Selfish

Selfish
Selfish : 38



Padahal tadi aksi kabur Arin hampir saja berhasil, namun pergerakan nya segera dicegat oleh Dion yang khawatir kejadian kemarin terulang lagi. Alhasil Arin menetap di sana, terkurung dalam rumah bersama dua berandal gak ada akhlak di depannya ini, dan yang lebih sialnya lagi, Arin tidak membawa ponselnya, benda canggih tersebut tertinggal di atas meja. Itu berarti Arin harus melihat setiap detik kemesraan mereka, Arin pengen teriak sekencang-kencangnya dan menonjok hidung Dion sampai patah dan menjambak Agatha yang sudah terang-terangan merebut Dion darinya, tapi Arin masih bisa menahannya karena dia masih punya sedikit kewarasan.


"Arin lo mau makan apa?" Dion tiba-tiba bertanya.


"Apa aja, asal bisa dimakan," jawabnya datar.


"Ya sudah sekalian lo yang beli ya, kayaknya Agatha gak mau ditinggal. Tapi cepetan ya nanti Zian dateng, bisa-bisa gue jadi sasaran empuk nya lagi," Dion menyerahkan uang pecahan 10 ribuan. Arin melotot kaget, bunuh manusia halal gak sih?


"Lo bercanda? Mana cukup gue makan 10 ribuan, uang jajan sekolah gue aja kurang, tambah lagi," Arin gak permasalahin jika dia yang harus keluar beli, tetapi Dion yang ngelunjak minta dibelikan cemilan malah uangnya kurang.


"Ya lo tambahin lah, gue mau hemat buat tabungan nanti nikah sama Agatha."


"Dih si bangshat. Biar cukup nih duit, lo gak usah makan." Arin beranjak pergi sambil menghentakkan kakinya kesal.


Bingung mau beli apa dengan uang 10 ribu milik Dion. Setelah berfikir lama, Arin punya ide, dia datangi salah satu warung di pinggir jalan yang jaraknya dua meter dari rumah Dion. Setelah dirasa cukup dan uang pun sudah habis, Arin memutuskan untuk balik.


"Nih bagian lo," Arin melemparkan tiga biji permen ke arah Dion, sedangkan dirinya memegang sosis bakar dua tusuk, satu untuknya satu lagi untuk Agatha.


"Sosis untuk gue mana?"


"Lo kan punya, tinggal panggang doang langsung mateng." Agatha tersedak sosis yang belum dia kunyah dengan sempurna, Arin dan Dion panik dong sampai berlarian ke dapur mengambil air untuknya.


"Kak Agatha gak apa-apa?" tanya Arin khawatir, walaupun saingan tapi tetap saja rasa kepedulian nomor satu.


"Gue baik-baik saja," Agatha sontak tertawa lepas setelah tenggorokannya bebas dari hambatan sosis.


"Lo sih kalo ngomong difilter dulu, negatif mulu isi otak lo," kesal Dion. Sepertinya Dion satu pemikiran dengan Agatha.


"Negatif apaan, sat? Yang gue maksud tuh sosis di kulkas, lo kali yang negatif, dasar," Arin berkacak pinggang, saking kesalnya hampir menusuk jantung Dion dengan tusukan sate.


Dion dan Agatha saling pandang lalu nyengir satu sama lain.


Oke, pertemuan mereka kali ini lancar tanpa ada gangguan dan hambatan dari Zian si pembuat onar.


"Waktunya rebahan dan mengistirahatkan hati gue yang sudah retak," sebelum tidur, entah inisiatif dari mana, Arin meraih ponselnya di atas meja dan melihat 50 panggilan tidak terjawab dari Zian dan dua pesan yang belum terbaca.


"****. Niat banget ni anak nelpon gue." Tanpa berlama-lama dalam pikiran, Arin memilih untuk membaca pesannya saja, siapa tau di sana ada intinya.


'Agatha di mana? Di rumah lo atau di rumah si Dion setan itu?'


'Jawab telpon gue, ada hal penting yang harus gue omongin!'


Arin ketawa melihat pesan dari Zian yang pertama.


"Mampus lo Dion dikatain setan, tapi gue sedikit gak terima sih crush gue dibilang setan. Ehh baris yang kedua maksudnya apa? Apa iya gue harus telpon balik? Gak ahh, dalam sejarah kerajaan majapahit gak ada tuh istilah cewe yang nelpon duluan. Oke fiks, gue gak akan hubungi cecunguk itu sebelum dia sendiri yang melakukannya." Arin sudah bulat tekadnya, mau sampai kapan pun menunggu, tak ada tanda-tanda Zian menghubungi nya duluan, hal tersebut membuat Arin penasaran setengah mampus tapi rasa gengsi nya juga tinggi.


"Lah iya kok gue bodoh banget, tinggal gue bales aja pesannya kan bisa langsung dikasih tau." Daripada Arin mati penasaran, ia memutuskan untuk bertanya lewat pesan.


'Lo mau ngomong apa? Sorry ponsel gue lowbat makanya gue gak angkat'


Dugun-dugun menunggu jawaban malah notif operator yang datang.


Sial, ngapain gue nunggu balesan dia?


Arin mencoba untuk pura-pura tidak peduli dan memutuskan untuk tidur saja daripada menunggu yang tidak pasti.


.


.


Arin yang katanya anak rajin karena memang betul-betul rajin, memilih untuk mencatat materi di papan tulis sebelum ke kantin supaya nanti gak capek, alhasil Arin ditinggal oleh Rini.


"Nanti gue salin punya lo ya, soalnya gue harus cepat-cepat ke kantin, nanti seblak mang Tarno habis, lo tau kan betapa lakunya tuh makanan satu." Ucapan Rini yang masih teringat jelas sebelum pergi dengan tidak tau dirinya.


"Untung gue orangnya baik dan gak gampang marah," Arin hanya bisa mengelus dada sabar.


"Pak kepala sekolah gak ada apa ya niatan buat bikin jembatan sebagai jalan pintas buat ke kantin supaya gue gak capek-capek lewatin koridor yang panjang ini, mana gelap lagi padahal masih siang," Arin dengan segala keluh kesahnya.


Tiba-tiba dari belakang ada yang menarik pergelangan tangan Arin, dan tangan yang satunya digunakan untuk membekap mulut Arin.


"Mmmhhh!!! Lepasin gue, lepas woyy."


"Sadar anjir, ini gue Zian," Arin perlahan membuka matanya dan mengerjap pelan, malu banget karena mengira dirinya diculik padahal mah enggak. Posisi badan Arin nempel di tembok, Zian mengungkungnya agar Arin tidak bisa kabur.


"Lo ngapain sih pake bekap mulup gue segala, bau terasi tau gak, jantung gue hampir copot, gue kira penculik beneran," gerutu Arin seraya menatap tajam manik hazel di depannya.


"Ngawur banget, mana ada penculik di dalam area sekolah. Oke, balik ke intinya. Lo ketemu Agatha kan kemarin? Jawab jujur atau gue cium," ancamnya dengan tatapan yang membuat mental Arin menciut.


"Ancaman lo gak ada yang lain apa?"


"Jawab!!!"


"I-iya kak Agatha kemarin ke rumah," Arin buru-buru menutup mulutnya sendiri karena kalimat refleksnya yang sudsh tentu membawa nasib sial pada yang bersangkutan.


"Rumah lo atau rumah Dion?" Arin kembali diam, masa iya dia harus jujur lagi.


"Rumah gue."


"Jangan bohong, gue cium beneran nih lama-lama, soalnya gak mungkin Agatha betah di rumah lo."


"Ck, tapi janji ya jangan kasih tau kak Agatha kalo gue cepu sama lo." Zian mengangguk setuju. "Iya dia di rumah Dion, tapi mereka gak berdua doang, ada gue yang jadi nyamuknya makanya kemarin gue gak sempat angkat telpon lo, ponsel gue ketinggalan di kamar, puas lo?"


"Oke, gue terima jawaban lo. Tapi, jika sekali lagi lo bohong, gue mungkin akan kehilangan kendali."


"Anjir serem. Boleh pergi gak nih?"


"Pergi aja. Ehh tunggu dulu."


"Apaan lagi--?"


Cup!!


Satu kecupan lembut mendarat di pipi Arin, empunya langsung mematung di tempat.


"Gue sih lebih suka kalo lo bohong. Gue duluan."


"Apa yang begundal itu lakukan pada pipi suci gue???"