Selfish

Selfish
Selfish : 62



Laras berdiri mematung di depan pintu, dahinya berkerut jelas sekali dia terlihat bingung dengan situasi yang ada di hadapannya kini. Sesekali Laras memperhatikan perempuan yang Zian ajak ngobrol di halaman sedangkan Laras sendiri disuruh nunggu di dalem tapi gak digubris sama sekali oleh perempuan cantik itu, karena penasaran ya udah Laras tungguin aja sampai selesai, sekalian nguping meski telinganya tidak dapat menangkap bunyi apa pun.


Menghembuskan nafas pelan, ternyata capek juga berdiri kayak patung penjaga pintu, langkahnya bergerak pelan menghampiri dua insan yang masih terlibat pembicaraan yang Laras sendiri tak tau apa pembahasan yang sebenarnya.


"Zian, dia siapa?" pertanyaan Laras membuat keduanya menoleh dan menatap satu sama lain, Zian tampak gugup sedangkan Arin balik menatap Laras penuh tanya begitu juga dengan Laras menatap Arin datar.


"Kamu sebaiknya tunggu di dalam saja, Bunda ada di kamarnya kok," ucap Zian memilih untuk tidak menjawab apa yang Laras tanyakan. Arin menautkan alisnya bingung, baru pertama kali dia melihat perempuan ini, jujur Arin akui dia cantik dengan rambut tergerai, kulitnya putih bersih alami, tubuh tinggi dan langsing, idaman para lelaki pokoknya, Arin tiba-tiba jadi insecure dengan kondisi badannya kayak ikan teri, jauh beda lah sama Laras.


"No, no. Zian, aku mau bareng kamu," jawab Laras, dan dengan sengaja menggandeng lengan Zian di depan Arin yang masih loading, lemot banget sih Arin astaga...


"Arin, besok kita lanjut lagi. Untuk sementara kamu bawa aja barang itu," Zian bergegas menarik Laras ke dalam rumah menyisakan Arin di halaman depan sambil memegang kotak berisi kalung kemarin.


"Seriously, gue ditinggal sendirian gitu doang? Gak ada tawaran bertamu apa?" Arin merenggut kesal, meremat kuat kotak warna merah di tanganya lalu berniat untuk pergi sebelum suara lembut nan indah mengiterupsi pendengarannya.


"Loh, ada Arin juga ternyata. Sana masuk, sayang. Bunda mau ke Minimarket dulu beli cemilan untuk kalian," ujar Riana yang sudah siap dengan outfit belanjanya.


Arin balik badan dan tersenyum kikuk, menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.


"Gak apa-apa Bunda, Arin harus pulang sekarang, ular peliharaan Arin belum dikasih makan," jawab Arin asal. Tanpa menunggu jawaban dari Riana, Arin sudah ngacir pergi takut Bunda Riana maksa.


Berjalan gontai, menapaki aspal di bawah teriknya matahari. Arin menyeka peluh yang mengalir di dahi. Tau begini Arin gak akan mau ke rumah Zian, dia menyesal sekali.


Memang sih jarak antara rumahnya dengan Zian tidak begitu jauh, tapi tetap saja Arin gak suka jalan kaki apalagi panas-panasan begini, mana taksi gak ada yang lewat lagi, meskipun ada Arin gak bakal naik sih karena memang dia gak bawa uang. Mau tak mau, Arin terpaksa jalan kaki, masih mending daripada pulang dari sekolah jalan kaki.


.


Laras mengekori Zian masuk kamar.


"Ngapain?" tanya Zian bingung. Laras gelagapan karena ditanya seperti itu.


'Lah iya ya, aku ngapain ikutin Zian ke kamarnya? Efek kangen mungkin sampai bikin aku gak bisa jauh-jauh dari Zian'


"Malah bengong, keluar dulu aku mau ganti baju," ucap Zian mendorong punggung Laras yang sudah setengah masuk di ambang pintu.


"Tapi kan--"


"Bukan ih, PD banget jadi orang. Aku cuma kau pinjam charger doang," jawab Laras beralasan. Zian ber-oh ria, berjalan menuju meja belajarnya dan menyerahkan apa yang Laras minta.


"Sudah kan? Sana keluar!" Zian menutup pintu perlahan, Laras masih diam mematung sambil memandangi charger dan pintu kamar Zian secara bergantian.


"Kamu ngapain berdiri di situ?" Riana datang dan tiba-tiba mengejutkan Laras yang masih fokus menatap pintu kamar Zian.


"Ahh Bunda ngagetin aja, aku lagi tungguin Zian ganti baju," kekeh Laras, meraih tangan yang lebih tua untuk bersalaman. Riana tersenyum getir, jujur saja Riana tidak suka cara berpakaian Laras yang menurutnya kurang sopan, rok mini sepaha dan baju setengah badan yang lebih mirip BH ketimbang disebut baju. Dulu Laras juga sering pakai pakaian mini tapi kok sekarang makin ngelunjak ya, kalo gak rok ya celana ketat, Riana jadi ragu pada Laras.


Awal dateng, Laras tadi pake cardigan tapi karena gerah akhirnya dia buka.


Pintu kamar Zian terbuka menampilkan sosok lelaki dengan kaos oblong warna hitam dan celana training warna hitam juga, menatap datar kepada dua perempuan yang tengah mengobrol santai di depan pintunya.


"Bunda ke kamar dulu, cemilanya sudah Bunda siapin di bawah. Kalo kalian lapar juga sudah Bunda masakin. Hmm untuk Laras, ikut Bunda sebentar," Riana memimpin jalan, Laras masih membisu menatap Zian meminta penjelasan tetapi lelaki tampan itu hanya mengangguk.


"Aku tunggu di bawah," Zian melambaikan tangan di udara, berlari kecil menuju tangga.


.


Zian asik sekali menonton TV, layar yang menampilkan seorang tokoh laki-laki yang dikubur badannya sedangkan kepalanya dibiarkan menyembul, Zian terkekeh ada-ada saja ide sang sutradara dalam membuat film. Fokusnya seketika teralihkan karena melihat Laras, iya Laras baru datang dari lantai atas, tapi bukan itu yang membuat Zian terdiam, penampilan Laras jauh berbeda kali ini, tidak ada baju kurang bahan yang ia kenakan waktu datang ke sini.


"Apa liat-liat?" Waja Laras sedikit berubah, dia tampak kesal. Zian menggeleng lalu mengalihkan atensinya pada layar televisi.


Laras menghempaskan tubuhnya di atas sofa, menghentakkan kakinya di lantai sambil ngedumel gak jelas, hal itu tak lepas dari pandangan Zian namun memilih diam membiarkan Laras melampiaskan rasa kesalnya pada lantai yang tak berdosa. Dengan menerawang saja Zian sudah bisa tau jika Laras kesal karena disuruh pakai gamis oleh Ibunda-nya, Zian tau betul Laras paling anti dengan pakaian panjang apalagi gamis. Laras sering bilang jika pakaian seperti itu membuatnya susah berjalan atau berlari, makanya dia lebih suka pakai celana atau rok yang gak terlalu panjang.


Merasa tak diperhatikan, Laras kembali ngamuk kali ini merebut paksa cola di tangan Zian yang masih terbuka, karena Laras ngerebutnya pake tenaga dalam, cola tadi sedikit tumpah ke celana Zian, bahkan mungkin setengahnya.


"Kamu apa-apaan sih?" Zian mengeraskan rahangnya, rasa dingin yang menyapa kulitnya sedikit membuat Zian bergidik kedinginan.


"Ma-maaf," Laras menunduk, bentakan Zian sukses membuat nyalinya menciut. Tidak menggubris permintaan maaf Laras, Zian bergegas ke kamarnya untuk ganti baju, lagi!!


Laras memandangi kepergian Zian dengan tatapan sendu, baru pertama kalinya Zian berlaku seperti itu padanya, biasany jika Laras berontak bagaimanapun Zian tidak pernah sesekali membentaknya, tapi kali ini jauh dari eksptektasi Laras.


"Zian, kamu berubah," lirihnya dalam diam, setitik bulir bening meluncur dari pelupuk mata indahnya.