Selfish

Selfish
Selfish : 79



Arin menautkan alis bingung. Suara tidak asing menyapa indra pendengarnya. Setelah melihat sosoknya Arin lebih dibuat bingung lagi, bagaimana bisa mereka ada di sini? Padahal katanya gak bakal kuat kalo ikut. Di sampingnya ada Rini yang juga tak kalah bingung bercampur takut melihat sosok siapa yang menyahuti ucapannya.


Rangga melambai dengan wajah tengilnya, menatap Rini sinis lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya. Aksi mereka sempat mendapat ocehan dari pendaki lain karena berhenti di tengah menghalangi jalan.


Sebuah borgol kini sudah ada di tangan Rangga, Rini sontak memundurkan badan saat Rangga menyambar pergelangan tangannya untuk diikat dengan borgol tersebut, tapi cuma sebelah, yang sebelah lagi untuk Rangga. Emang ada aja ide nya.


Arin nahan tawa lihat raut memelas Rini, ingin rasanya terbahak di depan wajah Rini persis.


"Eits, lo juga harus tetep sama gue biar gak hilang. Yah, walaupun gue gak ada borgol kayak Rangga, tapi setidaknya ini bisa membantu," Zian menarik tangan Arin dan mengikatkan sobekan kain persis seperti apa yang Rangga lakukan pada Rini.


"Heh, heh, apaan? Gak berlaku buat gue sama lo ya," Arin berusaha lepasin tangannya tapi sudah terlambat, Zian sudah mengikatnya dengan kuat sehingga tidak bisa dibuka hanya dengan satu tangan, salah satu solusinya ya digunting.


"Hadeuh, para buciners alay. Gak ada kerjaan banget main ikat-ikat begitu. Apa lah nasib gue sampai terjebak pada circle gila kayak kalian berdua," Rafi sang jomblo happy (walau kadang protes) hanya bisa nonton sambil julid, bosen banget lihat drama percintaan sohibnya, gak di sekolah, di rumah, di kaki gunung, sama saja bikin mau muntah.


"Halah, bilang aja iri karena lo sendiri gak ada yang naksir," cibir Rangga, gak terima dibilang alay. Padahal Rafi paling lebay kalo ada pacar, lihat saja pada mantannya dahulu.


"Hey, batu nisan. Jaga ya mulut lo, gue walaupun alis miring sebelah begini banyak yang naksir, sampai kemarin ibu-ibu hajatan pada ngejar gue," Rafi membanggakan diri meski bukan itu kenyataannya.


"Ya itu karena lo nyuri nasi padang di sana, datang gak diundang malah asal comot hidangan orang, maklum lo dikejar," Rangga memegangi perutnya, capek ketawa melihat ekspresi kesal Rafi. Niat hati ingin membanggakan diri malah diulti.


"Kita sudah ketinggalan jauh. Ayo cepat jalan," Zian memimpin dan diikuti yang lain. Arin menatap jengah tangannya yang diikat, rasanya kayak tahanan ditarik-tarik gak jelas sampai mereka berdua mendapat tatapan aneh dari pendaki lain. Sementara di lain tempat, ada Bastian dengan tatapan tidak sukanya sambil terus meremat kuat tali ransel sampai urat tangannya terlihat. Buru-buru ia membuang muka kala netranya tidak sengaja bertemu dengan Arin yang juga balik menatap ke arahnya.


"Hmm, dasar pembohong. Katanya gak bakal ikut," ceroscos Dion, dia juga salah satu haters pasangan Zian-Arin meski mereka gak ada hubungan apa-apa. Bastian merotasikan matanya mendengar Dion bicara.


"Ehh-ehh. Lo mau ikutan juga nggak, gue bawa tali tambang nih buat ikat tangan kita berdua," Dion hendak menurunkan ransel dari punggungnya.


"Ikat aja tuh bibir lo yang monyong kayak monyet," Bastian memperbaiki ranselnya dan berjalan lebih dulu.


.


"Bangun tenda di sini aja kali ya, kasian yang perempuan cape," usul Zian sambil duduk di atas gundukan tanah yang otomatis Arin jadi ikutan ketarik sampai hampir nyusruk mencium batu kerikil yang lumayan tajam.


Rangga mengacungkan jempol tanda setuju, dia aja yang laki udah ngos-ngosan dengan nafas yang tidak beraturan, maklum baru pertama kali naik gunung, selama ini Rangga hanya bisa nyanyi 'Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali'.


"Bang, gak ikutan bangun tenda di sini?" Rini melihat Bastian yang hendak berlalu pergi sambil menyeret Dion yang ingin sekali istirahat.


"Gak!" Singkat, padat dan jelas. Rini memanyunkan bibirnya, padahal kalo ada Bastian di sini bakal lebih seru dan tugas dari nyokapnya Rini bisa terlaksana dengan mudah, yakni menjaga Rini selama aktivitas mereka mendaki gunung.


"Janga tarik gue, setan. Gue mau istirahat juga, lo kalo mau jalan jangan ngajak gue. Udah sih ikut aja sini, lo tidur bareng gue satu tenda," Dion menepis tangan Bastian kemudian menatap laki-laki yang lebih tua darinya dengan tatapan ceria.


"Ogah, mending gue bangun tenda sendiri," keputusan Bastian berubah, dia menjatuhkan ranselnya dan terduduk lemas di atas tanah dengan rumput sebagai penghiasnya.


15 menit berlalu, 10 tenda akhirnya berdiri kokoh, tak banyak yang ikut bermalam di tempat pilihan Zian, hanya delapan pendaki lain dan sisanya mereka.


"Ehh bang, gue satu tenda bareng lo ya, tenda gue gak bisa berdiri, kakinya sakit soalnya." Dion sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendirikan tenda tapi mungkin nasibnya yang sial, tenda yang dia bangun selama 15 menit penuh gak berdiri sama sekali.


"Gak bisa. Lo kalo tidur suka pencak silat," Bastian menyilangkan tangan di dada, menolak keras permintaan Dion meski pemuda itu memasang wajah memelas andalannya.


"Di sini ada yang kelebihan ruang gak?" tanya Zian karena dia sudah punya partner, yakni Rangga.


"Gue kosong sih, tapi bener juga kata si Bastian itu, tuh anak kalo tidur kayaknya bakal nari balet," cerca Rafi yang merasa dirinya tidur sendiri. Dion memejamkan mata, gini ya rasanya difitnah. Padahal Dion kalo tidur adem ayem, walaupun setiap bangun pagi di rumah Dion sudah pindah posisi jadi di bawah ranjang.


"Oke Dion, lo sama gue. Rangga sama Rafi," final Zian kemudian mengemas barang dan memasukkannya ke dalam tenda. Semua juga sudah setuju, jadi mereka memutuskan untuk segera tidur karena capek.


"Kenapa lo? Mendung banget tuh wajah," Arin menyenggol lengan Rini, sejak pemberhentian mereka di sini, wajah Rini tampak murung gak berenergi sama sekali. Arin takut Rini kemasukan jin gunung soalnya pernah denger cerita kayak gitu juga.


"Gue gak kerasukan ya, sembarangan." Arin nge-blank sebentar, bagaimana bisa Rini tau isi pikirannya. Arin natap Rini ngeri, mengedikkan bahu lalu segera berbaring memunggungi Rini yang menatapnya kesal. Padahal Rini tuh mau curhat mumpung mereka ada waktu berdua, malah ditinggal tidur. Ya sudah lah, besok saja, lagipula dia juga capek banget, apalagi waktu mereka tidur hanya beberapa jam karena tengah malam nanti mereka lanjut mendaki untuk sampai di puncak gunung, karena katanya sunrise di sana indah banget kalo dihati dari atas gunung.