
Laras telah selesai mempacking barang-barangnya, tidak semua karena dia di Indonesia hanya satu bulan saja, karena bulan depan ada bimbingan dengan dosennya. Semua teman-temannya yang lumayan akrab dengan Laras berkunjung ke apartemennya untuk sekedar say goodbye and see you the next month, tak terkecuali Joshua yang sudah dari tadi subuh ada di apartemen Laras, katanya Joshua tidak ingin ketinggalan momen sedikitpun sebelum Laras meninggalkan London.
"Aku gak tau loh kalian semua mau dateng jadi jamuan kali ini hanya roti dan kue saja, aku harap kalian semua suka dan terima kasih karena sudah menyempatkan diri ke sini," tutur Laras.
"Joshua koar-koar di grup Kampus, bilang katanya kamu bakal pulang ke Indonesia untuk selamanya, makanya kita semua sepakat datang ke sini, ehh nyatanya cuma sebulan doang," ucap Grace si rambut pirang sambil mendelik kemusuhan ke arah Joshua yang tersenyum tanpa dosa.
Laras meliirk Joshua dan tersenyum simpul.
"Sudah ku bilang dari awal, jangan pernah percaya sama Josh, dia itu pembual yang handal," jelas Laras, Joshua yang disebut seperti itu tidak terima, sontak semua yang ada di ruangan tertawa.
"Jika bukan karena aku, kalian tidak akan tau Laras pergi hari ini," ketus Joshua sambil bersidekap dada.
"Iya-iya, Joshua adalah seorang pahlawan," ledek Miya dan kembali disambut tawa oleh yang lainnya, Joshua ngambek dan melempar Miya dengan bantal sofa, untung perempuan kulit tan itu punya refleks yang bagus sehingga dengan mudah menghindar.
"Maaf ya, Laras. Kami tidak bisa mengantarmu sampai Bandara, ya you know lah, di musim liburan seperti ini kami lebih banyak main di rumah daripada di luar rumah, apalagi sekarang musim dingin, oh tidak aku tidak ingin membeku di jalanan," ucap Katty dengan wajah ketakutan.
"It's okay, dengan kalian datang ke sini saja sudah membuatku senang. Selamat berlibur untuk kalian semua, sampai ketemu di bulan berikutnya. Aku sudah tidak sabar melihat negara kelahiranku," ujar Laras seraya mendongak menatap langit-langit.
"Palingan kamu gak sabar buat ketemu laki-laki brengsek itu," sindir Joshua tak suka.
"Wow, ada yang cemburu nih," ledek Grace.
"Diam kau rambut kuda," sentak Joshua.
"Apa? Rambut kuda? Berani sekali kau otak siput." Laras memijat pangkal hidungnya, jika sudah begini maka masalahnya tidak akan kelar, saat keduanya sibuk debat sambil mengabsen nama hewan di kebun binatang yang lain malah bersorak menyemangati membuat Laras pening.
Sesi berkunjung sudah habis, jadi mereka semua memutuskan untuk pulang saja, karena sudah terhitung lima jam mereka di apartemen Laras, lima jam terasa cepat sekali padahal jika dipikir-pikir mereka hanya makan dan numpang tidur.
"Hey Josh, kau tidak ikut pulang bersama kami?" tanya Miya, menautkan alisnya bingung kala Joshua masih santai rebahan di sofa, tak menpedulikan teman-temannya yang sudah beranjak hendak pergi.
"Tidak, terima kasih. Di sini lebih nyaman dibanding harus pulang bersama kalian," kekeh Josh, melambaikan tangan di udara tanda mengusir tiga perempuan cantik itu.
"Laras, usir bedebah itu sekarang juga. Jangan sampai dia mengacaukan liburanmu di Indonesia," saran Katty. Laras terkekeh pelan.
"Mau Josh ngelarang bagaimanapun juga, aku akan tetap pulang ke negaraku, jadi kalian tenang saja."
"Yah, aku harap begitu." Laras melambaikan tangan, saat ketiga teman perempuannya sudah keluar gerbang.
"Kapan kamu akan berangkat?" tanya Joshua, pandangannya masih terfokus pada televisi menyala yang menampilkan kartun Shincan. Laras duduk di sofa single dan menatap Josh intens.
"Secepat itu? Oh ayolah, aku bahkan baru akan tidur pada jam segitu," protes Josh, ia sontak terduduk.
"Lantas? Aku kan tidak pernah memintamu untuk menemaniku ke Bandara," jawab Laras, masih dengan posisi yang sama. Joshua terdiam memikirkan alasan.
"Sudah sore, kau tidak pulang?" Laras menegakkan tubuhnya sambil menatap Josh.
"Kau mengusirku?" tanya Josh tak percaya. Laras hanya mengedikkan bahu lalu berdiri menuju kamarnya.
"Kau benar-benar mengusirku?" Josh kembali melontarkan pertanyaan yang sama, tetapi tetap saja Laras tak menanggapi.
"Oke, sebisa mungkin aku tidak akan begadang malam ini dan memasang alarm dua jam lebih awal sebelum keberangkatanmu, Laras," ucap Josh dengan nada sedikit berteriak. Hening. Tak ada sahutan.
"Jangan memaksakan diri, Josh. Aku tau kamu tidak pernah bisa tidur lebih awal," sahut Laras dari arah kamar.
"Aku akan berusaha," balas Josh lalu keluar dari apartemen Laras tanpa pamit.
Laras duduk di tepi ranjang sambil memandangi ponselnya, jarinya bergerak menekan aplikasi pesan, matanya meneliti dari atas sampai bawah puluhan pesan yang Laras kirimkan pada Zian, tetapi tidak ada satupun yang terbalas oleh lelaki yang masih menyandang status sebagai kekasihnya itu. Laras kembali mengingat ucapan Joshua beberapa hari lalu, sedetik kemudian ia mulai overthinking dengan kenyataan jika saja benar Zian tak menginginkannya lagi atau kemungkinan besar sudah punya pengganti. Laras menggelengkan kepalanya, mengusir segala pikiran buruk yang belum tentu kebenarannya. Untuk kali ini Laras hanya bisa positif thinking saja. Karena terlalu cape, Laras merebahkan tubuh kurusnya ke ranjang dan bersiap untuk besok pagi, rasanya tuh gak sabar plus takut. Selang beberapa menit, Laras terjun ke alam mimpi.
.
Arin dibuat kaget dengan kehadiran Zian yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu sambil menenteng sebuah totebag kecil.
"Ngapain sih lo? Bikin kaget orang aja, untung gue gak jantungan," kesal Arin sambil mengusap dadanya. Zian tak bereaksi apa-apa, hanya datar. Arin jadi gelagapan dan sedikit takut, siapa tau Zian kerasukan setan tuli.
"Lo kenapa dah? Sakit? Bisulan? Belum sarapan? Diusir sama Bunda?" pertanyaan bertubi-tubi Arin yang tidak masuk akal. Zian menggeleng lalu menyerahkan totebag hitam tadi ke Arin, meskipun bingung tetap Arin terima.
Zian hendak pergi namun Arin tahan karena butuh penjelasan.
"Maaf," hanya kata itu yang bisa Zian ucapkan, sesegera mungkin pemuda tampan itu melepaskan cekalan tangan Arin pada lengannya lalu berjalan gontai ke arah mobil.
Arin masih berdiri pada tempatnya. Bingung, itulah yang ia rasakan saat ini. Setelah mobil Zian jauh dari pandangan mata, Arin melirik totebag pemberian Zian, membawanya masuk ke kamar dan melupakan niat awalnya yang hendak membeli pecel di warung sebelah.
"Hmm? Sebuah kalung? Dengan liontin bentuk bulan? Ihh jujur sih cantik dan mewah, Zian tau banget selera perempuan kayak gimana. Tapi tujuan dia kasih gue ini apa?" Arin memandangi kalung silver di tangannya, sangat cantik. Sampai netranya tidak sengaja melihat sebuah amplop putih di dalam totebag tersebut.
"Surat? Surat wasiat kali," kekeh Arin lalu membuka amplop yang melindungi sebuah kertas di dalamnya.