Selfish

Selfish
Selfish : 11



"Ciee yang habis pulang kencan, senyam-senyum gak jelas," Arin dikagetkan oleh suara laki-laki yang menungguinya di ambang pintu.


"Hah? Heh? Ngapain lo di sini?" Arin yang aslinya kagetan berusaha tetap stay cool agar tidak kelihatan jelas bahwa dia kaget. Dion tidak menjawab dan lebih memilih masuk lalu asal duduk di sofa, Arin ikut duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Dion.


"Lo kok bisa ada di sini?" Arin memodif sedikit pertanyaannya, jujur dia benar-benar penasaran. Dion tampak menghela nafas pasrah.


"Gue tadi mau ngajak lo jalan, tapi kata Tante Rima lo pergi dengan pacar lo, ya udah gak jadi," jawab Dion sembari melirik Arin sekilas, timbul rasa kecewa dari raut wajahnya. Arin jadi cemas dan merasa bersalah, tapi semua ini sepenuhnya bukan salah dia sih.


"So-sorry, gu-gue gak tau. Ehh by the way itu bukan pacar gue ya, dia cuma kakel yang minta tolong cariin hadiah buat pacarnya, jadi gue bukan siapa-siapa," Arin mengelak dari fakta yang disebutkan Dion tadi.


"Hmm syukurlah, kalo begitu lain kali saja. Gue balik dulu," Dion melangkah menuju pintu tanpa berbalik untuk menatap Arin.


Arin merasa aneh di sekolah, mulai dari saat dia di depan gerbang sampai masuk kelas.


"Ini kenapa semua orang pada natap gue sinis gitu? Gue ada utang kah sama mereka? Atau ada kotoran di wajah gue?" Arin mengusap-usap wajahnya kasar siapa tau beneran ada kotoran menempel pada wajah mulusnya yang semulus pantat panci.


"Gak ada kok, wajah gue bersih." Arin memutuskan untuk bertanya saja pada salah satu teman satu kelasnya, namanya Rini kebetulan gadis itu duduk tepat di belakang Arin, Rini juga tampaknya sedang asik dengan ponselnya sampai Arin datang pun gak sadar. Kalau boleh jujur, Arin tuh bukan tipe orang yang nyapa duluan atau manggil duluan, paham lah sisi orang instrovert. Tapi masalahnya ini keadaan mendesak banget, Arin segera buang jauh-jauh tuh rasa canggungnya, perasaa itu terkalahkan oleh rasa penasaran yang besar. Bagaimana tidak penasaran coba, para siswi sudah berkumpul di ambang pintu hanya untuk melihat Arin sambil bisik-bisik gak jelas, Arin jadi kesal padahal dia benci jadi pusat perhatian.


"Rini!!!." Anak yang dipanggil segera menoleh dan melepas earphone yang dia pakai kemudian menatap Arin dengan serius.


"Kenapa?"


"Kok semua orang pada natap gue? Apa ada yang salah sama wajah gue? Atau mungkin ada isu tentang gue yang buruk makanya gue jadi pusat perhatian begini?" tanya Arin dengan rasa penasarannya yang begitu mendalam.


"Loh? Lo gak tau? Beritanya sudah tersebar di group sekolah, lo gak gabung ya di group itu?" Rini malah balik bertanya membuat Arin geregetan, tinggal kasih tau doang apa susahnya sih.


Arin segera menggeleng menanggapi ucapan Rini yang penuh teka-teki.


"Ihh kudet banget sih lo, sini-sini gue masukin kebetulan gue jadi admin, mana ponsel lo?"


"Rini, Rini. Masalah masuk atau nggak nya bisa nanti, sekarang lo kasih tau aja apa yang sebenarnya terjadi."


Rini membuang nafas nya pelan kemudian meraih ponsel miliknya yang dia taruh di atas meja.


"Nih, lihat!!"


"Apa-apaan ini?" Arin merebut ponsel Rini dan hendak menghapus foto tersebut tapi percuma semuanya sudah tersebar, mau menghindar juga gak ada gunanya, Arin benar-benar frustasi.


"Siapa yang nyebar ini Rini?"


Rini hanya mengedikkan bahunya tanda ia tidak tau.


"Username nya gak ada, gue rasa dia bukan dari sekolah ini, atau mungkin ya setau gue bisa jadi orang yang sebar berita ini dari sekolah sini hanya saja pakai akun fake biar gak ketahuan, gue rasa juga pasti yang melakukan ini adalah orang yang tergila-gila pada kak Zian makanya dia selalu nguntit kak Zian kemana pun dia pergi, sampai segitunya," Rini hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Ya wajar-wajar aja, siapa sih yang gak tertarik sama pemuda tampan itu, udah ganteng, jadi Ketos, kaya lagi, idaman para kaum perempuan.


Arin berlari keluar kelas, tujuannya sekarang adalah Zian, Arin ingin meminta penjelasan dan tanggung jawab atas semua ini.


Ruang Osis tertutup rapat, Arin berdecak kesal. Orang yang dicari gak ada di sini, mau nyari ke kelasnya Arin gak berani ditambah juga dia tidak terlalu hafal denah sekolah ini, mau ke ruang guru saja dia nyasar apalagi mau nyari kelas yang banyaknya astagfirullah ini. Dengan tangan kosong Arin kembali ke kelasnya, dia memutuskan untuk membicarakan ini nanti saja saat jam istirahat.


Selama pelajaran Arin tidak bisa fokus, sampai beberapa kali ditegur oleh gurunya karena keciduk gak memperhatikan pelajaran sampai satu kelas menengok ke arahnya dengan tatapan tidak suka sekaligus mengejek kala Arin tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru akibat kurang menperhatikan.


Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, tanpa menunggu guru keluar duluan dia langsung melesat pergi, maklumi Arin yang kurang sopan santun kepada gurunya.


Lokasi pertama yang dituju adalah ruangan Osis, lagi-lagi Arin merasa kesal karena pintu itu masih tertutup rapat kayaknya sih dikunci. Tapi Arin tidak putus asa, demi ingin meluruskan semua ini dia rela mencari Zian sampai ke pelosok negara bahkan sampai lobang semut pun akan dia cari asal semuanya bisa terselesaikan dengan baik. Sepertinya takdir sedang berpihak pada Arin, dia melihat Zian sedang ada di kantin bersama rekannya yang lain minus Agatha. Tanpa banyak tingkah, Arin segera menghampirinya.


"Permisi, maaf semuanya kalo saya ganggu. Boleh pinjam kak Zian nya sebentar?, ada yang harus saya bicarakan," Arin bertanya dengan sopan.


"Wihh ada apa nih? Konflik rumah tangga kah?" tanya Rafi dengan wajah menjengkelkan bagi Arin.


"Boleh kok, bawa aja. Asal dikembalikan dalam keadaan bagus dan kualitasnya masih bagus juga," ujar Rangga.


"Lo pikir gue barang?" Zian menonjok lengan Rangga.


"Udah sono pergi, selesaikan masalah kalian berdua biar gak ada salah paham," ujar Rafi yang sudah tau arah permasalahan nya ke mana. Zian mengangguk lalu menarik pergelangan tangan Arin untuk menjauh dari khalayak ramai.


"Lo mau ngomong apa?" Zian langsung to the point.


"Lo tau nggak tentang berita yang tersebar baru-baru ini? Gue minta sama lo buat klarifikasi tengang semuanya bahwa itu semua adalah salah paham," desak Arin. Zian tertawa sumbang. "Buat apa? Kan kita memang pacaran. Bagus dong kalau semua orang di sini tau," Zian terlihat tidak peduli. Sekali lagi Arin dibuat terkejut olehnya.