Selfish

Selfish
Selfish : 78



Musim liburan sudah tiba. Ini lah waktu yang tepat untuk refreshing otak dari lelahnya kegiatan belajar, apalagi saat ujian kemarin yang menghabiskan setengah dari pikiran waras para siswa.


Arin sudah siap dengan outfitnya, sebenarnya dia tuh males banget harus beraktivitas apalagi hari ini dia akan mendaki gunung, susah payah Arin menolak untuk ikut, tetapi Rini ngotot minta ditemenin. Banyak sih yang Arin kenal ikut juga, seperti Bastian dan yang lainnya. Terpaksa pagi-pagi sekali Arin bangun dan bersiap-siap itu pun jika dia tidak ditelpon Rini pagi-pagi buta, Arin gak akan bangun.


"Gue kuat gak ya naik gunung? Terakhir waktu SD dulu, itu pun cuma setengah doang karena gue keburu pingsan. Takut banget hal dulu keulang lagi, mana nanti ngerepotin banyak orang lagi," Arin mengusap wajahnya kasar, antara gusar dan khawatir. Ternyata bukan perkara masuk hutan saja yang bikin Arin trauma, naik gunung juga bikin dia ragu.


10 menit berlalu, Arin masih sibuk berperang dengan opininya, sampai gak sadar Rini sudah beberapa kali mengiriminya pesan karena sebentar lagi mereka akan berangkat.


Suara ketukan di pintu sontak membuat Arin terperanjat, buru-buru ia berlari untuk melihat siapa dalang dari si pengetuk pintu itu. Ternyata itu adalah Rima, tampak di wajahnya guratan cemas sekaligus khawatir, sama persis seperti apa yang Arin rasakan saat ini.


"Kamu yakin mau mendaki? Bukit rendah depan rumah nenek saja kamu pingsan, sampai harus dilarikan ke rumah sakit waktu itu," tutur Rima, mencubit gemas hidung Arin.


"Itu kan dulu, Mama. Arin juga masih kecil waktu itu, kalo gak salah kelas 3 SD, ya wajar pingsan karena kan di umur segitu belum terlalu kuat. Beda kalo yang sekarang, mungkin berubah," jelas Arin meyakinkan padahal jujur saja dia juga takut dan ragu membuat sang Mama khawatir dan menyusahkan banyak orang nantinya.


Rima menatap Arin teduh, dia percaya banget sama Arin, tapi kembali lagi pada fakta bahwa Arin sejak masih bayi imun nya sudah lemah makanya dia tuh gampang terkena penyakit. Tapi, Rima hanya bisa berdoa yang terbaik, semoga tidak kambuh lagi.


"Baiklah, kamu sudah siap? Teman kamu sudah nunggu di luar," Rima menuntun Arin turun, untung saja barang yang perlu dibawa sudah Arin pindahkan ke lantai bawah biar gak buru-buru, dan katanya Rini bakal jemput Arin pakai mobil biar gampang. Kasihan Betty diabaikan dulu.


Sayup-sayup dapat Arin lihat dua orang duduk di sofa membelakanginya sambil ngobrol santai. Arin menautkan alis bingung, dua manusia itu tak tampak seperti Rini tapi masih bisa Arin kenali.


"Loh, kalian berdua ngapain di sini?" tanya Arin saat mendapati Zian dan Dion seperti tengah bercanda dilihat dari cara ngobrolnya, terakhir ketemu perasaan gelud mulu.


"Mau jemput lo lah, katanya mau muncak. Temen lo siapa tuh namanya lupa gue, Runi apa Rain gak tau lah, katanya gak bisa jemput lo mau anter nyokapnya ke pasar," ucap Dion lalu lekas berdiri.


"Lo ikut juga? Siapa yang ngajak?" Arin kembali bertanya karena penasaran tentunya.


"Ehh, emang lo doang yang boleh muncak, kita juga bisa lah. Ini kan hari gunung Internasional, jadi banyak yang ikutan," jawab Dion dengan songong, terganggu banget dia dengan pertanyaan Arin yang seperti tidak setuju jika dia ikut muncak.


Arin merotasikan bola matanya, kini ia beralih menatap Zian yang cuma senyum-senyum mesem lihat percekcokan mereka berdua.


"Lo pula, mau ikutan juga?" tanya Arin pada Zian, gak yakin banget kalo Zian kuat secara dia baru keluar rumah sakit, nekat banget.


"Gue ikutan nganter lo aja ke pos awal, gue mana kuat," kekeh Zian. Arin membulatkan bibirnya sambil ngangguk paham.


.


Arin turun dari mobil Zian, di pos awal sudah ramai orang, kalo kayak gini semakin nambah malu Arin apabila dia beneran pingsan di tengah perjalanan nanti.


Rini melamai-lambai dari arah banyaknya kerumunan orang bersama Bastian di sampingnya yang tampak malas berjalan karena ditarik paksa oleh Rini.


Setelah sampai berdiri tepat di depan Arin, Rini nyengir kuda sambil garuk telinga membuat Arin menatapnya ngeri.


"Kenapa lo? Rabies?"


"Lagian lo nyengir-nyengir gak tau tempat."


"Emang kalo rabies nyengir ya, bukannya ngamuk?"


"Itu sih tergantung reaksi aja." Untuk yang kedua kali, telapak tangan Rini mendarat di kepala Arin, kali ini lebih keras sedikit tetapi sukses membuat Arin hampir nyusruk ke pelukan Zian. Acieee..


"Ehh, ayam kakinya berapa sih?" Akibat terlalu lama diam dan gak ada topik yang cocok, Rini menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu. Arin menatapnya jengah, sekosong itukah otak Rini sampai kaki ayam aja dia gak tau.


"15 kayaknya."


"Buset, banyak bener. Itu ayam apa siluman?."


"Jelmaan!!"


"Wahai penghuni neraka, bisakah kalian diam karena sebentar lagi kita akan berangkat. Simpan saja nafas kalian untuk nanti di perjalanan," ujar Dion sok menceramahi padahal mulut dia gatal juga pengen ikutan nimbrung. Keduanya auto langsung kicep, secara gak langsung ucapan Dion ada benarnya juga walaupun sedikit membuat asap mengepul di atas kepala.


"Woy, Zian. Agatha kok gak ikut?" tanya Dion yang sepertinya sudah rindu pada mantan TTM-nya, tapi sayang sekali dia digantung.


"Dia ada urusan, katanya sih mau seleksi kampus," jawab Zian santai. Dion manggut-manggut kayak orang paham aja.


.


Pendakian di mulai, awalnya sih fine-fine aja, seru juga ternyata naik gunung apalagi sama banyak orang, lumayan bisa dapat temen baru, bisa kenalan dengan orang beda daerah dan beda kota. Beda lagi kalo Rini, dia ngintilin yang cowo mulu, kalo ada yang ganteng gak pakai pikir panjang langsung dia pepet sampai Rini gak sengaja ngejauh dari kelompoknya.


Bastian ngumpat kesal gara-gara Rini hilang entah di kelompok mana, tuh anak gak bisa apa ya diem sambil jalan gak perlu rayu sana-sini. Tapi untung saja Rini cepat ketemu, dia ada di posisi paling depan, melambai meski Rini mendapat tatapan aneh dari pendaki lain, tapi ia tidak peduli. Bukan Rini namanya kalo gak tau malu.


"Lo ngilang kemana hah? Capek tau gak nyariin kambing kayak lo. Awas, hilang sekali lagi gue gulingin lo ke bawah," Bastian menjewer telinga Rini setelah berdiri tepat di depan Rini.


"Ampun Bang. Tadi gue keseret angin doang."


"Halah, angin ****** beliung aja gak sanggup nerbangin badan lo itu," Bastian melepaskan tangannya dari telinga Rini lalu berjalan dengan acuh.


"Mampus lo, siapa suruh kegatelan. Gue aduin kak Rangga baru tau rasa lo," ejek Arin sambil tertawa renyah.


"Maka dari itu gue bersyukur, untung aja dia gak ikut."


"Ekhem. Kata siapa gue gak ikut??"


......................


Untuk masalah hari gunung Internasional itu aku ngarang ya semuanya, jadi jangan dikaitkam dengan yang asli huhuuu😀