosiologi gue, aishh gue pasti lupa bawa," Arin mengacak rambutnya frustasi, padahal sudah jelas sekali dia ingat sudah memasukkan buku dengan motif kuda poni ke dalam tasnya, tapi kenapa jadi tiba-tiba ngilang.


"Gak ada pelajaran Sosiologi hari ini, ngapain lo bawa bukunya?" Maklum Rini gak tau soalnya minggu kemarin dia gak masuk sekolah.


"Daripada lo ngoceh gak jelas, mending bantu gue nyari, tugas itu harus dianter hari ini, jangan sampai gue lupa bawa bisa bertambah nanti." Rini mengangguk cepat kemudian berlari ke arah meja yang lain siapa tau ada yang sengaja nyembunyiin biar Arin kena hukum lagi. Tapi sayangnya sama sekali tidak ada.


"Apa iya gue lupa bawa?" Arin berusaha mengingat-ingat, sudah jelas-jelas Arin memasukkan buku itu sebelum menjelang pagi karena takut buru-buru dan bisa berubah fatal jika saja dia lupa.


"Mungkin aja sih, karena di sekirar sini memang gak ada, coba lo cari di rumah," usul Rini namun tidak ditanggapi oleh Arin. Gimana mau cari di rumah sedangkan dia pulang aja gak ada yang jemput.


"Hai, cari ini ya," suara dari pintu membuat keduanya menoleh dan mendapati Nayla menenteng buku gambar kuda poni milik Arin.


"Ehh iya itu buku gue," wajah Arin berbinar dan berlari menghampiri Nayla. Tetapi dengan sigap wanita itu melempar buku Arin je arah bak sampah yang penuh dengan bekas air sehingga kemungkinan besar buku Arin terkena cipratan air.


Arin melotot kaget melihat pemandangan yang sangat mengundang emosinya muncul.


"Ups, tangan gue licin, maaf ya Arin," Nayla dengan wajah mengejeknya menepuk bahu Arin sambil memasang raut bersedih.


Arin lantas berlari menghampiri bukunya yang terselip diantara sampah-sampah plastik. Dan sialnya, buku Arin basah dan tepat pada rangkuman yang dia tulis.


Nayla masih berdiri pada tempatnya, memperhatikan Arin dengan tatapan remeh dan puas. Bahunya tiba-tiba saja didorong oleh Rini yang ternyata semenjak tadi melihat kejadian itu, membuat matanya sakit.


"Apaan sih lo ******, gak usah ikut campur deh, mending urus orang tua lo yang katanya selingkuh," kata-kata Nayla berhasil membuat Rini marah, dan bagaimana bisa dia tau masalah keluarganya yang selama ini ia simpan rapat-rapat.


"Kenapa? Mau nampar gue? Sini-sini, tampar aja sepuas lo," Nayla menunjuk pipinya kala Rini sudah siap mengangkat tangannga hendak menampar mulut kurang ajarnya itu.


"Lo gak usah pikirin semua ucapan perempuan ular itu, dia hanya sok tau," Arin berusaha menenangkan Rini yang menelungkup di atas lipatan tangannya, bahunya naik turun karena terisak.


Rini mengangkat kepalanya dan menatap sendu manik mata Arin berusaha mencari ketulusan dari kata-kata nya tadi.


"Gue juga berharap begitu, Arin. Gue harap semuanya bohong dan orang tua gue kembali seperti semula lagi," Rini mengusap air matanya kasar, nangis memang tidak ada gunanya tetapi dengan menangis semua masalah terasa lebih ringan.


"Dua orang lemah saling menguatkan, lucu sekali bukan," ejek Nayla kala memasuki kelas bersama dua peliharaan nya. Rini menoleh, menatap Nayla nanar, tersirat sebuah kebencian dalam manik kelam Rini.


Pelajaran terakhir tidak ada guru jadi mereka sibuk berkeliaran kesana kemari sambil menunggu bel pulang, ada yang gibah, ada yang makan, ada yang tidur, ada yang gangguin satu sama lain dan banyak lagi.


"Jangan hiraukan, apa pun yang dia bilang gak usah lo pedulikan," Arin berbisik agar emosi Rini tidak tersulut soalnya ngerti banget kesabaran Rini tuh tipis kalo sudah menyangkut orang terdekatnya. Rini menarik nafas perlahan kemudian mengangguk, lalu merubah posisinya kembali menghadap Arin.


Nayla yang merasa diabaikan mendecih pelan, dia masih belum puas mengerjai Rini dan Arin.


"It's okay, kita lihat saja sampai kapan pertahanan kalian berdua, dasar lemah," ucap Nayla seraya kembali ke bangkunya.


.


.


"Arin, i'm coming," suara teriakan Rini dari luar rumah sambil membuktikan klakson mobil membuat para tetangga berbondong-bondong keluar rumah melihat apa yang sedang terjadi. Arin merasa gak enak dan segera keluar kamar untuk memarahi Rini karena gara-gara dia satu komplek heboh.


"Bisa diem gak lo, lihat noh tetangga sebelah sampai mengumpat gara-gara tingkah aneh lo," kesal Arin.


"Ya sorry, habis lo lama banget, sampai lumutan kita nunggu."


"Kita? Lo bawa siapa?" Arin merasa janggal dengan perkataan Rini.


"Tadaa!!!! Gue bawa bang Bastian untuk menemani kegiatan belanja kita hari ini," Bastian menyembulkan kepalanya sambil memasang senyum konyol yang membuatnya terlihat menggemaskan.


"Kenapa lo ngajak dia sih?" bisik Arin, sejujurnya dia ngerasa gak nyaman.


"Kalo gue gak ajak dia siapa yang bawa mobil, lo kan tau gue gak bisa nyetir dan berakhir kita naik becak nanti, mumpung dia juga gak ada kegiatan lain jadi gue ajak deh, awalnya sih dia nolak tapi waktu gue sebut nama lo gak pake lama dia langsung menyambar kunci mobilnya," jelas Rini yang sontak mendapat geplakan sayang dari Bastian. Arin tersenyum canggung kemudian menuju kursi belakang.


"Arin, pindah!! Rini, lo di belakang! Cepat!!" Titah Bastian yang diterima dengan senang hati oleh Rini.


"Gue gak apa-apa kok duduk di belakang," tolak Arin.


"Udah, gak usah ngebantah," Rini menarik tangan Arin agar segera keluar agar pindah tempat duduk, terukir senyum puas di wajah Bastian saat Arin duduk di sampingnya. Dasar modus.