
Zian mengajak Arin untuk membeli minum, capek juga ya ngebacot dari tadi tenggorokan jadi kering karena cerita panjang lebar, tapi gak apa-apa setidaknya Zian sedikit tenang setelah bercerita.
"Arin!!" Yang punya nama segera menoleh.
"Lo tau kan kita pacaran karena syarat?" Arin menautkan alisnya bingung.
"Terus?" tanya Arin singkat.
"Dan kita hanya pacar bohongan."
"Ya terus?" Sepertinya Arin capek jika harus disuruh mikir begini.
"Gimana kalo ternyata gue beneran suka sama lo?" Arin tersedak boba yang diminumnya.
"Minum jangan asal sedot, hitung dulu boba nya masuk berapa biji, jangan main sedot aja kan keselek mampus lo batuk-batuk kek orang sakit," gerutu Zian seraya menepuk punggung Arin.
"****** lo, bukannya ditolongin malah mulut lo yang nyerocos."
"Lah terus ini gue ngapain kalo nggak nolongin lo? Kalo gue jahat gak bakal gue tolong dari tadi."
"Lagian siapa suruh ngomong gak jelas, membahayakan nyawa orang tau nggak."
"Emang gue ngomong apa?" tanya Zian.
"Gak inget. Udah yok kita pulang, udah siang." Arin bangkit dan segeta berjalan mendahului Zian.
"Hihii. Asikkk, dapat bahan gosip baru. Mampus lo kena hujat lagi besok di sekolah."
"Inget, setelah ini sholat dzuhur terus tidur siang gak usah keluyuran ke rumah anak itu lagi," pesan Zian sebelum Arin turun dari mobil mewahnya.
"Apa urusan lo? Terserah gue lah mau pergi kemana aja, Mama aja gak larang kok lo yang repot," Arin tak mengindahkan ucapan Zian lalu bergegas turun sebelum Zian ngamuk. Terlambat. Zian sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya hingga Arin kembali duduk kali ini lebih dekat dengan Zian.
"Mau apa lo?" Arin memundurkan wajahnya kala wajah Zian sedikit demi sedikit maju sehingga Arin dapat merasakan hembusan nafasnya menerpa wajah Arin.
Zian tersenyum simpul kemudian berkata :
"Nurut atau gue cium?"
Arin refleks meninju hidung mancung Zian, membuat pemuda itu mundur dan melepaskan cengkramannya pada Arin, dia lebih memilih mengusap hidungnya yang sedikit memerah akibat tinjuan Arin, untung saja tidak terlalu keras bisa-bisa hidung Zian patah dan harus dioperasi.
"Mampus, makanya gak usah macem-macem. Emm sakit ya?" Walaupun puas dengan aksinya, Arin masih pinya rasa simpati. Melihat Zian yang tampak serius memegangi hidungnya itu membuat Arin berspekulasi jika keadaan Zian serius.
Arin menangkup pipi Zian, hanya sekedar melihat kondisi hidung nya yang terbentur dengan kepalan tangannya.
"Perasaan gue mukulnya gak keras-keras amat sampai buat ni orang kesakitan kayak orang sakaratul maut," gumam Arin berusaha menyingkirkan tangan Zian yang menutupi hidungnya.
"Pelan apanya, lihat sampai memerah begini. Untung gak patah, kalo patah tanggung jawab lo," gerutu Zian memperlihatkan hidung mancung nan putih mulus itu yang mulai berubah warna.
"Iya iya maaf, lagian lo demen banget bikin orang naik darah, coba bicara yang bermanfaat sedikit."
"Aduhh sakit banget, kayaknya gue harus operasi supaya hidung gue kembali normal," Zian merengek seraya terus mengusap hidungnya, membuat Arin jengkel dengan tingkahnya yang pura-pura.
"Bukannya sembuh malah makin merah hidung gue. Dah lah gue mau ngadu ke nyokap lo aja, minta pertanggungjawaban atas kelakuan anaknya yang di luar batas," Zian sudah mengambil ancang-ancang untuk turun dari mobil. Arin jelas panik lah, takut diomelin Rima karena telah mencelakai anak orang.
"Eh-eh gak boleh curang, awas kalo lo ngadu gue patahin semua gigi lo, gini-gini gue pernah ikut silat walaupun jadi penonton doang," pamer Arin yang langsung mengundang tawa sumbang dari Zian.
"Makanya tanggung jawab, kalo gak mau gue bisa aduin lo kapan saja. Nih gue punya bukti yang akurat, gue foto hidung gue yang merah akibat tinjuan lo," Zian meraih ponselnya kemudian memotret hidungnya. Arin mendengus kesal, dosa besar apa yang telah diperbuatnya sampai harus dihadapkan dengan laki-laki lebay plus cerewet ini, padahal awal ketemu dia kelihatan cool dan berwibawa tapi kok makin kesini tingkahnya kayak perempuan, dah lah Arin gak paham lagi.
"Mau tanggung jawab atau nggak nih, biar gue langsung ketemu sama Tante Rima."
"Ya udah iya, gue harus bayar berapa untuk ganti rugi hidung lo?"
"Cium gue."
"What? Lo yang bener aja, gak-gak ogah gue," Arin menutar bola matanya malas.
"Katanya mau tanggung jawab."
"Ya yang waras dikit lah. Masa gue cium biawak sih." Zian melotot, bisa-bisanya dia disebut biawak.
"Lagian ya kita itu bukan muhrim, gak boleh kata Pak Ustadz."
"Ohh berarti kalo udah muhrim bisa ya? Ya udah tunggu apalagi, ayo kita ke KUA."
"Mulus banget mulut lo ngomong kek gitu, lo pikir nikah itu enak? Punya modal berapa lo mau nikahin anak orang?"
"Wahh ngeremehin, lo minta mahar pulau juga bakal gue pesenin sekarang," sahut Zian dengan bangga.
"Sombong amat. Udah ya, obatin aja tuh sendiri hidung lo, bila perlu lo cari kodok buat cium lo siapa tau bisa berubah jadi putri cantik dari kerajaan air comberan," Arin keluar dari mobil dan berlalu masuk ke dalam rumah.
......................
Hari ini hari Senin, mungkin sebagian orang membencinya tapi Arin tidak, justru hari Senin adalah hari favoritnya. Arin tampak rapi dengan balutan seragam putih abu nya, sembari menatap pantulan dirinya di cermin, Arin mulai menyisir rambutnya yang panjang dan menguncirnya.
"Hampir lupa, hari ini kan ada upacara jadi atribut harus lengkap." Arin menggeledah lemarinya mencari topi dan dasi khusus SMA.
"Untung gak hilang." Dia menemukannya di bawah lipatan baju seragam hari Rabu, gak tau kenapa bisa nyempil di sana. Semua sudah lengkap, buku dan tas sudah siap sekarang tinggal sarapan. Arin menuruni tangga sambil bersenandung ria.
"Pagi Mama, Papa." Arin berjinjit untuk mencium pipi sang Mama yang tengah memasak.
"Pagi juga sayang, ayo duduk. Setelah sarapan anterin makanan untuk Dion ya, siapa tau juga Dion belum sarapan sebelum berangkat sekolah," tutur Rima yang dibalas anggukan oleh Arin.
"Kenapa tidak mengajaknya sarapan bersama saja di sini Mah?" tanya Hendri.
"Kemarin sudah Mama ajak Pah tapi Dion sendiri yang nolak, katanya malu belum terbiasa juga dengan keluarga kita, takut ngerepotin," jawab Rima kemudian ikut duduk setelah masakannya yang terakhir matang. Hendri dan Arin mengangguk paham lalu mereka mulai menyantap sarapan mereka dalam keheningan.
Sebelum berangkat ke sekolah, Arin berjalan pelan menuju rumah Dion seperti biasa rumah itu selalu tertutup. Kebetulan Dion masuk sekolahnya jam 8 jadi bisa santai-santai dulu di rumah.
"Dion, buka pintunya. Gue bawa sesuatu," teriak Arin sampai-sampai ada salah satu tetangga yang menatap aneh ke arahnya. Pintu terbuka lebar menampilkan Dion hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya, sepertinya baru selesai mandi.
"Bngst, mata suci gue ternodai."