
"Anjing, gue telat," Arin berlarian di trotoar menghampiri bangunan sekolahnya, hari ini dia bangun terlambat dan sebab itu juga sang Papa meninggalkan nya dan tidak sempat mengantarnya ke sekolah karena beliau juga sedang buru-buru, alhasil Arin naik ojol walaupun sudah dipecut sekencang apa pun yang namanya jalanan kota tetap saja macet. Arin harus meratapi nasibnya melihat gerbang sudah ditutup, tak henti-hentinya ia mendesah pelan karena hal ini bisa saja merusak reputasi nya di sekolah, terlebih ia adalah wakil ketua Osis, pasti namanya akan jelek banget.
Usaha Arin tidak sampai di situ, walau sudah memohon pada satpam dan menggedor gerbang namun nyatanya tidak berhasil, Arin beralih ke bagian belakang.
"Gue panjat tembok aja kali ya," gumam Arin.
"Tapi tinggi banget, asuu. Ntar kalo gue jatuh sama aja nyelakain diri sendiri," ucap nya plin plan.
"Bodo amat lah, yang penting gue bisa masuk dan gak kena hukum, ehh sekarang jam berapa sih?" Arin menyalakan ponselnya untuk melihat jam.
"Ehh ****** sudah jam 8, perasaan tadi gue berangkat dari rumah masih jam 7, ini kenapa waktu berjalan cepet banget, giliran belajar matematika waktu nya lambat kayak siput," gerutu Arin seraya bersiap-siap untuk menaiki tembok pembatasan yang lumayan tinggi dan agak licin. Arin membahu tas nya, kemudian ponsel ia taruh di saku nya, kebetulan ada pohon mangga dekat tembok tersebut, jadi Arin bisa dengan mudah berpegangan pada pohon tersebut.
"Sedikit lagi, gue pasti bisa," seperti kata pepatah, usaha tidak akan pernah menghianati hasil, akhirnya Arin bisa masuk sekolah tanpa dihukum walaupun belum sepenuhnya benar, pasti sekarang jam pelajaran sudah dimulai. Arin melompat saat sudah sampai puncak tembok kemudian melempar tas kesayangannya dan disusul dengan tubuhnya yang terjun bebas ke atas rumput.
"Huh, untung ada rumput yang cukup tebal, kalo nggak mungkin lutut gue sudah kegores," ujar nya.
"Telat ya lo?" Sebuah suara berat menginterupsi pergerakan Arin yang sudah siap-siap berlari menuju kelas.
"Woyy setan, siapa tuh," Arin celingak-celinguk mencari sumber suara, karena tak kunjung menemukannya, Arin jadi merinding sendiri.
"Gue di sini bego, punya mata tuh dipake jangan dibuat pajangan doang," Arin menoleh dan mendapati Bastian yang membuang asal puntung rokoknya ke sembarang arah dan menatap Arin dari atas sampai bawah. Bastian berdiri dan menghampirinya, Arin jadi terdiam takut jika manusia di depannya ini melaporkan pada guru BK. Arin juga baru tau kalo Bastian suka ngerokok di belakanh sekolah.
"Kenapa telat?" Bastian menunduk mensejajarkan tingginya agar sama dengan Arin yang jauh lebih pendek dari Bastian.
"Gu-gue telat bangun, udah ya gue mau ke kelas," Arin sedikit mendorong kening Bastian agar tidak mendekat lagi.
"Lo pikir semudah itu? Lihat noh, pacar lo si Zian keliling gak jelas memeriksa setiap murid yang terlambat, dan lo tau nggak hukumannya tuh gak main-main, walaupun lo pacarnya sekalipun, hukuman tetaplah hukuman," Bastian menarik sudut bibirnya, senang sekali bisa mengerjai Arin yanh notabennya baru pertama kali terlambat, meski ucapan Bastian tidak sepenuhnya salah, memang seperti itu karakter Zian jika di sekolah tidak memandang bulu. Tapi, bukan Zian sih yang memutuskan hukuman tetapi guru BK, Zian hanya menjalankan dan mengawasi.
Arin mengintip dari balik tanaman, Zian tampak berwibawa sambil memegang sebuah kertas, entahlah Arin tidak tau apa itu.
"Terus lo kenapa masih di sini bukannya masuk kelas," Arin balik bertanya pada Bastian yang masih santai duduk sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa? Khawatir lo sama gue? Kalo si berandal Zian mau hukum gue, tinggal gue kasih bogem mentah, kelar dah tuh urusan," jawab Bastian dengan songong. Arin memutar bola matanya malas, hatinya masih ketar ketir, kali tau begini mending dia izin gak masuk sekolah dengan alasan sakit.
Bastian melirik Arin dari ekor matanya kemudian tersenyum sambil menggeleng pelan. Arin bosan sekaligus canggung berada di situasi seperti ini, terlebih Bastian gak ngomong apa pun yang bisa mencairkan suasana, malah asik sendiri main game online, Arin juga gengsi dong ngajak ngomong duluan, apalagi Arin itu anaknya gak suka basa-basi dan tidak pernah memulai percakapan duluan sebelum orang itu sendiri yang mengajak Arin bicara, kecuali kalo udah deket banget, jika ketemu sudah kena tabok sama si Arin, tanya Rini dia korban tabokan sayang dari perempuan judes alias Arin.
Kalo dipikir-pikir, Bastian juga agak beda sekarang, dia kelewat cuek dan sering menghindar dari Arin sejak mereka pergi nge-mall bareng kemarin, biasanya di sekolah dia akan ngejar-ngejar Arin kemana pun, tapi sekarang malah kayak membatasi diri. Bukannya Arin berharap kayak begitu lagi, bukan, tapi agak aneh aja dengan sikap berandal sekolah satu ini, Arin mengangkat kedua bahunya acuh kemudian menopang dagunya dengan tangan, nemikirkan cara bagaimana bisa lolos dari tatapan elang Zian dan menghindari hukumannya.
"Anjing, gue kalah," Bastian mengumpat sehingga mengundang tatapan tajam dari Arin. Karena kesal dia kalah dalam game, Bastian memasukkan benda pipih tadi ke dalam saku celananya lalu berdiri, Arin pun melakukan hal yang sama.
"Ngapain lo ikutin gue?" tanya Bastian merasa risih saat Arin ngekor di belakangnya.
"Hehe, gue boleh ikut gak? Gue gak berani sendirian di sini, lo juga mau kemana kak? Bisa kali bantuin gue hindarin Zian," pinta Arin dengan wajah memelas.
"Males, lo ladenin aja noh pacar lo, jangan libatin gue," sahut Bastian hendak pergi, namun Arin segera mencekal tangannya.
Bastian menghela nafas pelan, lalu berbalik menatap tepat manik mata Arin yang tampak memohon.
"Lo mau gue ngapain?" tanya Bastian to the point.
"Bantuin gue biar bisa masuk kelas dengan aman tanpa kena hukum."
"Lo pikir gue guru di sini? Gue juga murid, Arin. Sama aja kita serahin diri," Bastian berdecak malas, sebenarnya Bastian juga malas harus terlibat lagi dengan guru BK gara-gara dia membolos pelajaran. Perlahan, cekalan tangan Arin merenggang, kayaknya dia sudah pasrah banget sekarang. Untuk kedua kalinya, Bastian menghela nafas namun kali ini lebih pelan.
"Oke gue bakal bantuin lo, puas?" Arin mendongak dengan mata berbinar.
"Beneran, kak?" Bastian mengangguk malas, dengan banyak pikiran di otaknya, bagaimana cara dia menolong Arin.
"Ngapain kalian berdua di sini? Kalo mau pacaran jangan di sekolah, ke taman aja sono berdua," suara yang tidak asing bagi telinga keduanya mengalihkan atensi Arin tak terkecuali Bastian.
Itu Zian, dengan tatapan tajam dan tidak suka, lebih tepatnya cemburu kala melihat Arin menggenggam tangan Bastian.
Arin meneguk salivanya, mampus gue.
Kalo ada typo, maafkan yaaðŸ˜