Selfish

Selfish
Selfish : 24



Arin keliling gak jelas di sekitar rumah Dion, lagian tuh anak ngajak ke rumahnya malah ditinggalin. Satu jam sebelum itu, Diok sedang santai di depan TV rumah Arin, sambil nunggu tuh anak pulang sekolah, dari tadi gak pulang-pulang heran. Setelah pulang, Arin langsung ditarik paksa oleh Dion pergi ke rumahnya.


"Gue belum izin nyokap anjir, lo main tarik-tarik anak orang," Arin menarik kembali tangannya yang mulai sakit karena Dion mencengkeram nya dengan kuat.


"Udah gue izinin, gue sudah lama di rumah lo, tapi lo yang lama balik, kencan ya sama si Zian itu," Dion menatap Arin dengan sinis.


"Ngomong gak pernah disaring dulu, enak aja bilang gue kencan. Tadi ada kegiatan sedikit di sekolah, makanya telat dikit." Dion kembali menarik tangan Arin.


"Gue mau mandi dulu setan, baru pulang sekolah nih keringetan."


"Walaupun mandi, lo tetep bau. Jadi mandi buat apa."


"****** lo," Arin melempar tas nya sembarang dan memilih untuk mengikuti bocah gak ada akhlak macam Dion. Kok bisa ya gue suka sama makhluk jadi-jadian kayak dia??.


"Sorry ya lama, gue habis beli bahan-bahan untuk masak di warung sebelah," Dion sedikit berlari takut Arin bosan menunggu.


"Tujuan lo bawa gue kesini ngapain?"


"Gue mau ajak lo makan siang, dan tentunya spesial karena gue sendiri yang masak," sambil menaik turunkan alisnya menggoda, Arin jadi blushing karena tingkahnya.


"Sejak kapan lo pandai masak?"


"Gue bukan pandai sih, tapi masih belajar, selama gue di rumah lo tadi gue diajarin sama Tante Rima cara memasak yang enak, sekarang gue sudah paham dan insya Allah bisa, lo yang pertama nyobain masakan gue, siapa tau besok gue jadi chef terkenal di seluruh negara."


"Iya gue bagian amiin aja deh, tapi gue gak bakal mati 'kan kalo cobain masakan lo?"


"Kalo lo mati ntar gue kubur di belakang rumah."


Rima mengajari Dion memasak karena memang Dion sendiri yang minta, soalnya takut ngerepotin juga karena setiap hari Arin harus ngenterin dia makanan. Rima kebetulan akan memasak makan siang untuk suaminya, Dion ikut serta membantu sambil belajar. Karena merasa sudah paham, Dion ingin praktek 'kan sendiri di rumah, kalo praktek di dapur Arin ntar malah gosong seluruh rumah dibuatnya, jadi biar aman mending dia pake dapur sendiri, kalo meledak 'kan gak perlu ganti rugi. Sebab itu dia ajak Arin ke rumahnya sebagai orang yang akan me-review masakannya, jauh sebelum itu Dion sudah minta izin dari Rima.


"Boleh, asal kalian jangan macem-macem ya, bukan Tante gak percaya sama kamu Dion, tapi Tante takut sama pikiran orang lain itu serem-serem, kamu tau 'kan mulut orang sini pedesnya melebihi cabai lima kilo, maklum lah jaman-jaman gosip di sini, rumor yang belum tentu bener malah asal disebarin tanpa tau fakta yang sesungguhnya. Pokoknya kalian jangan bikin tetangga berpikir negatif, apalagi kalian berdua di dalam rumah bisa mengundang berita gak jelas," pesan Rima yang diingat betul oleh


Dion.


"Ngelamunin apaan lo? Katanya mau masak, udah sana," Arin duduk santai di sofa menunggu masakan yang akan ia cicipi.


"Lo harus ikut gue ke dapur."


"Ihh apaan, nggak-nggak. 'Kan nanti kalo dapurnya meledak lo doang yang kena terus gue selamat."


"Jahat lo sumpah, sesama umat manusia kita harus saling menemani."


"Kalo nemenin lo mati sih gue ogah, masih pengen hidup, banyak banget rahasia dunia yang belum gue cari tau, seperti mencari tau asal usul ayam, yang duluan telur atau ayam. Kalo telur duluan bagaimana bisa muncul sebuah telur, sedangkan tanpa ayam telur gak mungkin ada, lalu kalo ayam duluan, ayamnya muncul dari mana bukankah ayam itu menetas dari sebuah telur."


"Lah iya, ya. Telur dulu atau ayam?"


"Anjir, malah ikutan mikir, sono masak gue bantai juga lo lama-lama.


"Lo yang ngajak gue mikir ya. Tapi masalahnya ini gue ada beli telur lima biji, pas masak gue kepikiran teori bodoh lo apa gak gosong ntar?"


"Bacot. Masak atau gue pulang?"


Dion mendengus kesal lalu menenteng bahan belanjaannya menuju dapur.


Tak lama kemudian, Dion datang dengan nampan yang berisi makanan yang Arin tak tau pasti apa yang dia masak.


"Lama banget lo, gak tau apa gue laper."


"Enak banget congor lo, numpang makan udah gitu gak sabaran lagi."


"Lo yang seret gue ke sini ya, sat."


"Udah nih cobain, review jujur ya gak usah bohong, kalo emang masakan gue enak bilang enak jangan kebalikannya, tapi kalo masakan gue gak enak tetep bilang enak biar gue gak sakit hati."


"Lah si anyink tadi lo suruh review jujur, gimana sih." Jujur, Arin jadi kesel. "Serius 'kan gue gak bakal sakaratul maut kalo makan masakan lo?"


"Gak kok, paling kejang-kejang dikir habis itu nyawa lo melayang menuju yang tak terbatas."


Arin merotasikan bola matanya dan memilih untuk langsung makan saja, cacing di perutnya juga sudah meraung-raung minta diisi.


Di depan Arin sudah ada dua menu makanan berbeda dan semua bahan utamanya adalah telur. Piring pertama ada telur dadar dan piring kedua telur orak-arik. Karena Arin suka pedas, jadi yang pertama dia cobain adalah telur orak-arik.


"Gimana, enak nggak?" Dion harap-harap cemas melihat ekspresi Arin, padahal ini bukan acara Master chef kok dia deg-deg an begini. Arin mengangguk-angguk sambil terus mengunyah.


"Jadi gimana?"


"Lumayan."


"Lumayan enak maksud lo?"


"Lumayan hambar, lo gak kasih garam apa?"


"Hah, hambar banget ya? Perasaan udah gue taruh garam lo, satu sendok makan."


"******, lo mau buat gue darah tinggi? Masak telur doang garam satu sendok." Arin lanjut mencomot menu yang satunya lagi.


Udah ketebak sih dari ekspresi Arin yang langsung memuntahkannya.


"Ini nih yang lo masukin garam satu sendok makan," Arin menunjuk telur dadar, padahal bentuknya cantik banget dihias pake seledri dan tomat juga, tapi rasa tidak bisa bohong. Dion hanya bisa memandangi masakannya dengan prihatin, udah capek-capek ehh malah gagal, gak apa-apa bisa coba lagi besok mumpung bahan masih ada. Arin kembali dari dapur dengan segelas air di tangannya.


"Kayaknya lo harus belajar dasarnya dulu deh, baru bisa masak yang berat-berat."


"Emangnya memasak ada dasarnya juga?"


"Ada lah."


"Baru tau gue. Masak apaan?"


"Masak air."


"Betul-betul setan lo, Rin. Untung gue sabar, kalo nggak udah gue cemplungin ke sumur tetangga."


Maaf banget gak bisa update tiap hari karena ada satu novel lagi yang harus aku ketik sampai tanggal 30 dan harus pas 50.000 kata😢. Kemarin juga pergi ke rumah nenek niatnya mau up satu episode tapi sinyal gak mendukung, kesel bangetttt😭😭. Maaf juga kalo ceritanya kurang ngena di hati kalian.....