
"Dion, lo ngapain di sini?" Sejak keluar dari gerbang sekolah, maniknya tidak sengaja menangkap sosok figur yang tidak asing lagi, yah dia adalah Dion dengan motor kesayangannya tampak rapi di depan gedung sekolah Arin. Entah apa yang sedang dia lakukan, Arin tidak bisa menebak dengan pasti.
Pipi Arin tiba-tiba bersemu merah kala otaknya memberi sinyal bahwa Dion saat ini tengah menjemputnya, mungkin karena suruhan sang Mama mengingat Papa Arin gak bisa datang. Untuk memastikan dugaannya benar atau salah, Arin melangkah dengan semangat menghampiri Dion yang masih sibuk memperbaiki penampilannya di kaca spion.
"Loh, lo juga belum pulang ternyata," sahut Dion dengan senyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Mendengar kalimat Dion, Arin jadi semakin yakin bahwa dia lah yang dicari olej Dion.
"Tau aja lo gue belum pulang," Arin merapikan anak rambutnya ke belakang telinga. Lama mereka saling diam membuat Arin greget sendiri. Ini si kamvret gak ada niatan apa suruh gue naik, kok dia diem aja? Apa dia juga malu ya harus ngomong apa? Masa iya gue yang duluan bicara terus asal naik motornya? Gak-gak, gue perempuan yang masih punya harga diri tinggi, tapi gue juga capek lama-lama berdiri, mana panas banget lagi.
"Kenapa lo natap gue kayak gitu? Iya tau kok gue ganteng kembaran Lee min ho, gak usah puji gue, gue malu."
"Dih si najis, mirip ikan buntal kali."
"Wahh, jahat banget lo sumpah."
"Lo gak pulang?" Arin mencoba mancing Dion, berharap pemuda itu bilang bahwa dia tengah menjemput Arin.
"Nanti dulu, gue masih nunggu Agatha, lo duluan aja." Mata Arin membola, jadi alasan Dion ke sini bukan karena Arin, tapi Agatha? Arin merutuk dalam hati atas rasa percaya dirinya.
"A-Agatha?" Arin menegaskan.
"Iya, gue sudah janjian semalam mau jemput dia, tapi katanya masih ada rapat," Dion menjawab dengan santai tanpa tau kondisi Arin yang tengah membendung rasa malu.
"Bangshatt lo, mati aja sana, muak gue lihat muka lo," Arin memukul kepala Dion dengan tas ransel nya lalu berlari ke arah yang berlawanan dan mengacuhkan umpatan Dion yang kesakitan karena ulahnya.
"Tuh anak kenapa sih? Tiba-tiba dateng nyamperin dengan senyuman merekah seperti bunga mekar di pagi hari yang indah, ehh terus tiba-tiba ngamuk kayak singa. Ohh gue tau, pasti Arin datang bulan, kan biasanya cewek kalo masa haid kerjaannya cuma marah-marah gak jelas, mood nya gampang rusak. Oke gue maklumi walaupun kepala gue benjol, Arin bawa apaan sih dalam tas nya, keras banget sampai kepala gue sakit begini."
"Hai, lama ya? Sorry, tadi rapatnya mendadak banget padahal gue sudah buat janji sama lo, Dion kan?" Agatha datang menghampiri sementara Dion lagi-lagi mematung di tempat karena tersihir oleh visual Agatha yang cantiknya melampaui batas.
"Ehh lo gak apa-apa? Lo sakit?" Agatha melambaikan tangannya di depan wajah Dion.
"Sorry, sorry, gue kurang fokus. Kita jalan sekarang?" Dion berusaha mengontrol detak jantungnya yang berdegup 10 kali lipat dari biasanya, jika terus-terusan begini jantung Dion akan lepas dari tempatnya.
Agatha langsung naik ke atas motor kebanggaan Dion, tanpa disuruh Agatha langsung memeluk pinggang Dion erat membuat pemuda yang sedang dimabuk cinta pada pandangan pertama itu kewalahan menetralkan laju jantung yang terus berdetak gak karuan.
Dion mulai melajukan motornya membelah jalanan. Awas para pengendara, pangeran telah menemukan putrinya dari surga. Begitulah teriakan dalam hati Dion yang ingin memamerkan pada dunia bahwa Agatha sebentar lagi menjadi miliknya.
.
.
Arin menendang benda apa pun yang menghalangi langkahnya, seperti kaleng bekas dan botol plastik yang berserakan di jalanan.
"Bodoh banget sih lo, Arin. Ngapain coba lo samperin dia," Arin menjambak rambutnya kesal, kalo saja waktu bisa diulang gak akan pernah dia datengin Dion.
Bukan sebuah kebetulan atau apa, tiba-tiba saja sebuah mobil terlihat menepi di depan Arin yang terduduk di bangku panjang sambil memijat pangkal hidungnya. Arin tau betul mobil misterius ini punya Zian. Saat pemuda gagah itu turun dari mobilnya, Arin berusaha bersikap biasa saja dan merapikan rambutnya yang acak-acakan bekas jambakan tangannya.
"Arin!! Lo ngapain sendirian di sini?" Tanpa Arin jawab saja Zian sudah tau jawabannya.
"Gak dijemput?" tanya Zian lagi karena pertanyaan awal diabaikan langsung oleh sang punya nama.
"Bukan urusan lo, mending lo anter gue pulang sekarang juga, gue capek pengen tidur," ketus Arin, Zian tersenyum miring, Arin minta dianter kayak orang ngajak gelut.
"Sorry, Rin. Gue harus jemput nyokap di Mall, beliau ditinggal sama suaminya," ujar Zian sambil tertawa pelan, jelas saja bahwa dia sedang mengarang hanya untuk menggoda Arin.
"Ck, nyesel gue ngomong sama kanebo kering kayak lo," Arin mencebik kesal, untuk kedua kalinya dia dibuat malu.
"Gue bercanda, ya udah ayo naik, anter sampai atas kasur pun gue bersedia," Zian menaik turunkan alisnya sambil tersenyum smirk.
"Dasar otak mesum, gue laporin polisi lo ya atas kasus pelecehan," ancam Arin dengan nada berapi-api.
"Astagfirullah, Arin. Gue bercanda kenapa lo selalu nganggep serius sih, giliran perasaan gue lo anggep main-main."
"Banyak drama, lo mau anterin gue apa nggak sih?"
"Pindah!! Gue bukan sopir lo ya, enak banget duduk di belakang."
"Males," satu kata yang membuat Zian jengkel. Tanpa aba-aba, Zian langsung menggendong paksa dan memindahkan tubuh mungil Arin ke depan.
"Lo kecil tapi berat juga ya, dosa lo berapa ton?" Zian berusaha mengatur nafasnya seusai gendong Arin.
"Bukan dosa gue yang banyak, lo nya aja yang lemah." Capek dengan perdebatan yang gak akan pernah selesai walaupun sampai perang dunia ke-10 tiba, Zian memilih untuk melajukan mobilnya menuju rumah Arin, tampaknya gadis jutek ini juga sudah capek, lihat saja baru setengah perjalanan dia sudah ngorok.
"Woy bangun, sengaja ya supaya gue gendong lo ke kamar seperti yang gue bilang tadi?" Zian menggoyangkan lengan Arin tetapi sama sekali tidak mempan, Arin tanpa sadar malah memperbaiki posisi nya bersandar pada jendela mobil.
"Gue panggil emak nya aja kali ya, tapi gak sopan masa iya gue suruh emaknya angkat nih beban negara." Tak punya pilihan lain, Zian langsung saja menggendong Arin, dia juga harus pulang dan istirahat.
Belum juga sampai pintu, netra Zian tak sengaja menangkap sosok Agatha bergandengan dengan seorang laki-laki yang jelas Zian kenal banget, dan mereka berdua menuju rumah Dion di samping rumah Arin.
"Wahh gak bener nih anak dua," sadar masih membawa beban, buru-buru Zian mengetuk pintu karena tenaganha juga hampir habis karena beratnya tubuh Arin sama seperti mengangkat besi 20 ton.
"Astaga Arin, dia pingsan?" tanya Rima panik.
"Enggak, tante. Arin ketiduran," jawab Zian.
"Ya sudah bawa masuk, Zian. Taruh aja dia di sofa kalo gendong ke kamarnya ribet nanti kalian berdua ngegelinding di tangga," ucap Rima seraya mengarahkannya pada Zian.