Selfish

Selfish
Selfish : 14



Minggu pagi, Arin segera bersiap-siap setelah selesai mandi dia berlari ke dapur sibuk menyiapkan bekal, bukan untuk dirinya tapi untuk Dion. Benar, hari ini dia akan ke rumah Dion karena khawatir anak itu sudah satu minggu gak pernah keluar rumah, sekalinya keluar mentok di halaman depan doang itu pun kalo keadaannya sepi, pernah dua hari yang lalu Dion tampak keluar rumah, rambutnya acak-acakan bajunya kusut ditambah wajahnya membengkak dan matanya yang sayu, Arin yang melihat kondisi Dion langsung merasa prihatin. Dion yang merasa bahwa ada orang yang sedang mengawasinya langsung ngacir lari masuk ke dalam. Sepertinya Dion masih ingin sendiri dulu, tapi sampai kapan? Dion yang sekarang bukanlah Dion yang dulu, yang ceria dan blak-blakan kini sekarang jadi pendiam dan murung.


Arin berdiri tepat di depan pintu bercat coklat itu, keadaan rumah memang sepi tapi Arin tau Dion ada di dalam. Arin tidak mengetuk pintu itu, dia malah bersembunyi di sudut tembok rumah Dion, dia dengar suara langkah dari dalam itu artinya Dion akan keluar untuk sekedar menikmati udara segar di halamn depan rumahnya. Arin sudah siap mengambil langkah seribu untuk masuk ke dalam tanpa sepengetahuan Dion. Setelah pintu terbuka lebar, Dion masih mengenakan baju yang kemarin dengan langkah gontai berdiri di depan rumah sambil meregangkan ototnya, kesempatan ini yang digunakan Arin untuk berlari masuk. Yess, berhasil. HAH??!!


Arin terlonjak kaget melihat keadaan dalam rumah Dion yang berantaknya kayak kapal pecah, tapi lebih ke mirip gudang sampah sih. Bagaimana Arin tidak berfikiran seperti itu, lihat saja sampah berserakan di mana-mana, sampah botol, kaleng, dan plastik yang paling mendominasi. Arin hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Hah? Sejak kapan lo ada di sini?" Dion melebarkan netra nya melihat Arin yang sudah berdiri tegap di ruang tengah. Arin tidak menjawab, dia lebih memilih pergi ke dapur untuk meletakkan rantang berisi makanan untuk Dion di atas meja. Arin kembali lagi dengan membawa sapu dan sekop untuk mengangkut semua sampah yang ada. Dion mengernyit bingung melihat Arin yang dengan telaten dan sabar memunguti semua sampah yang ia buang sembarangan.


Jujur, Dion merasa malu dengan semua ini tapi disisi lain dia merasa benar melakukan hal ini, toh tidak akan ada yang memarahinya jika dia berbuat seperti ini. Karena tidak enak jika hanya menonton saja, Dion memutuskan untuk mengambil alat pel di toilet untuk mengepel lantai yang berdebu karena tidak pernah disapu selama seminggu lebih dan juga ngepel lantai bekas tumpahan jus nya kemarin yang sudah kering.


Arin tersenyum cerah kala melihat Dion turun tangan membantunya, kerjaan jadi akan semakin ringan jika dikerjakan bersama. Arin melakukan semua ini karena berusaha menarik perhatian Dion, sampai sekarang dia masih naksir Dion, terhitung sudah tiga tahun pas semenjak ia menyimpan perasaan terhadap Dion lelaki tinggi yang merupakan kapten futsal dulu di SMP. Arin tidak mau mengungkapkan perasaan nya, karena apa? ya karena malu. Mending dipendam sendiri saja walaupun sakit dari pada confes tapi ditolak, itu lebih sakit sih bagi Arin. Nunggu Dion peka? Sampai lebaran monyet pun tuh anak gak bakalan bisa peka sama keadaan bahkan sama perasaan orang terhadap dia, Arin memakluminya melihat dari sisi sikap Dion yang friendly ke semua orang.


Arin yang kelihatan cuek dan terkenal judes ini mana ada yang percaya jika dia punya seseorang yang disukai di hatinya, bahkan sahabat dekatnya saja tidak bisa menebak apa yang ada di dalam hati dan pikiran Arin, semua temannya tau jika Arin itu orang yang kudet, tidak tau tentang cowok bahkan ada yang sempat mengira jika Arin itu menyukai sesama jenisnya saking gak ada interaksi nya sama sekali dengan lawan jenis. Arin juga ada rumor gak masuk akal dulu waktu SMP, dia dikabarkan berpacaran dengan sahabat perempuannya dilihat dari interaksi mereka, satu sekolah gempar akan hal itu. Mengetahui itu Arin langsung ngamuk dan gak terima atas berita yang menjelekkan nama baiknya di sekolah, judes-judes gini dia masih normal kali.


Arin merasa bahwa masa-masa SMP adalah masa yang paling buruk, pindah kota juga gak ada salahnya walaupun dia sempat protes waktu Papanya bilang akan pindah, yah setidaknya Arin bisa jauh-jauh dari masa lalunya dan tidak akan bertemu dengan anak-anak setan yang dulu pernah mengejeknya lesbian, tapi sisi sedihnya dia harus meninggalkan Gina sahabatnya.


Dion mengusap peluh yang menetes dari keningnya, huh beres-beres ternyata sangat melelahkan.


"Gue mandi dulu ya, lo tunggu bentar jangan pulang dulu habis itu kita sarapan bareng," Dion berlari ke kamarnya. Arin menatap sekeliling, ternyata kalau dilihat dari dalam rumah ini sangat luas, udah pasti harganya mahal. Dion turun dengan handuk kecil melingkar di lehernya, rambut nya basah sepertinya habis keramas. Arin berkedip beberapa kali, sumpah gak bohong Dion jadi ganteng banget kalo mode kayak gitu kan Arin jadi makin cintahhh.


"Kenapa? Ada yang salah sama wajah gue? Masih ada sabun ya?" Dion mengusap-usap wajahnya. Arin berdehem pelan, kalo kayak gini bisa pingsan di tempat. Tanpa menanggapi pertanyaan Dion, Arin melangkah ke dapur untuk mengambil makanan yang tadi dia bawa dari rumah, tadinya sih inn semua untuk Dion saja tapi karena habis beres-beres Arin jadi ikutan laper, ya udah lah bagi dua lagipula Dion gak kuat habisin makanan satu rantang ini.


...----------------...


"Waktunya berangkat." Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya Zian melesat pergi dengan mobil sportnya menuju kompleks perumahan Arin.


Zian mengatur strategi untuk mengetuk pintu yang tertutup dengan rapat. Baru juga mau nyentuh daun pintu ehh udah dibuka aja, tapi bukan Arin melainkan Mama nya.


"Ehh Zian, mau cari Arin ya? Dia dari tadi pergi ke rumah Dion, susul gih!" Rima sudah ngoceh duluan, karena dia tau Zian bakalan cari anaknya kalo cari dia sih perlu dipertanyakan.


"Ohh iya deh Tante, saya permisi ke sana dulu," tak lupa sebagai calon menantu yang baik Zian salim dulu sama Rima.


Zian mendengus kesal, kenapa sih Arin harus ada di sana. Rencana buat ngajakin jalan-jalan kayaknya bakalan ditolak, soalnya perasaan Zian udah gak enak dari tadi. Pintu rumah Dion terbuka lebar, belum juga mau ngetuk pintu udah disuguhin pemandangan yang tidak enak.


"Ekhem, enak banget pacaran dalam rumah, bukan muhrim lagi."


...----------------...


Prik banget sumpah😭😭