
"Bisa gak lo bantuin gue deket sama Agatha?"
"Hah? Serius?"
Arin meggigit bibirnya, bagaimana bisa dia membantu crush-nya untuk dekat dengan perempuan lain, gak kebayang gimana sakit nya.
"Lo serius suka sama kak Agatha? Kalian kan belum kenal dekat."
"Arin, Arin adek gue yang paling cantik, lo gak tau apa konsep cinta pada pandangan pertama, atau jangan-jangan lo belum pernah rasain."
"Adek? Gue bukan adik lo ya, sat, sembarangan," Arin bersidekap dada, kesal dengan panggilan Dion. Jelas saja marah, Arin kan maunya lebih dari seorang adik, hanya saja manusia setengah alien ini memang gak peka, malah terang-terangan bilang suka ke perempuan lain.
"Mau bantuin apa nggak nih?"
"Bantuin yang kayak gimana, gue juga nggak akrab sama dia."
"Aihh, lo kan pacarnya Zian ya pasti lo juga harus deketin kakaknya juga, begitu konsep orang berhubungan jaman sekarang."
"Mereka hanya sepupuan."
"Saja aja, yang pentinh mereka ada hubungan keluarga."
"Terserah lo, udah sana keluar gue mau tidur, gue laporin Mama lo kalo gak mau minggat."
Dion berdecak kesal kemudian turun dari ranjang empuk Arin.
"Janji ya lo harus bantuin gue, kalo nolak gue gak mau anggep lo adek lagi," Dion berlari keluar sebelum Arin melempar lampu tidur ke arahnya.
.
.
Arin berjalan tergesa-gesa di koridor, tujuannya hanya satu yaitu ruangan Osis. Arin mendadak dapat panggilan dari ketua Osis, siapa lagi kalo bukan Zian, sebenarnya dia ogah banget tapi kayaknya sih penting, jadi sehabis jam pelajaran dia menyempatkan diri untuk mampir ke sana, padahal sudah janjian sama Rini mau beli seblak di kantin tapi ditunda untuk beberapa menit ke depan.
Entah yang keberapa kali Arin menginjakkan kaki di lantai depan ruangan Osis, sekelebat ingatan saat Arin memergoki Zian membuatnya mundur satu langkah.
"Apa iya gue harus masuk ke sini lagi? Padahal susah payah gue menghindar selama ini," Arin bersandar di tembok, menghela nafas kasar dan merenung.
"Gue suruh nunggu di dalem, ngapain di luar?" Arin hampir terjungkal ke belakang karena suara Zian tepat di dekat telinganya.
"Datang itu pake salam, hobi banget kagetin orang. Ngapain manggil gue ke sini? Kangen lo?"
"Tau aja, iya gue kangen banget, tumben lo romantis," Zian tersipu malu persis gerak gerik wanita yang tengah salting. Hidung Arin kembang kempis, gak tau mau ngomong apa lagi, entah apa yang merasuki Zian.
"Romantis pala lo peyang. Buruan ngomong, ada apa?" Arin masih setia bersandar pada tembok sebagai tumpuan tubuhnya.
"Ngomongnya di dalem aja, biar lebih nyaman."
"Heh, lo gak macem-macem kan?"
"Kenapa harus gue? Gua kan bukan anggota." Tanpa menjawab, Zian menarik pergelangan tangan Arin memaksanya masuk.
"Selamat, lo diterima jadi bagian dari kami, dan peran lo gak main-main, gue taruh lo di posisi Wakil ketua Osis, horee." Zian bertepuk tangan di ruangan yang sunyi, sendiri. Arin menatapnya aneh, dengan raut wajah yang biasa saja, Arin sama sekali tidak senang dengan berita yang baru saja ia dengar.
"Kenapa lo gak bahagia? Jadi Anggota Osis di sini tuh gak mudah, jadi lo harus bersyukur."
"Gue gak mau, cari orang lain saja. Lagipula kak Agatha belum resign dari jabatannya, masa iya gue asal ambil tempat dia, gila lo."
"Masalah itu lo tenang saja, sebentar lagi Agatha lulus jadi gak ada salahnya lo mencoba, dan gue bisa minta Agatha ngajarin lo tips jadi wakil ketua Osis." Berbeda dengan Arin, Zian malah lebih bahagia saat ini.
"Bakal gue pertimbangkan lagi, soalnya masuk anggota Osis pelajaran jadi terganggu, lo kan tau gue benci kalo ketinggalan mata pelajaran gara-gara rapat gak jelas yang sering lo adakan."
Zian mengangguk pelan tanda setuju.
"Gak ada apa-apa lagi kan? Gue mau keluar." Zian menatap punggung Arin yang kian menjauh dari pandangan, nampaknya sampai saat ini dia masih belum bisa mendapatkan hati Arin, jika terus-terusan begini Bastian akan sangat mudah melakukannya. Gak bisa, Zian harus berusaha, karena sejatinya usaha tidak akan menghianati hasil.
"Memangnya kalian ngapain aja di ruang Osis, kok lama?" Arin tersedak kuah bakso, pertanyaan Rini membuat otaknya berpikiran yang nggak-nggak.
"Maksud lo apaan?" Selesai meneguk sebotol air mineral, Arin bertanya sarkas pada Rini yang dari tadi melotot karena khawatir Arin akan mati di tempat.
"Tadi gue nanya sama lo, kalian ngapain aja kok lama, sampai gue abis tiga mangkok bakso," Rini mengulang pertanyaannya. Mereka sudah janjian beli seblak tapi sayangnya sudah habis.
"Gue direkrut jadi wakil ketua Osis sama si Zian kamvret, udah gue tolak juga masih aja ngotot," jelas Arin dengan muka pasrah.
"Bagus dong, lo bisa lebih deket lagi sama kak Zi-- maaf," Rini seketika menunduk kala mendapat tatapan tajam Arin yang siap mengintrupsinya.
"Gue tolak karena gue paling gak suka jika harus ikut rapat di saat jam pelajaran, lo paham kan?"
"Iya, tapi jadi anggota Osis bisa nambah nilai tanpa belajar, jadi lo gak perlu risau ataupun khawatir jika nilai lo anjlok saat ulangan."
"Tapi tetap saja gue gak rela." Rini mengaduk asal kuah baksonya, bicara sama Arin tuh kayak berdialog sama orang tuli, dikasih pencerahan dan saran gak bakal di denger, ada aja bahan untuk ngeles, jadi Rini lebih memilih bungkam.
"Ngomong-ngomong, usut punya usut kok hari ini gue belum liat kak Bastian, biasanya dia bakal nempel banget sama lo," Rini mengalihkan topik dengan mencari objek yang tidak ada wujudnya di kantin. Arin jadi kepikiran, dia jadi ikutan celingak-celinguk mencari keberadaan Bastian.
"Hayoo kangen kan lo sama dia," Rini menyoraki Arin.
"Sembarangan lo, gue cuma penasaran doang."
"Penasaran tentang apa dulu nih?" Rini menaik turunkan alisnya mencoba menggoda Arin.
"Gue siram kuah bakso lo ya," Arin berlalu pergi tanpa menpedulikan teriakan Rini.
Sampai jam pulang pun, sosok Bastian gak kelihatan, Arin bukan khawatir sih tapi lebih kek aneh aja hari ini gak diganggu si tengil Bastian, tapi di sisi lain Arin merasa bebas karena gak dihimpit beban rayuan nya yang selalu maksa buat pulang bareng.
Akhir-akhir ini, Papa Arin sering sibuk di kantor, jika diminta jemput selalu beralasan rapat lah, ada pertemuan dengan klien penting lah, jujur saja padahal sang Papa bukan CEO Perusahaan, kenapa harus beliau yang begitu sibuk. Tapi Arin selalu mengingat pesan Rima maklumi saja, sayang. Papa kerja juga buat kamu dan keluarga. Arin mendesah pelan lalu menyusuri koridor yang sudah sepi.