
Full mata pelajaran Arin lewati karena harus tetap stay di UKS, enak sih bebas dari belajar, tapi bagi Arin rasanya tuh kayak hampa aja gitu, dateng ke sekolah cuma buat tiduran doang tanpa ada penjelasan guru yang membosankan.
Rini selaku teman yang selalu ada menemani Arin di UKS setiap selesai pelajaran.
"Gak pulang lo?" Rini datang sambil membahu tas nya, dan di tangan kirinya ia menengeng kresek hitam, entah apa isinya Arin tidak terlalu kepo.
"Pake nanya lagi lo Siti, ya pulang lah, ya kali gue nginep di sini," sahut Arin masih dengan posisinya memunggungi Rini, badannya tiba-tiba sakit jadi tidak boleh asal digerakkan, punggungnya kayak beku begitu dan gak bisa berbalik tanpa bantuan. Rini berdecak malas, dengan langkah gontai menghampiri ranjang Arin.
"Nih, makan siang dulu, lo kan belum sarapan."
"Lo cenayang ya, kok tau gue belum sarapan sama sekali?"
"Si anjir, lo sendiri yang bilang goblok, masa gak inget?" Arin menaruh telunjuk di dagu, memasang ekspresi mikir yang membuat Rini kesal, cekek temen sendiri dosa gak sih?
"Lo pulang gimana dah? Ada yang jemput?" tanya Rini, setelah keduanya terdiam cukup lama, hanya terdengar kunyahan Arin yang memakan sepotong roti dari Rini.
"Tau ah, mungkin jalan atau ngesot atau kayang juga gak apa-apa, Papa kayaknya bete deh sama gue karena tadi pagi gue bangun kesiangan. karena gara-gara nunggu gue juga Papa telat, dan alhasil Papa ninggalin gue, mungkin beliau enggan jemput gue," Arin mendongak, mengingat kejadian kecil namun berdampak besar sehingga dia berakhir di UKS.
"Ya udah, karena gue baik hati dan tidak sombong, gue pesenin ojol ya biar lo bisa pulang," Rini sudah siap dengan ponsel pintarnya.
"Jangan!!" Arin mencegah, membuat Rini melotot dan memasang raut bertanya.
"Kenapa sih? Udah baik niat gue malah lo tolak," Rini mencebik kesal.
"Ya lo mikir lah goblok, masa ia gue naik ojol dengan posisi rebahan, lo tau kan badan gue sakit banget, kaku kayak es batu," sahut Arin dengan nada ketus.
"Iya-ya, gak ada space dong buat abang ojol nya, gara-gara lo menuhin jok," Rini tertawa setelah membayangkan jika benar kejadian begitu, aneh banget Arin dibonceng sambil tiduran di belakang.
"Kalo pesen taxi, sorry Rin. Uang gue gak cukup, soalnya habis buat jajan, sisanya buat beliin lo roti sama air karena lo belum sarapan," Rini memainkan ujung jemarinya, merasa gagal membantu Arin yang sangat membutuhkan bantuan saat ini.
"Gak usah, gue kesel sama dia, karena tuh anak gue jadi begini, gue masih gak mau ngomong ataupun minta tolong sama dia," Arin menolak dengan cepat, Rini menyebut nama Zian sudah membuat telinga dan hati Arin seketika panas, apalagi setelah pengakuan yang katanya menambahkan hukuman untuknya jadi dua kali lipat, yah walaupun sudah minta maaf dan Arin maafin tetapi tetap saja rasa kesalnya membuncah setiap ingat Zian.
"Terus, gue harus minta tolong siapa lagi selain dia?" Rini sudah pasrah, orang kenalan Arin di sekolah sangat sedikit, dikarenakan dia juga yang tertutup sama orang lain, makanya jarang ada yang nyapa.
"Minta tolong kak Bastian kali ya, dia bawa mobil gak?" tiba-tiba Arin kepikiran satu nama, baru saja wajahnya cerah secerah harapan saya, Rini berucap : "Gak, dia bawa motor. Dan dia balik sama gue, mau temenin dia cari bahan untuk praktek kelulusan juga hari ini. Masa iya kita bonceng tiga dengan posisi lo tiduran kayak gini, gak muat lah, kalo lo mau ditaruh di depan sambil kaki lo selonjoran terus badan hadap bawah sih gak apa-apa," jelas Rini. Arin merenggut kesal.
"Kenapa lo yang diajak pulang bareng, biasanya gue yang dia paksa," Arin segera mengatup bibirnya karena salah bicara.
"Ciee, cemburu ya, ehh jangan-jangan lo sudah numbuh perasaan sama bang Bastain, wow gue gak menyangka secepat itu lo buka hati," Rini tertawa karena senang menggoda Arin, lihat saja ekspresinya sudah judes dan kesal.
"Rini asuu, kalo gue sehat sudah gue gantung lo di plafon," Arin berteriak, sementara Rini terus saja tertawa, seakan kemarahan Arin adalah lelucon baginya.
Di tengah perdebagan mereka yang gak bermutu, Zian datang dengan wajah datarnya.
"Ayo pulang, gue anter," seketika hawa di dalam UKS menjadi dingin dan mencekam. Ini perasaan gue gak lagi shooting film horor deh, kenapa jadi mencekam begini, batin Rini yang seketika dian saat kedatangan Zian.
"Gak mau, mending gue nginep di sini daripada harus lo yang anter, amit-amit," tolak Arin mentah-mentah, Rini meneguk salivanya susah payah, dia berada di tempat yang salah.
"Ya sudah kalo mau nginep di sini, kalo lo belum tau asal usul sekolah ini sih gak apa-apa, lo tau kan sekolah kita ini dulu bekas kuburan umum yang digusur karena ada pembangunan," Zian mencoba menakut-nakuti.
"Halah, candaan waktu SD lo bawa-bawa, gak percaya gue. Mau sekolah ini bekas kuburan, bekas rumah sakit, bekas perumahan Belanda, bekas Mall angker, gue gak peduli, gak jaman percaya sama begituan."
"Gue gak bercanda, serius kok. Tanya aja sama guru di sini, sering kali diganggu waktu ada kemah di lapangan, terus toilet suka kekunci sendiri, apalagi di UKS ini banyak banget penunggunya. Tiga minggu yang lalu, ada kakak kelas yang bolos ke sini terus tidur sampai lupa waktu, dan bangun-bangun sudah hampir maghrib, pintu UKS dikunci, lampu mati, dia panik setengah sadar, sampai matanya gak sengaja nagkep sosok bayangan putih, tuh di sebelah ranjang lo, berdiri seekor ehh maksud gue seorang perempuan dengan jubah putih penuh dengan lumpur, mungkin dia gak punya mesin cuci makanya gak pernah cuci baju, oke lanjut. Sosok perempuan itu perlahan berjalan ke arahnya dan mencekiknya sampai kehabisan nafas, untung gak mati, cuma pingsan doang. Lo pernah denger kan kasus yang viral beberapa minggu lalu?" Oke, Arin merinding sekarang. Dapat cerita saja bulu kuduknya berdiri apalagi ngalamin sendiri, dan cerita yang dimaksud Zian memang sudah kejadian, dan sempat menghebohkan satu sekolah. Rini ikutan merinding, dia mengusap tengkuknya yang terasa seperti ada yang meniupnya.
"Rin, bang Bastia chat gue nih, dia sudah nunggu di parkiran, gue duluan ya," Rini buru-buru keluar.
"Gimana? Beneran mau nginep di sini? Gue tinggal ya," Zian hampir melewati pintu sebelum suara Arin menginterupsinya, seketika senyum bahagia mengembang di wajah tampannya.