Selfish

Selfish
Selfish : 85



Diduga setelah pingsan, kondisi fisik Zian semakin lemah, dia lebih sering terkapar jatuh akhir-akhir ini. Riana panik bukan main, usai mengetahui keadaan putranya, buru-buru dia bawa ke rumah sakit untuk konsultasi dan periksa sekiranya apa lagi yang bermasalah pada Zian.


Derap langkah sepatu bergema memenuhi lorong rumah sakit yang sunyi dan gelap, karena memang hari sudah malam jadi tidak banyak yang melewati lorong.


Laki-laki dengan perawakan tegap itu langsung bergegas usai dapat kabar dari istrinya bahwa putra sambungnya drop lagi. Pikirannya kacau, habis dari kantor harus nyusul ke rumah sakit, wajahnya kentara panik karena tadi di telpon mendengar suara istrinya menangis tersedu-sedu. Otaknya tidak dapat berpikir dengan jernih


"Bagaimana kondisi Zian?" Arif memeluk erat tubuh Riana dalam dekapannya, sampai sekarang sang istri belum berhenti meneteskan air mata, Arif jadi bingung di dalam kondisi seperti ini.


"Sudah ya, kita berdoa saja yang terbaik untuk Zian, aku yakin dia akan baik-baik saja, Zian itu anak yang kuat. Pasti dia bisa bertahan," bujuk Arif agar Riana berhenti menangis sambil sesekali mencium kening sang istri.


Riana tak kuasa menjawab, lidahnya seakan beku di dalam mulut, mengeluarkan sepatah kata saja dia tidak bisa, hanya menangis dan menangis yang bisa ia lakukan.


Dokter Andre keluar usai memeriksa keadaan Zian, dia juga lumayan kaget saat tau Zian lemah lagi. Riana melepas pelukannya dan berdiri menghadap dokter Andre, raut wajahnya seakan meminta penjelasan detail pasal kondisi Zian.


"Sejauh ini, apa Zian ada memgomsumsi minuman atau makanan yang bisa melemahkan jantungnya?" tanya Dokter Andre, karena sesuai hasil pemeriksaannya tadi terdapat beberapa tanda bahwa Zian habis mengonsumsi minuman keras, dokter Andre yakin dan pasti bahwa pemeriksaannya tidak pernah salah.


Riana yang mendapat pertanyaan seperti itu sontak menoleh pada Arif kemudian kembali memfokuskan netranya pada dokter Andre dan menggeleng kuat. Selama di rumah, Riana selalu menyajikan makanan yang bergizi sesuai arahan dokter.


Dokter Andre gigit bibir bawahnya kuat, gak tau harus bilang apa lagi, karena dia sudah yakin banget pasti Zian minum alkohol tanpa sepengetahuan orang tuanya.


"Jadi gimana hasil pemeriksaan anak saya, dokter? Jantungnya gak bermasalah lagi kan?" desak Riana sembari menggoyangkan lengan Andre, tak sabar untuk mendengar kabar Zian.


"Saya merasa menyesal mengatakan ini, jantung Zian kembali bermasalah, namun untungnya belum terlalu parah, hanya saja saya sarankan untuk menjaga pola makan Zian, jangan biarkan dia mengonsumsi minuman beralkohol karena hal tersebut sangat cepat memicu kerusakan pada jantungnya, seperti yang terjadi saat ini. Maaf, seharusnya saya mengajak anda bicara di ruangan saya," jelas Andre diakhiri dengan helaan nafas berat. Sudah tau banget ekspresi apa yang akan Riana tampilkan usai mendengar penjelasannya.


"Jadi, dokter mengira Zian-ku mengonsumsi minuman beralkohol yang menyebabkan dia drop tiba-tiba?"Riana menatap Andre tak percaya, mengira semua ucapan dokter muda tersebut bohong karena yakin sekali bahwa selama selesai operasi Riana bisa pastikan Zian hanya makan makanan yang berkhasiat, dan minumnya pun air hangat kadang susu juga.


Andre memejamkan matanya, memang susah meyakinkan Riana dalam kondisi panik.


"Hasil pemeriksaan saya tidak pernah salah, yah meski kadang meleset juga. Tapi pada pemeriksaan Zian sudah jelas sekali bahwa dia sudah mengonsumsi alkohol dalam dosis tinggi," jelas Andre untuk yang kesekian kalinya. Riana langsung jatuh ke pelukan Arif, menangis tersedu-sedu tanpa suara mengetahui fakta tadi.


.


Zian sudah mulai membaik, selepas pingsan kemarin dia langsung mendapat perawatan serius dari dokter Andre, jadi tidak ada istilah dia kritis atau koma untuk beberapa hari. Saat ini saja Zian sudah bisa berinteraksi dengan lancar, bicara serius dengan sang Bunda.


Seperti biasa, Zian selalu sarapan disuapi Riana, kepulangannya lagi-lagi ditunda.


Raut Riana datar saja dari tadi, Zian sampai mengernyit bingung, hal itu sukses membuat Zian malu untuk memulai obrolan.


Semangkuk bubur habis Zian makan, gak tau kenapa selera makannya jadi tinggi saat ini. Riana beranjak pergi untuk mengambil obat-obatan yang dia letakkan di atas meja sofa, hal itu pun tak luput dari pandangan Zian.


"Bunda! Bunda gak apa-apa?" pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari belah bibir Zian, jujur rasanya gak enak berada di suasana hening begini, apalagi Bunda yang notabennya cerewet minta ampun di kala Zian sakit, tapi untuk saat ini full diam sampai suapin makan pun tanpa izin ke Zian, sesendok bubur langsung masuk ke dalam mulut tanpa perantara.


Riana menghela nafas panjang, menatap datar ke arah putranya, rautnya tampak kecewa, diusapnya rambut yang lebih muda kemudian kembali duduk di kursi samping brankar Zian.


"Bunda gak tau apa alasan kamu sampai berani minum minuman gak jelas di luar sana. Kamu tau kan punya penyakit apa?" Setelah lama memendam suara, akhirnya Riana bicara tentang keluhan dalam kepalanya. Zian terdiam, sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kaget atau takut, justru dia memilih untuk diam saja.


"Sekarang Bunda tanya, apa sih yang kamu dapat dari minuman itu? Masalah kamu langsung selesai? Nggak kan?" Riana memejamkan matanya sesaat, menahan sesuatu yang memaksa untuk keluar. Zian terus saja menunduk, paham kok di sini dia yang salah.


"Kamu tau kan, belum sampai satu bulan setelah operasi jantung kemarin dan kamu dengan gampangnya nyiksa diri lagi? Bunda gak habis pikir. Oke, kamu boleh sebut Bunda bawel atau cerewet, tapi ini demi kesehatan kamu Zian. Bunda gak mau perkara yang lama terulang lagi," Riana mengusap kasar matanya, Zian meremat kuat selimutnya, paling gak bisa lihat Riana nangis karena kesalahan Zian sendiri.


"Maaf," hanya kata maaf yang terlontar dari bibir Zian yang bergetar, bulir bening mulai turun membasahi pipinya. Riana menelan ludah kasar, mengusap punggung tangan Zian yang tersemat jarum infus.


"Bunda sama sekali gak marah sama kamu, hanya saja Bunda mohon jangan seperti itu lagi. Kalo ada masalah cerita saja sama Bunda, jangan lampiaskan pada perbuatan yang gak jelas. Bunda gak mau kamu di cap nakal oleh orang lain, dan Bunda gak mau kamu drop lagi." Zian mengangkat kepalanya dan menatap lekat netra teduh yang saat ini beradu pandang dengannya.


"Zian janji gak bakal ulang lagi," Zian mengangkat tangannya, berjanji. Riana tersenyum tipis kemudian mencium kening Zian penuh sayang.