
Bastian menarik tangan Arin ke parkiran, sekolah sudah tampak lenggang, seluruh siswa kebanyakan sudah angkat kaki dari sekolah karena memang sudah jam pulang.
Saat jam pelajaran, Arin dapat pesan dari Bastian katanya mau ngomong sesuatu tapi harus tunggu sekolah sepi dulu, Arin dengan rasa penasarannya yang tinggi mengiyakan saja, toh dapat tumpangan gratis juga, lumayan hemat uang.
Bel pulang berbunyi bersamaan dengan dering notif ponsel Arin menandakan ada seseorang tengah mengiriminya pesan sekarang. Bisa Arin tebak orang itu adalah Bastian, dan ya benar sekali. Bastian meminta Arin untuk diam sebentar di kelas, setelah 5-10 menit baru keluar kelas, ya Arin nurut aja. Rini sampai maksa buat temenin dia katanya dia gak ada yang jemput mau nebeng sama Bastian tapi kakak sepupunya itu beralasan mau kumpul sama temannya, padahal janjian sama Arin.
"Pulang duluan aja, gue nunggu bokap," ucap Arin, sedikit berbohong gak apa-apa lah ya, namanya juga penasaran kan, lagian Bastian bilang jangan bawa Rini juga.
"Heleh, sejak kapan lo dijemput bokap lagi, padahal selama ini lo jalan kaki atau paling nggak naik becak," sahut Rini sambil berkacak pinggang, gak percaya sama omongan Arin.
"Dih enak aja, gue gak pernah naik becak ya," timpal Arin gak terima.
"Terserah. Ya udah, gue duluan. Kalo dimakan setan jangan panggil nama gue," Rini melenggang pergi sambil menghentakkan kaki di lantai tanda bahwa ia sedang kesal.
Di sinilah mereka sekarang, di parkiran sepi tanpa kendaraan kecuali motor sport Bastian yang terparkir di samping lapangan sepak bola.
"Cepet, lo mau ngomong apa? Gue gak punya waktu," desak Arin seraya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Gue gak bilang mau ngomong di sini, naik cepat!" Bastian menyerahkan sebuah helm dengan gambar Hello Kitty dengan nuansa pink. Arin merenggut, lalu mendorong helm tadi.
"Gak usah pakai helm, gue bukan anak kecil. Lagian lo dapet helm kayak gini dapet darimana sih?"
"Helm punya adek gue, gue bawa bentar," jawab Bastian enteng. "Udah sih pakai aja, ukurannya pas kok, kepala lo kan kecil kayak isi otak lo."
Arin memutar bola matanya malas lalu merebut helm dari tangan Bastian kemudian memakannya.
"Puas lo??" Bastian menarik sudut bibirnya dan segera menaiki motor kesayangannya diikuti Arin di belakang, (ya lah masa di depan, kan gak mungkin)
"Kita sebenarnya mau kemana sih? Dari tadi gak sampai-sampai, heran gue," teriak Arin agar Bastian mendengar suaranya, karena selain pakai helm, angin di jalanan juga sedikit mengganggu pendengaran.
"Jangan ngadi-ngadi lo kalo ngomong," bentak Arin sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
"Lagian lo cerewet banget. Ehh tapi gue serius sama ucapan gue tadi, lo mau nggak?" Bastian kembali pada topiknya membuat Arin bergidik ngeri kemudian menggeleng keras tidak setuju. Bastian tersenyum di balik helm full face nya.
Selang beberapa menit, Bastian berhenti di sebuah rumah makan pinggir jalan, di sana banyak motor terparkir, tanda bahwa warung ini kayaknya lagi ramai pembeli, jujur Arin belum tau tempat ini dan belum kesini juga jadi kayak asing aja. Bastian menarik tangan Arin untuk masuk, tapi Arin salah fokus sama salah satu motor yang gak asing di matanya. Ahh, mungkin gue salah lihat, batinnya lalu ngekor di balik badan tinggi Bastian. Entah kenapa dia sama sekali gak protes dan ngikut aja gitu kemana Bastian membawanya. Jadi warung itu ada kayak penutupnya tapi gak pakai tembok melainkan kain yang di pasang di sekelilingnya, agak tertutup gitu dan kita gak bisa asal menerawang ke dalam karena gak kelihatan, yang bisa dilihat hanya siluet orang saja.
Bastian menyingkap kain yang jadi penutup warung tersebut, di situ Arin bisa melihat ramai orang yang kayaknya seumuran dia dan juga Bastian pokoknya masih anak sekolah lah, dilihat dari seragamnya, mungkin ini kayak markas atau tempat kumpulnya genk berandal sekolah kayak Bastian. Dan sebenarnya ini bukan warung makan, lebih tepatnya ini tempat orang minum dan ngerokok. Tempat illegal gak sih, mana boleh beroperasi siang-siang begini, tapi Arin gak tau pasti, tempat merokok berkedok warung makan ini sudah dapat izin atau belum dari pihak kepolisian.
Arin melihat sekeliling, menerawang sekitar, gak ada satu pun wajah yang ia kenal sama sekali kecuali satu. Mata Arin menyipit memperhatikan sosok lelaki yang tengah duduk di pojok kanan sambil mengapit rokok di antara jari telunjuk dan jari tengahnya dan sesekali menghentakkan batang nikotin itu ke asbak yang sudah disediakan di sana.
Bastian menarik sudut bibirnya, rupanya dia belum telat untuk membawa Arin kesini, kemudian tangannya bergerak menarik lengan Arin untuk masuk karena sedari tadi mereka hanya berdiri menghalangi jalan masuk.
"Ehh-ehh, Bastian dateng, cokk. Wihhh bawa cewek dong, mana cantik lagi," sahut salah satu laki-laki yang duduk di meja paling tengah sembari menyenggol bahu teman di sebelahnya yang lagi asik nyebat dan hanya ditanggapi dengan anggukan kepala.
"Hi guys, long time no see, how are you?" Bastian menjabat tangan laki-laki yang tadi ngomong, mereka kelihatan akrab, tapi bukan itu yang menyita perhatian Arin melainkan orang pertama yang ia lihat, matanya masih fokus menerawang karena jaraknya yang lumayan sedikit jauh dan juga posisinya yang menghadap samping membuat Arin sedikit mencondongkan badannya untuk melihat orang itu.
Teman Bastian menunjuk Arin dengan dagunya, Bastian yang paham hanya tersenyum miring dan mengedikkan bahunya lalu duduk tepat di samping laki-laki itu.
"Gak capek lo berdiri terus? Duduk!!" Kalimat Bastian penuh penekanan membuat Arin mau tidak mau mengikuti instruksi nya.
"Tumben bawa cewek, katanya gak mau jatuh cinta lagi. Emang prinsip lo udah berubah ya?" tanya laki-laki yang duduk di depan Bastian sambil sesekali melirik ke arah Arin, yang dilirik masih fokus dengan dunianya sendiri.
"Sekali prinsip tetap prinsip, gue masih terikat dengan prinsip gue, dan dia bukan pacar gue, hanya sebatas alat sih," ujar Bastian sedikit berbisik agar Arin tidak mendengar, Arin memang tidak denger tapi apa yang dilihatnya membuat Arin memekik kaget dengan mata yang membola. Bastian yang duduk di sampingnya sampai menutup telinga karena teriakan Arin, beberapa pasang mata juga tampak menatap ke arahnya.
"I-itu Zian?"