Selfish

Selfish
Selfish : 58



Kencan pagi yang membuat Arin berdecak kesal, karena bukannya ke tempat yang romantis Dion malah membawanya ke kebun binatang, kan setan. Apalagi hari ini hari minggu, lumayan banhak pengunjung berdatangan, ada yang bawa anaknya, ada yang bersama keluarga, dan ada juga yang sama pasangan masing-masing.


Arin tidak menikmati sama sekali kencan ini, lain dengan Dion yang tampak terhibur dengan berbagai jenis hewan yang ia temukan di sepanjang jalan dan sesekali memperagakan suara dari hewan tersebut.


"Lihat, hewan itu mirip sama lo, Rin," tunjuk Dion pada seekor monyet yang bergelantungan di ranting pohon sambil berayun, tak lupa suaranya yang khas menambah kesan riuh di kebun binatang.


Arin mendelik kesal saat Dion menertawainya, memang jahannam manusia satu ini. Padahal Arin berharap ini bakal jadi momen kencan yang romantis, tapi-- ahh sudahlah, memang gak usah berharap lebih pada Dion, sungguh menyebalkan. Capek-capek dandan cantik malah mentok di kebun binatang.


"Kenapa sih lo, murung banget dari tadi? Penhen berak?" tanya Dion dengan ekspresi bingung, karena sejak menginjakkan kaki di tempat ini raut wajah Arin berubah jutek.


Arin tak menjawab, malah jalan mendahului Dion saking kesalnya sampai gak mau berdialog dengannya. Dion mengedikkan bahu acuh, membiarkan Arin jalan duluan sementara ia akan ke sisi kanan untuk melihat harimau di sebuah kandang besi yang besar. Sudah lama Dion penasaran akan hewan itu.


Dion mengerutkan keningnya bingung, tidak ada tanda-tanda seekor harimau di sana, padahal sudah terpampang jelas di luar kandang bahwa di dalamnya ada harimau, tapi kenapa tidak ada. Jangan bilang kalo hewan itu lepas dari kandang, oh tidak untuk membayangkannya saja Dion merasa ngeri mengingat bahwa Harimau adalah hewan pemakan daging, bagaimana jika Harimau itu memangsa tubuh Dion, mengoyak kulitnya tanpa ampun. Dion menggeleng cepat, bayangan negatif seperti itu memang sangat mengganggunya.


Dion memilih untuk memutari setiap sudut kandang yang terbuat dari besi itu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat ada salah satu besi yang bengkok dan membuat celah yang cukup besar di sana, mungkin seukuran Harimau itu. Dion segera memanggil petugas kebun bintang untuk melaporkan kejadian ini.


Para petugas berdatangan usai menerima panggilan darurat dari Dion. Mereka sama-sama berpencar mencari keberadaan hewan yang katanya hilang itu. Suara dari speaker membuat pengunjung yang lain berteriak histeris sambil melindungi anak-anak mereka.


Petugas perempuan mengarahkan pada para pengunjung untuk masuk ke tempat yang aman di mana hewan buas tidak bisa menjangkaunya.


Dion duduk di salah satu kursi bareng pengunjung yang lain, pikirannya campur aduk antara takut dan gelisah sampai ia lupa Arin masih berada di luar, sontak dengan kasar Dion berdiri dan mengundang tatapan bertanya dari yang lain karena tingkahnya.


"Mau kemana dek? Di luar bahaya, jadi diam dulu di sini sampai keadaan mulai membaik," ucap salah satu petugas kebun binatang yang menemani mereka di basecamp itu.


"Teman saya masih di luar, mbak. Saya datang dengan dia dan dia masih di sana, saya harus mencarinya," desak Dion. Kalo sampai terjadi apa-apa dengan Arin, Dion pastikan tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


"Tidak bisa, saya tidak tenang jika dia belum ada bersama saya," Dion terus mendesak membuat petugas itu iba, paham sekali apa yang dirasakan oleh Dion saat ini. Dengan cepat petugas itu mendial nomor rekannya yang bertugas untuk mencari harimau itu agar mengamankan salah satu remaja perempuan yang katanya berjalan ke arah selatan di mana di sana tempat hewan yang paling besar, yakni gajah.


"Tenang, aku sudah menyuruh salah satu rekanku untuk mencari temanmu itu. Sekarang duduk dan berdoalah agar teman perempuanmu baik-baik saja." Ucapan petugas itu membuat Dion sedikit tenang tapi tetap saja masih ada perasaan panik, bagaimana jika harimau itu yang duluan menemukan Arin daripada petugasnya. Dion mendongak dan melafalkan seluruh doa yang dia tau berharap Arin selamat supaya mereka bisa pulang bersama dan melupakan semua ini tidak pernah terjadi.


.


Arin berjalan santai menuju area di mana ada sekumpulan gajah yang sedang bermain air. Sejenak rasa kesalnya tergantikan oleh perasaan terhibur kala melihat induk gajah yang menggendong anaknya di belalai panjangnya. Arin tertawa pelan karena menurutnya itu sangat lucu dan menggemaskan.


Arin memilih duduk di sebuah batu besar yang membatasi antara dirinya dan para gajah, menatap sekeliling yang tampak sepi, mungkin hanya dirinya saja yang ada di sini.


"Aneh, bukannya tadi di pintu masuk banyak sekali yang mengantri untuk membeli tiket, kenala tiba-tiba sepi," Arin masih setia menatap sekitar. Pemberitahuan tentang Harimau lepas tidak terdengar sama sekali oleh telinga Arin, makanya saat ini ia santai menyandarkan punggungnya pada batu itu tanpa menyadari ada bahaya yang mengintai.


Fyi, area gajah ini terletak cukup jauh dari pintu masuk di mana tempatnya berada paling ujung dan masih belum banyak pengunjung yang datang ke sini karena mereka masih mau melihat hewan-hewan kecil terlebih dulu, tetapi karena pemberitahuan darurat tadi mereka semua mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk berlindung dari hewan buas, jadi gak heran Arin gak bisa dengar suara dari speaker tadi dan gak sadar sama sekali bahwa pengunjung lain teriak ketakutan dan berlari tak tentu arah.


"Nyaman juga nih batu, tidur sebentar kayaknya gak masalah, lumayan capek juga jalan dari tadi. Dion mana sih, bukannya nyusul malah hilang, gak mungkin kan dia ninggalin gue sendirian di sini, kejam banget sih kalo kata gue mah," Arin bersandar pada batu itu, karena angin sepoi-sepoi membuat matanya memberat, tanpa sadar Arin sudah terpejam namun masih setengah sadar karena telinganya menangkap bunyi rauman dari arah belakang, tetapi hal itu sama sekali tak memgganggunya, Arin hanya berfikir mungkin itu suara gajah, tanpa ambil pusing dia kembali memejamkan matanya.


.


Tidak sulit bagi para petugas kebun binatangan untuk menemukan Arin yang katanya pergi ke arah selatan yang tak lain adalah tempat gajah. Mereka semua harus bergegas, karena tidak ada yang tau sampai mana Harimau itu berkeliaran.


Salah satu petugas berhenti mendadak kala penglihatannya menangkap sesuatu yang tidak biasa, petugas yang lain juga demikian, mereka semua saling pandang satu sama lain, tak ada yang berani mendekat. Harimau yang mereka cari ternyata sudah sampai di sini, meringkuk di atas batu sambil terus menggoyangkan ekornya, dan di sebelahnya ada remaja perempuan yang tertidur menghadap harimau itu.