
Belum mulai acara Arin sudah bete duluan, ini semua gara-gara Nayla, lantaran cara berpakaian Nayla and the genk yang sudah kayak mau pergi shopping ke Mall ehh gak deh, kayak mau pergi ke klub malam. Bukan karena Arin sewot atau gimana, cuma gak enak untuk dipandang mata dan membuat matanga sakit, mana warna warni lagi, belum lagi pandangan para lelaki mata keranjang yang tak lepas-lepas memandang lekuk tubuh mereka karena baju tersebut ketat sekali sehingga membentuk tubuh nya.
"Mereka niat camping gak sih? Mau masuk hutan pake baju begituan, apa gak risih?" Arin ngedumel gak jelas. Tiba-tiba Rini menepuk punggungnya dari belakang.
"Lo kenapa sih, dari kejauhan gue perhatiin muka udah kayak cucian yang belum disetrika, ada apa sih?" tanya Rini seraya merangkul bahu Arin, dia kebetulan baru datang karena harus nunggu Bastian dulu, katanya mau bareng yah lumayan tumpangan gratis, kapan lagi bisa dibonceng seorang Bastian yang penggemar nya hampir menyamai Zian, berandal-berandal begini banyak yang suka.
"Lo perhatiin aja sendiri," Arin menunjuk dengan bibirnya ke arah Nayla yang tengah tebar pesona, mereka sama sekali gak risih dengan pandangan lelaki, malah mereka menyukainya, Arin gak habis pikir.
Kalo dilihat-lihat mereka memang sengaja menarik perhatian, apalagi Nayla yang sudah jelas gerak geriknya mau menggoda Zian. Saat Zian mendekati barisan mereka, Nayla langsung merapikan rambutnya, tapi sayangnya Zian gak peduli, tatapannya malah fokus ke arah Arin dengan wajah kesal, Zian melemparkan senyuman manis ke arah Arin sebelum kembali mengatur barisan para siswa.
Arin menunduk malu, wajahnya panas, gak tau entah semarah apa pipinya sekarang. Tapi tidak, Arin gak boleh baper kan di hatinya cuma ada Dion, padahal Arin sudah dikasih bukti kalo Dion itu sengklek, seharusnya Dion tuh cocok jadi temen gosip soalnya asik, tapi eh tapi kalo Dion udah nunjukkin sisi cool-nya, dijamin pada klepek-klepek termasuk Arin yang sudah pernah lihat sisi lain bocah random itu.
Speaker sudah berbunyi memerintahkan semuanya untuk segera menaiki bis dengan teratur dan sesuai barisan. Murid nya cukup banyak jadi mereka menggunakan sekitar 7 bis dan biayanya semua ditanggung sekolah, enak banget ya gak perlu ngeluarin, maklum lah sekolah elit.
Arin kembali bete karena harus satu bis dengan geng nya Nayla, mana jarak kursi mereka deketan lagi. Arin duduk bareng Rini, Bastian ada di belakang mereka, sendirian karena gak ada yang berani duduk dengannya, bisa-bisa kena bogem ntar dari berandal itu. Bastian tentu merasa bebas, duduk sendiri gak ada salahnya bisa tiduran macam-macam gaya. Tapi sebenarnya dia mau duduk bareng Arin tapi Rini melarang.
"Heh, geseran!!" Bastian mendongak dan menatap Zian sudah berdiri di sampingnya.
"Apaan sih lo, sana pindah!!" Bastian mengangkat kakinya hendak menendang Zian.
"Banyak bacot lo," Zian mengangkat kaki Bastian sehingga membuatnya terduduk, tidak lagi pada posisi tidurannya.
"Semua bis penuh, kebetulan kursi lo kosong, kalo mau protes sana ke kepala sekolah," seakan tau kekesalan Bastian yang akan memakinya, Zian menjelaskan dengan santai sambil memasang earphone nya untuk mendengarkan lagu. Bastian berdecak kesal dan lebih memilih diam, sebenarnya dalam hati dia ingin menonjok Zian tapi niat tersebut diurungkan, soalnya berantem di dalam bis gak asik, gak leluasa buat mukulin lawannya.
Nayla begitu senang karena dua cowok ganteng duduk bersebelahan dengannya, kesempatan ini lah yang dia manfaatkan untuk tebar pesona.
"Kenapa tuh cewek?" Bastian tidak sengaja melihat tingkah Nayka yang menurutnya sangat aneh.
"Lo ngomong sesuatu?" Zian melepaskan earphone dan menatap Bastian.
Meraaa diabaikan oleh Zian tak membuat semangat Nayla pupus, masih ada Bastian yang senantiasa memandanginya, Nayla pikir mungkin dia berhasil mengambil hati Bastian, tetapi jauh dari pikiran Nayla justru Bastian menganggap tingkah Nayla adalah hiburan agar gak mengantuk.
"Huh, konyol sekali. Malah lanjut bertingkah tuh cewek," Bastian menggeleng pelan lalu bersandar pada jendela.
Perjalanan yang mereka tempuh lumayan jauh, hal tersebut membuat mereka semua bosan. Zian baru sadar jika di kurai depan ada Arin dan Rini. Zian menoleh ke samping, Bastian tampak lelap tertidur. Zian mencolek bahu Rini, minta tukar tempat duduk.
"Apa kak?" tanya Rini.
"Tuker posisi, cepet!!" Rini iya-iya saja lalu segera pindah, Arin juga sepertinya bosan, dia tertidur dengan bersandar di jendela bis. Zian memperbaiki posisi nya lalu menarik kepala Arin untuk bersandar di bahu lebar nya, pergerakannya sama sekali tidak mengganggu malah tuh anak makin nyenyak tidurnya, Zian tersenyum senang. Zian berharap, bis ini akan melaju dengan sangat lambat agar mereka gak nyampe-nyampe ke tempat tujuan. (Begini nih kalo udah bucin sama ayang, mau ke Jupiter pun Zian gak akan ngeluh).
Akhirnya sampai juga, butuh satu jam dalam perjalanan. Semua beegegas turun, hanya Zian yang enggan beranjak karena Arin masih pada posisi yang sama, Zian gak tega bangunin Arin jadi tunggu saja sampai dia bangun.
"Modus lo anjing, minggir gak lo," Bastian yang sadar segera menggeplak pipi Zian, sehingga menimbulkan pergerakan dari tubuh Zian yang membuat Arin menggeliat.
"******, pergi lo sana! Lihat, Arin jadi bangun gara-gara lo."
"Jadi lo mau berduaan sampai acara selesai di sini? Gak akan gue biarin, nanti lo ngelakuin hal yang kotor pada Arin, lo kan nafsuan orang nya," sindir Bastian sambil bersidekap dada, gak ada takutnya memang mancing emosi orang, ohh iya dia kan Bastian, gak kenal takut, bahkan guru BK pun di lawan.
"Gue nafsuan karena gue normal lah, daripada lo, belok," kalimat Zian tak kalah tajam.
"Sialan lo," Bastian hendak melayangkan tonjokan hangat pada Zian, tapi diurungkan karena Arin keburu bangun dan menatap mereka satu persatu dengan bingung.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Arin berjalan melewati keduanya dengan mata sayu, pandangannya masih buram.
Kali ini dia akan menyemprot Rini dengan berbagai umpatan, bisa-bisanya dia tinggalin Arin sendirian di dalam bis.
Sementara Zian dan Bastian lagi perang dingin, tatapan satu sama lain begitu tajam. Aksi mereka terhenti kala pak Marwan memerintahkan Zian untuk mengarahkan jalan pada seluruh siswa.