Selfish

Selfish
Selfish : 52



"Siapa sih lo? Lepas gak?" Nayla memberontak sambil terus menarik pergelangan tangannya yang mulai sakit karena cengkraman Dion sungguh luar biasa. Dion seakan tutup telinga mendengar ringisan Nayla, tatapannya tajam setajam silet, seakan tidak suka dengannya.


"Dion, lepaskan tangannya!" Kali ini Arin yang bersuara, fokus Dion teralihkan dan pandangan mereka bertemu, dengan perlahan Dion melepaskan tangan Nayla.


Nayla mengusap pergelangan tangannya yang memerah, kemudian berlalu pergi. Oke, anggap saja dia kalah kali ini, mungkin lain kali dia bisa membalas Arin lagi, ingat ya Nayla belum puas kalo Arin gak terluka.


"Kenapa lo ada di sini?" tanya Arin dengan dahi mengkerut. Biasanya siswa dari sekolah lain dilarang keras menginjakkan kakinya ke sekolah elit ini, kecuali diundang atau bisa jadi juga mereka asal terobos tanpa diperiksa dulu sama satpam sekolah.


"Emang gak boleh ya?" Dion bertanya balik, menatap Arin serius seolah gak ada beban.


"Ya gak boleh lah, lo kan bukan siswa sini," sahut Rini yang juga tak kalah heran dengan kehadiran Dion yang tiba-tiba, secara dia juga gak pernah lihat Dion di sekolah ini. Mana pakaiannya rapi banget kayak mau ke kondangan, pakai kemeja kotak-kotak warna hitam dan celana jeans warna hitam, kayaknya Dion kesasar nih.


Dion memutar bola matanya malas, tak menghiraukan ucapan Arin dan Rini yang seolah protes dengan kehadirannya di sini.


"Mau kemana lo?" teriak Arin kala Dion melewatinya begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya. Merasa tak digubris, Arin berniat mengejar Dion yang mulai memasuki tempat acara, tapi bukan ke panggung melainkan ke pameran lukisan yang ada di sebelah barat.


Buru-buru Rini mencegat pergerakan Arin sambil menggeleng.


"Udah, biarin aja itu jadi urusan satpam sekolah, kita gak perlu ikut campur," Rini kembali menarik Arin menjauhi gedung sekolah.


"Tapi tuh anak lumayan berbahaya loh, siapa tau dia utusan sekolahnya untuk buat masalah di acara pensi kita," cegah Arin dengan wajah yakinnya, padahal Dion tinggal dekat rumahnya masih saja ia curigai.


"Heh, gak ada istilah kayak gitu ya, mungkin saja dia ada yang undang, dan kita gak tau itu." Arin mendesah pelan, ucapan Rini ada benarnya juga, mungkin dia datang bersama Agatha begitu pikir Arin, kan mereka sudah menjalani hubungan.


.


Tepat pukul 10 malam, acara yang sudah mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba, yakni group band yang isinya cowok ganteng dan famous akan tampil di atas panggung untuk penutupan acara, sengaja banget ditampilin paling akhir agar penonton gak bosen dan mengantuk. Dan benar saja, yang lain masih diam di tempat tanpa merubah formasi mereka sama sekali.


Sorakan demi sorakan terdengar bahkan sampai luar gedung sekolah suara heboh mereka masih kedengeran.


"Arin, buruan udah mau mulai," Rini menggoyangkan bahu Arin heboh, gak sabar banget orangnya mau lihat cowok tampan, padahal udah punya Rangga tapi masih aja kepincut cowok lain.


"Bentar, seblak gue belum habis, mubazir kalo dibuang," ucap Arin kembali memakan seblaknya yang tinggal setengah di mangkok, tapi cara makannya tuh pelan banget kayak gak niat, hal inilah yang membuat Rini geram pengen seret Arin kembali ke lapangan.


Rini tak punya pilihan lain, alunan musik lembut mulai terdengar di telinganya, tanpa pikir panjang dengan kasar dia menarik tangan Arin sampai seblak yang Arin makan tumpah, untung gak sama mangkoknya.


"Tolonglah, Arin. Sekali ini doang gue kasar sama lo, ini demi masa depan gue," ujar Rini seraya terus berlari tak mempedulikan Arin yang berontak minta dilepas.


"Masa depan bukan soal nikah doang ya, yang gue maksud tuh kalo gue gak lihat group band itu gue bakal penasaran seumur hidup dan menyesal banget karena gak nonton mereka, secara mereka tuh ramai banget jadi perbincangan di kalangan siswa siswi yang lain," Rini menghentikan langkahnya sambil menjelaskan, Arin berdecak malas, Rini kalo cerita tuh aura lebaynya langsung keluar.


Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di panggung.


"Tuh kan sudah ramai, awalnya tempat gue tuh paling depan, gara-gara lo sih lama makanya tempat kita direbut orang," Rini merenggut kesal, kini posisi mereka berdua berada di barisan paling belakang. Arin gak terima disalahain, orang dia dari awal gak tertarik sama yang namanya group band, mau isinya cowok ganteng semua Arin sih gak terlalu peduli.


"Ribet banget, dari sini juga masih kelihatan kali," ketus Arin, memang masih bisa terlihat namun tidak terlalu jelas, bagi Rini.


"Tapi gue mau video in anjir."


"Ya udah video dari sini aja."


"Gak bisa, hasilnya gak bakal bagus."


"Mumpung mereka belum naik panggung, jadi bisa lah kita terobos." Arin menaik turunkan alisnya, mengajak Rini menerobos kumpulan manusia di depannya ini. Rini sebenarnya setuju-setuju aja tapi masa iya dengan badan mereka sekecil ini mampu dorong-dorongan.


Arin dan Rini berhasil sampai di posisi paling depan walau menerima pandangan tidak suka serta bisikan gak mengenakkan dari yang lain, mereka tidak peduli yang penting bisa ada di paling depan.


Suara MC menggema di speaker, tanda bahwa pertunjukkan band yang katanya famous itu akan tampil saat ini juga, Rini ikut bersorak mengikuti yang lain, Arin menutup telinganya karena berisik.


Lampu tiba-tiba mati, bahkan lampu panggung pun demikian, semua berteriak histeris karena tidak bisa melihat apapun.


"Mereka sengaja apa gimana sih? Gak elite banget cara ngeprank-nya, pake mati lampu segala," ucap Arin gak suka, sementara Rini sudah dari tadi memeluk lengannya karena ketakutan, Arin yang risih berusaha melepaskan pegangan tangan Rini yang kian mengerat di lengannya.


Tiba-tiba lampu langsung menyala, lima lelaki di atas panggung mencuri perhatian semua orang karena memang lampu panggung dan lampu sorot saja yang nyala. Arin menajamkan penglihatannya.


"Kok kayak kenal ya?" Arin terjengit kaget kala penonton yang lain berteriak kembali, terutama Rini yang sudah siap dengan kameranya.


"Ehh itu bukannya cowok tadi ya, kalo gak salah namanya Dian, tetangga lo itu?" tanya Rini pada Arin yang masih fokus menatap ke arah panggung.


"Lo denger gue gak?"


"Iya gue denger, dari tadi gue juga nyadar itu Dion, tapi bukan dia yang gue perhatiin tetapi cowok yang di sebelahnya, kok kayak gak asing, kenapa pake masker sih, bikin orang penasaran aja," ucap Arin, cowok yang buat Arin penasaran itu adalah seorang keyboardist, kebetulan ada di samping kanan Dion yang notabennya adalah vokalis dalam band itu.


"Iya ya, kok porsi tubuhnya kayak kak Zian."