Selfish

Selfish
Selfish : 53



"Woy Zian, mau kemana lo?" tegur Rangga pada Zian yang kelihatan buru-buru mau pergi.


"Ke toilet bentar, kenapa? Mau ikut lo?" Zian bertanya balik dengan alis terangkat.


"Anjing, najis, ogah banget," sahut Rangga dengan raut tidak suka.


"Udah gitu kenapa lo tegur gue sih? Orang lagi buru-buru juga," ketus Zian sambil meringis terlihat menahan rasa sakit, tetapi Rangga tidak sadar.


"Gue kira lo mau kabur gara-gara gak mau beresin nih acara," jawab Rangga mengatakan alasannya.


"Santai aja, gue orangnya bertanggung jawab kok, gak kayak lo."


"Musnah lo sekarang juga, enak banget bilang gue gak bertanggung jawab," Zian sudah berlari menjauh saat melihat Rangga yang sudah mengambil ancang-ancang ingin melemparnya dengan stik drum.


Zian segera mengunci pintu toilet lalu membuka masker yang sejak tadi terpasang di wajah tampannya, tangannya refleks memegang dada sebelah kiri karena rasa sakit yang mulai menggerogotinya.


"Ayolah, jangan sekarang. Gue gak mau terlihat lemah di depan temen-temen gue," ungkap Zian sambil memandangi pantulan dirinya di cermin wastafel. Untuk menghilangkan rasa sakit, Zian berusaha memukul bagian dadanya yang terasa seperti ditusuk, bukannya membaik malah tambah sakit, Zian sampai terduduk di lantai dengan tangan bertumpu pada pahanya.


Zian tiba-tiba teringat tentang hasil diagnosanya yang menyatakan bahwa dirinya mempunyai penyakit jantung, belum diketahui dengan pasti yang jelas ada kelainan pada jantung Zian dan itu merupakan penyakit turunan. Zian berusaha mengingat, bahwa mendiang sang Ayah gak punya penyakit seperti ini, yang Zian tau Ayah-nya meninggal karena kanker, masa iya Bunda yang punya penyakit jantung seperti dirinya, mustahil banget.


Butuh beberapa menit untuk meredakan rasa sakit pada jantungnya, sampai telpon dari Rangga tak kuasa Zian angkat, sampai pada dering yang ke-10 kali. Merasa baikan, Zian buru-buru keluar dan menghampiri tempat acara, di sana sudah cukup sepi, hanya ada beberapa orang yang masih tinggal termasuk seluruh anggota Osis dan guru pembimbing yang tampak setia bergosip ria di pojokan, entah topik mereka apa yang jelas mereka kelihatan serius.


"Kemana aja sih, ditelpon gak diangkat, kayak Artist aja. Tuh lihat, pak Kepsek udah marah-marah dari tadi katanya kau ketemu sama lo," tutur Rangga yang tiba-tiba nyamperin Zian di samping panggung.


"Ngapain?"


"Ajak lo dugem, ya mana gue tau Supardi. Lo samperin aja sono, takut beliau makin kinclong kepalanya gara-gara terlalu marah," Rangga mendorong punggung Zian ke arah ruangan kepsek yang tampak sunyi dari luar, Zian meneguk salivanya, padahal pak Kepsek bukan kanibal kenapa dia jadi deg-deg an begini.


Sebagai manusia yang baik dan beradab, sebelum masuk Zian mengetuk pintu kayu di hadapannya, setelah itu terdengar suara dari dalam yang mengisyaratkan Zian untuk masuk. Zian menarik nafas perlahan lalu membawa tungkainya melangkah masuk, di sana pak Kepsek tidak sendiri, ada beberapa personil yang disewa sekolah untuk memeriahkan acara pensi malam ini.


"Silahkan duduk, Zian!" titah Kepsek dengan raut wajah datar membuat suasana menjadi tegang, Zian pun merasakan hal demikian namun kenapa yang lain tampak anteng saja seperti tidak ada beban, malah mereka sesekali bercanda meski tidak melibatkan pak Kepsek.


"Jangan tegang seperti itu, Zian. Saya tidak akan makan kamu, saya cari kamu cuma mau minta tolong buat bimbing tamu penting kita ini ke ruangan sebelah, di sana jamuan tersedia, sebagai rasa terima kasih kita kepada mereka karena telah berhasil memeriahkan acara," jelas pak Kepsek diakhiri dengan senyuman manis. Zian mengangguk paham lalu menatap satu persatu dari mereka yang juga balas menatap Zian dengan ramah.


Pintu terbuka lebar, menampilkan isi dalamnya. Banyak sekali bingkisan isi makanan yang katanya akan diberikan kepada tamu penting yang setia ngekor di belakang Zian.


"Lah Arin, lo ngapain di sini bego?" Mata Zian terbelalak kaget karena mendapati Arin yang tengah santai tidur dengan posisi duduk di kursi dan menenggelangkan wajah pada lipatan tangannya, mendengar suara Zian membuat Arin terbangun karena ia baru saja berusaha terlelap saking lelahnya, padahal gak pernah ngapa-ngapain, dateng ke sini cuma buat makan seblak doang.


"Ahh iya, kenapa, ada apa, di mana?" Arin mengangkat wajahnya, matanya setengah tertutup berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya.


"Lo bikin malu aja tau nggak. Bangun, tolongin gue bagiin nih bingkisan," Zian menendang pelan kursi yang Arin duduki agar manusianya bangun, meski nyawa masih setengah Arin hanya menurut karena dia juga belum paham arahnya kemana, jadi ikut aja lah apa kata Zian. Sementara tamu yang tadi ikut Zian hanya tersenyum lucu sambil menggelengkan kepalanya melihat aksi drama di depan mereka.


"Manis juga, siapa tadi namanya, Arin ya? Boleh kali kita tukeran nomor HP," Jordi yang notabennya play boy kelas kakap berusaha menggoda Arin yang ngang ngong di tempat. Ucapan Jordi sukses membuat teman di sampingnya menyikut lengan Jordi agar jaga sikap.


"Waduh, Bang. Gak bisa kalo dia mah, soalnya Arin punya saya, jadi gak bisa dibagi. Lagian nih ya, kalo Abang sama dia bakal sengsara seumur hidup, tingkahnya udah kayak bocil kematian, dijamin bang Jordi kewalahan ngehadepin nih bocah satu," ucap Zian sambil cengengesan lalu mengusap rambut Arin. Zian kenal banget sama pemain teater satu ini, lumayan terkenal dengan julukan buaya darat, bahkan tadi sebelum acara Zian lihat sendiri Jordi lagi godain Agatha di samping kelas. Memang ya, gak bisa lihat cewek cantik dikit, bawaannya pengen godain.


"Sudah ada yang punya ternyata, baru juga mau nyalon jadi suaminya," ucap Jordi dengan nada sendu dan wajah ditekuk seperti tengah kecewa, Zian membuang muka dan menjulid atas sikap Jordi yang sok sedih.


Acara bagi bingkisan sudah selesai, tidak lupa saling mengucapkan terima kasih atas semuanya.


"Sampai ketemu lagi, Arin," Jordi melambaikan tangannya sambil mengedipkan sebelah matanya, Arin mengerjap bingung, ni orang kenapa sih? begitu pikir Arin. Jordi segera ditarik keluar oleh temannya.


Zian menghela nafas lega lalu melirik Arin dari ekor matanya, tuh anak ingin kembali tidur dilihat dari gerak gerik nya yang mulai mendekati kursi.


"Ngapain lagi lo?" tanya Zian.


"Tidur, elah. Lo ganggu mulu heran," sahut Arin sambil membelakangi Zian.


"Lo mau gue kunciin di sini?"


"Berani, gue potong tangan lo."


"Makanya keluar bego, ruangan ini gak dipake lagi, gimana caranya lo bisa ke sini sih?" Zian menyeret Arin dengan cara menarik kerah baju Arin agar keluar bersamanya, tak peduli dengan teriakan Arin yang memberontak.