Selfish

Selfish
Selfish : 70



Hari senin tiba, semua siswa sudah bersiap untuk mengikuti ujian masing-masing, kelas mereka tetap sama tetapi tempat duduk saja yang dipisah.


"Gak adil banget, masa gue duduk sendirian di pojokan, gak bisa diskusi dong kita," Rini merenggut karena dia kebagian meja pojok paling belakang. Sedangkan Arin di urutan ke dua dari kanan.


"Ya bagus dong, jadi lo gak perlu banyak ditegur oleh guru pengawas, karena tempat duduk lo jauh dari pandangan," jawab Arin.


"Sama aja nyet, gue gak bisa nyontek. Gurunya juga pasti paham yang duduk paling belakang suka nyontek, dan gue gak mau ya dapet julukan seperti itu. Gue yakin, nanti guru pengawas pasti lebih banyak ngawas deket meja gue dibanding di depan," Rini sangat yakin dengan ucapannya karena memang sudah pengalaman waktu jaman SMP.


Bel berbunyi membuat Arin segera berlari ke tempat duduknya meninggalkan Rini sendirian di pojokan.


Semua sudah siap pada posisi, untung yang ngawas pada jam pertama gurunya baik, jadi untuk ujian kali ini cukup memuaskan karena bisa menjawab dengan tenang.


Berbeda dengan kelas lain yang kebagian guru killer sebagai pengawas. Kelas Zian contohnya.


"Psst, psst. Zian woyy, Zian. Janga sampai sepatu gue mendarat di otak udang lo ya," Rafi berbisik pelan, kebetulan tempat duduk mereka sebelahan, padahal Zian udah berharap bakal dipisahin dengan dua cecurut temannya itu, tapi takdir berkata lain, Zian duduk di tengah, samping kiri ada Rafi dan samping kanan Rangga.


"Apa sih?" Zian ikut berbisik tapi tidak menoleh ke arah Rafi.


"Nomer 30 jawabannya apaan? Gue gak belajar untuk soal ini," ucap Rafi sambil terus melirik gantian ke arah guru di depan yang masih sibuk dengan ponselnya, inilah kesempatan untuk Rafi mengusik Zian.


Zian menggerakkan bibirnya menyebut huruf 'B'. Rafi tersenyum senang lalu mengacungkan jempol, menyilang pada kertas dan kembali melanjutkan menjawab soal yang menurutnya gampang. Tiba di soal nomer 35, Rafi kembali dibuat bingung karena seingat dia, guru Fisika belum mengajar tentang materi tersebut, padahal udah, Rafi-nya aja yang kurang belajar.


"Zian, nomer 35 rumusnya kayak gimana?" Zian yang sudah muak ditanya hanya melirik Rafi datar kemudian lanjut menulis karena Zian sudah sampai pada soal esay. Rafi geram, ditariknya lengan baju Zian samai si empunya salah nulis. Baru saja Zian hendak membalas perbuatan Rafi, suara guru segera menghentikan aksinya.


"Rafi, Zian!! Kalian mau ibu keluarkan dari kelas ini, daritadi Ibu lihat kalian bisik-bisik tetangga. Cepat kerjakan atau Ibu robek kertas ujian kalian," ancam guru pengawas yang ternyata sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka.


Rangga hanya bisa tertawa dalam diam mengejek dua temannya yang kini saling menatap sengit satu sama lain, tidak dapat diprediksi kejadian apa yang terjadi selanjutnya setelah selesai ujian nanti.


.


"Sayang, kapan rencana kamu balik ke London?" tanya Kia (Mama Laras). Yang ditanya hanya menoleh sekilas dan kembali mengalihkan pandangannya ke layar televisi yang menyala.


"Dua minggu lagi, maybe." Kia mengangguk pelan, wanita paruh baya itu mengusap kepala Laras penuh kasih, mengecup beberapa kali pada kening sang putri kesayangan.


"Tumben akhir-akhir ini kamu gak keluar bareng Zian, biasanya juga tiap hari, kalian ada masalah?" ada yang mengganjal di pikiran Kia, Zian saat ini jarang banget ke rumah. Bukannya menuntut sih, tapi aneh aja secara mereka dulu bucin banget satu sama lain.


"Kan Zian sibuk buat persiapan ujian, Ma." Bohong, tentu saja itu adalah solusi terbaik saat ini. Kia itu tipikal orang yang tegas setelah Papa Laras, kalo ada yang menyakiti putri kesayangannya siap-siap saja, kalo Kia tau hubungan anaknya merenggang, maka dengan tegas dia menyuruh Laras untuk berpisah dengan Zian, dan Laras tentu tidak mau hal itu terjadi. Apa pun masalahnya, dia tidak mau putus dengan Zian, meski sudah tak cinta lagi Laras tidak peduli, dengan tekad yang kuat akan ia buat Zian jatuh cinta lagi padanya.


"Ma, bisa gak Laras kuliah di Indonesia saja, biar makin deket sama Mama dan Papa. Jujur, selama satu setengah tahun ini, Laras merasa kesepian di sana, walau punya banyak teman tetapi rasanya beda banget sama yang di sini," tiba-tiba saja usulan tersebut muncul di kepala Laras. Kia mengerutkan dahi, bukannya Laras sendiri yang bilang dulu bahwa London adalah negara impiannya.


"Kenapa begitu? Kamu udah gak betah di sana?" Laras mengangguk ragu, sebenarnya bukan karena alasan gak betah, hanya saja ninggalin Zian tuh berat banget apalagi setelah tau sebuah fakta yang mengejutkan.


"Kamu yakin mau pindah? Padahal bentar lagi wisuda," Kia menghela nafas. Laras jadi ikutan mikir, sia-sia pengorbanannya selama ini kalo harus berhenti di tengah jalan.


Mereka terjebak keheningan sementara, masih sibuk dengan pikiran masing-masing.


.


Di kantin, Arin tampak kesusahan membawa tiga mangkok bakso di nampan karena nampan tersebut hanya muat dua mangkok saja, otomatis satunya lagi Arin bawa pake tangan. Suasana kantin cukup ramai membuat Arin mau tak mau harus berjalan pelan dan menghindar agat tidak tabrakan dengan pengunjung kantin yang lain.


Salahkan Rini yang gak mau bantuin Arin bawa pesenan dia, katanya Rini galau karena waktu ujian tadi banyak yang ia jawab salah, perkiraan nya ternyata benar, guru pengawas lebih banyak ngawas di dekat meja nya bahkan sampai berdiri di samping Rini melihat dia mengerjakan soal ujian, alhasil karena gugup Rini asal jawab yang penting cepat selesai dan boleh keluar awal.


PRANG!!!!!!!!


Suara benda pecah sontak membuat seluruh atensi siswa yang berada di area langsung mengarah pada sumber suara.


Arin terduduk di lantai dengan rok serta baju yang sudah basah karena terkena tumpahan kuah bakso, tangan dan betisnya memerah karena panas.


Semua siswa mengerubungi Arin dan berbisik-bisik gak jelas, bahkan ada yang terang-terangan menertawai Arin di tengah situasi yang sedang kacau ini.


Rini menyisir kerumunan yang berdempetan menghalangi jalan.


"Minggir setan! Gak usah halangin jalan!"


"Arin, lo gak apa-apa kan?" Rini bertanya dengan panik, melihat Arin yang terduduk lemas membuatnya semakin kalang kabut. Tiba-tiba Zian datang dan memerintahkan semua siswa untuk menyingkir.


"Arin, tangan lo memerah. Kita ke UKS sekarang ya," tanpa menunggu persetujuan dari Arin, Zian langsung saja menggendong Arin ala brydal style, melewati setiap siswi yang berteriak histeris karena perlakuan manis Zian serta sigap nya dia sebagai lelaki sejati.


"Ishh, sia-sia gue bikin tuh cewek kepeleset."