
Kaki Arin melangkah pelan menuju parkiran, pikirannya terbang entah kemana, pulang sekolah kali ini Arin berjanji bareng dengan Rini, tapi setelah dari UKS mereka berdua berpisah karena Rini harus ke toilet dan meminta Arin tunggu di parkiran, kebetulan Rini bawa motor beat kesayangannya, jadi gak perlu repot-repot naik angkot atau taksi.
Bukannya duduk, Arin memilih untuk berdiri dengan dindinh sebagai tumpuannya, gak tau kenapa hari ini Arin benar-benar kehilangan semangat, bukannya sakit tapi cuma lemes doang.
Sekolah belum sepenuhnya bubar, ada yang masih di kelas karena jam pulangnya ditunda oleh guru, dan beruntungnya kelas Arin jamkos jadi bisa bubar lebih dulu.
"Rini lama banget, dia buang air atau melahirkan sih," Arin mendengus kesal, bagaimana tidak, dia itu anti yang namannya nunggu, kalo pun harus nunggu yang ditunggu juga semestinya harus cepet, ya meski yang nebeng di sini tuh Arin.
Tampak Rini dengan nafas tersenggal-senggal berlari menghampirinya, Arin berdecak kesal kemudian balik badan menuju motor Rini di sebelah timur.
"Woy, lo nggak nanya gitu gue habis dari mana?" tanya Rini ngos-ngosan memanggil Arin yang sudah duduk di jok belakang menunggu Rini.
"Habis dari toilet, kan lo bilang sendiri," jawab Arin. "Udah ayo buruan, gue laper pengen tidur." Sebelum Rini buka mulut, Arin sudah lebih dulu memotongnya. Dengan kaki yang dihentak-hentakin ke tanah, Rini berjalan ke arah motornya, menyerahkan helm pada Arin.
"Pake, biar otak lo gak makin kosong," ucap Rini. Arin dengan senang hati menerimanya tanpa menghiraukan ucapan Rini yang biasanya selalu memancing emosi, memakainya kemudian memperbaiki posisi duduknya pada jok motor.
"Pegangan! Kalo lo jatuh gelinding di aspan jangan salahin gue."
"Hah? Apa? Lo ngomong sesuatu?"
"Belum juga gue jalan, lo udah tuli aja. intinya pegangan!!" Teriak Rini, Arin kali ini bisa mendengarnya dan mengangguk samar, memegang pinggang Rini kuat.
"Anjing, gak pinggang gue juga woyy, geli asu!!" Rini meliukkan badannya karena geli.
"Lah, terus di mana, di sini?" Kali ini Arin memegang bahu Rini, reaksinya masih sama, Rini mengangkat kedua bahunya berusaha menyingkirkan tangan Arin.
"Aneh lo, sat. Tadi gue di suruh pegangan," Arin menepuk helm Rini karena kesal.
"Ya pegangan di jok kek atau di besi belakang, asal jangan di badan anjir, gue geli," sahut Rini, memperbaiki helm-nya yang sedikit miring karena geplakan Arin yang tidak main-main, untung otaknya gak ikut geser. Arin mendengus kesal.
"Kenapa diem? Jalan anjir!!" Arin kembali menepuk Rini, kali ini bahunya.
"Bentar, ada kak Zian di depan," jawab Rini.
"Apa hubungannya setan, tinggal terobos aja bila perlu tabrak kalo berdiri di tengah jalan," ketus Arin. Mendengar nama Zian membuat Arin ogah menghadap depan.
"Makanya liat depan biar lo tau, bagong!!" Oke, Rini terdeteksi sudah mulai geram. Arin mengerutkan alisnya, pemandangan yang ditekomendasikan oleh Rini membuatnya tidak suka sekaligus syirik. Raut wajahnya sama sekali tidak bersahabat.
"Ngapain sih tuh orang, pelukan di tempat terbuka, di tengah lapangan lagi, gak malu apa," Arin menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Maka dari itu, Rin. Tadi habis dari toilet gue juga gak sengaja lihat mereka berdua pelukan juga di depan pintu toilet, hampir kiss anjir, tapi kak Zian ngehindar tuh cewek doang yang nyosor. Makanya gue lari sambil ngos-ngosan tadi, hampir aja gue ketahuan ngintip, gue udah panas dingin anjir di balik pintu, mereka perginya lama banget," jelas Rini yang semakin membuat Arin shock sampai mau gelinding di tanah.
"Gak, gak, gak mungkin lah anjir."
"GAK MUNGKIN!!!!"
"Anjing, ayam kaget gue. Ngapa sih lo, teriak-teriak gak jelas. Gak jadi deh gue lihat siaran langsung dua pasutri di depan gara-gara lo," kesal Rini, karena Zian dan Laras juga refleks menengok ke arah mereka. Arin tak menjawab, malah sibuk jambak rambutnya bak orang yang sedang kesurupan, Rini jadi merinding sampai ingin menurunkan Arin di perempatan jalan.
Mau tak mau, Rini langsung terobos karena dorongan Arin yang sudah gak sabar meninggalkan area sekolah.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Rini yang bingung dan Arin yang masih menyelami pikirannya sendiri. Bahkan saat sampai di depan rumahnya pun, Arin masih saja diam tanpa mengucap sepatah kata pun pada Rini, sampai helm punya Rini hampir Arin bawa masuk jika saja Rini tidak berteriak, ya gak apa-apa sih bisa dibalikin besok cuma tingkah laku Arin tuh aneh banget.
.
"Aku mau pamitan dulu sama tante, kamu tunggu sini ya, jangan tinggalin aku," Laraa berlari menunu ruang guru. Kebetulan salah satu saudara Mama dari Laras adalah seorang guru di sekolah ini jadi Laras gak terlalu malu buat dateng hanya untuk sekedar menyapa, apalagi alasan dia ngikutin Zian cuma buat jagain Zian dari perempuan lain, dan sepertinya itu berhasil.
Zian menghela nafas lelah, memilih bersandar pada kap mobil sambil menunggu Laras. Pikirannya tiba-tiba teringat akan kejadian baru saja. Arin sudah tidak mau kontak mata dengannya lagi, Zian sedikit percaya diri membayangkan jika Arin cemburu, seutas senyum senang terbentuk di wajah tampannya.
"Apa iya dia cemburu? Sok jual mahal, lihat gue deket cewek lain malah ngehindar," ujar Zian sambil terkekeh.
"Kamu kenapa senyum-senyum gitu? Sakit? Atau kesurupan?" Laras menempalkan punggung tangannya pada kening Zian.
"Gak apa-apa, ayo balik!"
"Oh iya, kok aku gak lihat ada tanda-tanda Bastian ya tadi? Dia masih kayak dulu ya? Suka bolos pelajaran dan jarang masuk?" tiba-tiba saja Laras menanyakan soal mantan pada Zian yang fokus nyetir.
"Kamu kenapa nanyain dia?"
"Ciee, cemburu ya. Utututu~ sayang. Aku cuma penasaran apakah dia berubah, udah gitu doang," jawab Laras, menyipitkan matanya dan tersenyum manis.
"Aku rasa sih makin parah dari yang dulu, dia sekarang makin brutal," jawab Zian di sela kegiatan nyetir-nya.
"Untung saja aku putus dengan dia, kalo masih bertahan sampai sekarang, gak tau lagi deh nasib aku kayak gimana," Laras tampak bernafas lega. Zian menggelengkan kepalanya samar, bisa-bisanya Laras bicara seperti itu, padahal kalo diingat-ingat mereka dulu pasangan bucin satu sekolah sebelum Zian datang menyerang. Kalo boleh jujur, ada rasa bersalah dalam diri Zian pada Bastian, tapi semua ini bukan kesalahan Zian sepenuhnya juga, Laras lah orang pertama yang tertarik dengan Zian hingga memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Bastian.
"Aku rasa Bastian bisa berubah jika kamu mau kembali pada dia lagi."
"Kamu gila??"
.
Tau ahh ga jelas banget, GA tau mau nulis apa lagi, kalo ada typo maklumin.