Selfish

Selfish
Selfish : 10



Arin sudah misuh-misuh dalam mobil Zian, padahal dia sudah melontarkan banyak alasan agar tidak jadi pergi dengannya, sampai bawa-bawa izin dari orang tuanya. Arin bilang jika dia tidak diizinkan pergi kemana-mana karena dia sudah berjanji akan membantu sang Mama untuk membuat kue untuk Papa nya yang akan berulang tahun hari ini.


"Bukannya ulang tahun Papa kamu sudah lewat ya sayang?" Arin memutar bola matanya malas, Mama nya memang susah diajak kerja sama jika dalam keadaan begini, Zian yang mendengar itu nyaris tertawa namun bisa ia tahan takut mengacaukan suasana.


"Sudah sana siap-siap, kasian Zian nunggu lama, Mama ke dapur dulu," Rima berlalu pergi meninggalkan Arin dan Zian di sana. Arin menghentakkan kakinya ke lantai lalu pergi ke kamarnya.


Arin membuang pandangannya ke arah jalanan, padahal rencana dia hari ini ingin tidur sampai maghrib.


Mobil Zian berhenti tepat di depan sebuah bangunan tempat perbelanjaan umum. Rasanya Arin males untuk turun, kalo boleh dia hanya ingin menunggu saja di mobil gak perlu ikut masuk.


"Mau jalan sendiri atau gue gendong?" Zian yang sudah lelah menyuruh Arin untuk turun malah melontarkan kalimat geli bagi Arin.


"Dihh ogah, remuk badan lo kalo gendong gue," gerutu Arin.


"Iya remuk, soalnya lo kebanyakan dosa makanya berat," Zian tertawa lepas, Arin mencebik kesal kemudian menjitak kening Zian dengan keras sampai membuat pemuda itu meringis pelan.


"Bacot lo," Arin keluar dari mobil meninggalkan Zian yang masih mengusap keningnya yang mulai memerah bekas jitakan Arin yang menggunakan tenaga dalam.


Mereka sudah di dalam, Arin berjalan di belakang Zian.


"Hobi banget lo nguntit gue di belakang, sini jalannya barengan," Zian menarik lengan Arin agar langkah mereka beriringan.


"Lo mau beli apa sih? Sudah 20 menit kita keliling gak ketemu-ketemu," Arin menghentikan langkahnya, capek jalan dia tuh. Zian tidak menanggapi dan terus lanjut jalan, mau tidak mau Arin terpaksa ikut jalan lagi.


Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah toko boneka. Mereka berdua segera masuk setelah dibukakan pintu oleh salah satu pegawai yang mungkin bertugas buat bukain pintu untuk para pelanggan.


"Gue gak terlalu paham sama jenis boneka apa yang disukai oleh perempuan, sebab itu gue ngajak lo ke sini pasti lo tau kan selera sesama jenis lo," kekeh Zian membiarkan Arin yang memilihkan untuknya.


"Kata-kata lo sadis banget sumpah, apaan sesama jenis lo kira gue hewan punya bermacam-macam jenis?"


"Terus gue harus ngomong kayak gimana lagi?"


"Terserah lo deh, by the way lo salah bawa cewek, gue juga gak terlalu paham sama selera perempuan jaman sekarang, kalo gue sih boneka bentuk monyet aja gue terima asal itu boneka, bukan monyet asli," ujar Arin sambil melihat-lihat mana yang sekiranya menarik di mata pacar Zian, itu sih dugaan Arin. Dia berfikir Zian akan membelikan boneka buat pacarnya, tapi yang jelas bukan Arin ya, kan Arin cuma pacar tanpa status, ehh apa sih?


"Sepandai-pandai lo aja, tinggal tebak mana yang paling bagus dan cocok," Zian akhirnya menyerahkan semuanya pada Arin, biarkan tangan dan insting Arin yang bekerja, Zian mah bagian terima beres doang.


"Lo yang mau cari hadiah kok gue yang ribet," walaupun menggerutu juga dia tetap milih, dasar Arin.


Pilihan Arin jatuh pada boneka beruang warna coklat yang memegang love, ukurannya cukup besar, setara lah sama tubuh Arin.


"Pacar?" Zian mengernyit bingung, Arin juga jadi ikutan bingung.


"Lah iya, kan lo nyari hadiah buat pacar lo, ya udah gue saranin kasih yang ini aja, soalnya warnanya gak terlalu mencolok juga, tapi kalo lo mau ganti ya ganti aja, gue sih gak masalah cuma kasih saran doang," Arin berdehem pelan dan hendak merebut kembali boneka tadi tapi dihalangi oleh Zian.


"Ini bagus kok, gue juga suka lihat boneka ini."


Tanpa sengaja Arin tersenyum simpul karena Zian menerima dengan senang hati boneka rekomendasi dari dia.


"Lo gak mau beli boneka juga?" tanya Zian.


"Gak, boneka gue banyak di kamar, sudah kayak kebun binatang. Lagipula gue gak bawa duit, salah lo tadi makanya gue buru-buru tanpa persiapan. Jangankan duit, ponsel aja gue kagak bawa," Arin mempoutkan bibirnya kesal.


"Pilih aja mana yang lo suka, nanti gue yang baya...." belum selesai kalimat Zian, Arin sudah melesat pergi menuju rak di sebelah barat.


"rin..." final kalimat Zian, dia tidak habis fikir dengan tingkah Arin yang katanya boneka nya sudah banyak, giliran ditraktir gercepnya minta ampun. Arin kembali dengan dua boneka kecil berbeda bentuk di tangannya. Satunya boneka kambing warna putih campur hitam dan satunya lagi boneka domba dengan bulu-bulu halus memenuhi badan boneka tersebut. Sudah dari tadi Arin mengincar boneka ini hanya saja dia gak bawa uang makanya terpaksa berpaling, tapi setelah mendengar ucapan Zian tadi dia jadi senang. Zian segera membayar barang yang dia beli sekalian juga punya Arin.


Kembali dari Mall, Zian gak langsung bawa Arin pulanh melainkan mampir dulu di warung masi goreng pinggir jalan, tadi Mama nya Arin bilang sepulang dari sekolah Arin belum makan siang, dia langsung nyelonong ke kamar.


"Ini warung langganan gue, menu di sini enak-enak walaupun harganya jauh beda sama yang di restoran," ujar Zian.


"Bagus dong, lo gak perlu buang banyak duit buat makanan mahal dengan porsi kecil, cukup makan di sini asalkan kenyang, gue juga gak terlalu suka makan makanan restoran," jawab Arin.


"Syukurlah, gue kira lo gak bakal terima kalo gue ajak lo makan di sini," Zian mengelus dada lega.


"Thanks for your time today, berkat lo gue gak kebingungan cari hadiah," ucap Zian setelah sampai depan rumah Arin sebelum dia turun.


"Y-ya, gue juga terima kasih. Oh iya, nih buat lo," Arin menyerahkan salah satu boneka yang tadi dibelinya kepada Zian.


"Buat gue?" Zian menunjuk dirinya.


"Nggak, buat Bapak lo. Ya iyalah buat lo, gue sengaja beli dua, satu untuk lo dan satu lagi buat gue, gue beli ini juga kan dari duit lo."


"Lo gak bisa pilih yang bagusan dikit ya? Ya kali lo kasih gue kambing nyengir begini."


"Sengaja, soalnya mirip lo makanya gue ambil yang itu. Kalo gak mau gue ambil balik."


"Eh-eh iya iya, gue terima. Mood lo gampang banget berubah." Zian kemudian meletakkan boneka dari Arin di samping boneka beruang besar yang dia tempatkan di kursi belakang.