
Arin berjalan santai sambil bersidekap dada menuju parkiran dibuntuti Dion di belakang yang hanya bisa menatap punggung Arin sendu, dia masih merasa bersalah atas kejadian hari ini.
"Gue traktir bakso depan komplek sebagai permintaan maaf gue ke lo," Dion mensejajarkan langkahnya sambil terus menatap Arin yang sepertinya sangat enggan membalas tatapan Dion, matanya selalu tertuju ke depan dan ucapan Dion hanya angin lalu baginya.
Langkah Dion berhenti saat melihat Arin berdiri menghadapnya.
"2 tahun, deal?" Arin menyodorkan telapak tangannya tanda ingin membuat kesepakatan. Dion menatap Arin bingung membuat perempuan itu berdecak kesal lalu menurunkan tangannya.
"Maksud lo apaan dah?" tanya Dion heran.
"Traktir gue bakso selama dua tahun," jawab Arin tanpa memandang wajah Dion yang saat ini sudah menganga lebar atas penuturannya.
"Lo gila, uang dari mana gue," sarkas Dion tidak terima.
"Itu belum sebanding ya sama nyawa gue, bagaimana kalo harimaunya gak ngantuk terus saat itu juga tuh hewan makan gue mentah-mentah, apa gak semakin merasa bersalah lo sama gue," ketus Arin dengan nada angkuh.
"Ya tapi kan sekarang lo baik-baik saja, bahkan gak luka sama sekali, sehal wal afiat."
"Walaupun begitu tetap saja gue ketakutan, tau gak sih gimana rasanya tidur sebelahan sama Harimau. Jantung gue hampir copot, kalo gue jantungan terus mati kan sama aja lo yang bersalah," Arin tak mau kalah.
"O-oke, oke. Dua tahun, tapi tiap bulan ya," bujuk Dion menangisi isi dompetnya dalam hati.
"Gak ada ya tiap bulan, tiap hari," final Arin lalu berjalan mendahului Dion yang masih meratapi nasib keuangannya, mana uang saku per bulan dari orang tuanya menipis lagi. Meski sudah berpisah, mereka tetap memperhatikan Dion walaupun gak terlalu sering, palingan juga cuma transfer uang habis itu udah gak ada urusan lagi, mereka sama-sama sibuk dengan diri masing-masing tanpa mempedulikan Dion yang notabennya putra mereka sendiri tapi gak dianggep.
Dion mengantar Arin pulang, mereka masih tetap dalam keheningan, tak ada yang memulai topik meski untuk membicarakan tentang cuaca hari ini.
Arin melangkah masuk setelah gak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan Dion, jujur saja Arin masih kesal sekaligus trauma. Tanpa memandang Dion, Arin memilih untuk segera masuk rumah melewati Rima yang hendak berburu sayur di depan komplek, melihat ekspresi datar putrinya dan Dion yang memandang sendu mengundang tatapan bingung dari wanita paruh baya itu, tetapi ia jelas ragu untuk bertanya, bagaimanapun juga itu masalah pribadi anak remaja.
"Dion gak masuk dulu, makan siang," tawar Rima sambil memasang sendal khusus untuk keluar rumah.
"Lain kali aja tante," Dion menyalakan motornya dan pamit pergi.
"Dion kok gak nanya aku mau kemana? Minimal tawarin tumpangan kek, atau gak basa-basi dikit biar suasana hidup. Hmm, pasti masalah mereka berdua gak main-main," batin Rima.
.
Zian duduk di tepi kasur, hari minggu ini dia sama sekali tidak keluar rumah sejak kemarin malam, hingga menolak tegas ajakan Rangga buat nongkrong di warung depan gang sebelah, sempat ditanya alasan kenapa namun Zian dengan cepat memutus panggilan sepihak antara mereka.
Zian kembali menatap datar ponselnya yang ia letakkan sembarang. Puluhan panggilan tak terjawab dan pesan yang belum dibalas membuat Zian kembali memutar otaknya dan berfikir dua kali untuk mengangkatnya.
"Minggu depan aku pulang ke Indonesia, jemput aku ya. Kamu rindu gak sama aku?"
Lidahnya terasa kelu, setitik bulir bening meluncur tanpa izin memebasahi pipi. Zian meremat kuat rambutnya sambil terus menangis.
Dering ponselnya mengalihkan atensi Zian, tatapannya berubah datar, tangannya tak tergerak sama sekali untuk meraih benda pipih itu, masih nomor yang sama dengan yang kemarin membuat Zian terdiam.
Lama kelamaan suara dering itu berhenti membuat Zian bernafas lega sekaligus sesak yang menghantam dada.
"Maaf..!" lirihnya pelan sampai semut pun tak bisa dengar.
.
"Kau benar-benar akan pulang ke Indonesia?" Suara bariton itu mampu memecah lamunan gadis cantik yang duduk santai di sebuah cafe di London.
"Ohh, hai Josh." Gadis cantik itu melempar senyuman manis pada laki-laki yang bernama Joshua teman satu kampusnya.
Joshua menghela nafas pelan lalu duduk di kursi kosong yang berhadapan langsung dengan gadis itu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Tidak bisakah kau tinggal di sini?" Joshua kembali bertanya namun kali ini sebuah permintaan.
"Tidak, Josh. Aku berasal dari Indonesia, sudah jelas aku harus kembali ke negara asalku," jelas gadis itu mutlak.
"Tapi, bukankah kau merasa nyaman di sini?"
"Memang, di sini sangat menyenangkan sampai aku tidak ingin pulang, tapi keputusanku sudah bulat, ada seseorang yang selama ini selalu menantikan kepulanganku, ada seseorang yang harus kutemui selain kedua orang tuaku," gadis cantik tersebut menatap ke luar Cafe sambil membayangkan sang pujaan hati yang selama ini selalu memenuhi relung hatinya, sial sekali mereka berdua hampir satu tahun lebih tidak komunikasi lagi.
"Kamu masih mengharapakannya?" Joshua menautkan alisnya bingung, Laras ikutan bingung dengan pertanyaan yang Joshua ajukan.
"Maksudmu?"
"Come on, Laras. Laki-laki tidak setulus itu dalam hubungan jarak jauh (LDR), bahkan tanpa komunikasi dalam jangka waktu yang lama, kamu kan tidak tau apa yang dilakukan laki-laki itu selama kamu ada di London, meski kamu sudah jaga hati buat dia. Aku beritahu ya, semua laki-laki itu sama, jujur aku juga seperti itu karena aku pernah mengalaminya," jelas Joshua.
"Tidak, Zian tidak seperti itu buktinya kemarin kami telponan," sela Laras tidak terima. Joshua tertawa remeh membuat Laras overthingking, ucapan Joshua ada benarnya juga, tapii Zian gak mungkin melakukan hal itu, Laras yakin.
"Jika kau menemuimu ke sini hanya untuk menghina kekasihku, lebih baik kamu tidak melakukannya, Josh," ketus Laras lalu meraih tas nya dan berlalu pergi meninggalkan Joshua yang menatap sendu punggung Laras menjauh dari pandangannya.
Joashua, laki-laki blasteran China-Inggris merupakan salah satu teman dekat Laras yang pertama kali berkenalan dengannya waktu masuk Kampus, kalo boleh jujur, Joshua terpesona dengan Laras dan baru pertama kali bertemu laki-laki jangkung itu sudah menaruh rasa, bahkan sempat Joshua blak-blakan confes tentang perasaannya pada Laras namun ditolak, dengan alasan dia sudah punya seorang kekasih dan Laras tidak mau mengecewakannya. Mungkin terhitung sudah lima kali Joshua mengutarakan rasa cintanya tetapi tetap saja ditolak.
"Maybe next time, Laras. Kamu pasti akan menerima perasaanku."