Selfish

Selfish
Selfish : 81



Arin anteng di punggung Zian, waktu menuruni gunung Arin gak sengaja kepeleset dan pergelangan kakinya keseleo, karena gak mampu buat jalan kecuali ngesot atau roll depan sampai bawah, akhirnya Arin mengiyakan tawaran Zian untuk menggendongnya meski sedikit menantang nyawa, ditambah Arin juga berat kalo kata Rini, Arin yakin Zian gak bakal kuat apalagi tuh anak habis dioperasi. Tolong, Arin gak mau buat anak orang cedera. Tapi Zian meyakinkan bahwa ini semua akan baik-baik saja, mereka juga sudah setengah jalan, sedikit lagi sampai di pos awal mereka ketemu.


Sementara ransel dan barang bawaan Arin dan Zian dipegang oleh Rangga dan Rini, saling gantian jika gak kuat oper ke Rafi sama Dion yang gak mau ikut campur tetapi masih aja kena.


"Buset, lo bawa apaan dah berat banget," keluh Rafi, usai Rangga melempar tas Zian tepat ke arah wajahnya yang mau tak mau Rafi harus menangkapnya dengan sigap.


"Halah, gak usah manja lo. Tas segitu doang lo kata berat, gak lihat tuh Zian bawa beban yang lebih berat lagi," ucap Dion berbisik seraya menunjuk Arin yang masih meringis sakit pada kakinya.


"Gue denger ya lo ngomongin gue, jangan sampai gue tendang lo dari atas sini," ketus Arin, pendengarannya cukup tajam tetapi tidak setajam mulutnya.


Dion langsung menyenggol bahu Rafi agar tidak menatap Arin yang memberontak ingin diturunin, tampaknya dia ingin balas dendam sungguhan.


"Gue mau turun, kaki gue udah baikan," rengek Arin, memukul pelan pundak Zian agar laki-laki itu mau menurunkannya.


"Yakin gak? Ntar kalo lo kejengkang ke belakang lagi gak usah nangis kayak tadi," jawab Zian dibarengi kekehan pelan.


"Dih, siapa yang nangis. Itu tadi gue cuma kaget doang. Udah sih turunin aja, gue mau jalan sendiri." Zian membuang nafas kasar, membungkuk membiarkan Arin turun dari gendongannya dengan hati-hati, mengingat mereka masih ada di atas gunung.


"Gimana? Lo bisa jalan?" tanya Zian meragukan dengan alis berkerut tak percaya.


"Gue cuma keseleo, bukannya lumpuh. Emm, btw makasih ya, gue hargai perjuangan lo gendong gue sampai sini, pokoknya makasih banget," ucap Arin, yang awalnya ketus kini intonasi bicaranya direndahkan karena gak enak, Zian udah capek-capek gendong badannya yang berat harus dia maki-maki, kan laknat banget.


Mereka lanjut jalan, tak mempedulikan satu sama lain lagi, masing-masing hanya ingin cepat-cepat sampai di bawah agar dapat bersitirahat segera. Tapi, tak berlaku buat Zian yang selalu mantau cara jalan Arin yang agak pincang sedikit tapi berusaha Arin normalkan cara jalannya agar yang lain tak terlalu memperhatikan, namun Zian berbeda, malah dipantengin terus sampai gak lihat jalan dan hampir nabrak pohon kelapa di depannya.


Wajah Arin kentara banget nahan sakit, karena jujur saja memaksakan berjalan di turunan sakitnya luar biasa, apalagi kakinya yang keseleo belum diurut, jadi sakitnya tuh nambah 10 kali lipat. Tapi yang namanya Arin keras kepala, gak peduli dengan rasanya yang penting gak menyusahkan teman-temannya seperti janjinya dari rumah.


.


Singkat cerita, mereka semua sudah tiba di pos awal, sibuk dengan aktivitas masing-masing, ada yang langsung rebahan, selonjorin kaki sambil badannya naik-turun, ada yang makan cemilan dan banyak lagi. Berbagai macam lika-liku yang di alami selama menuruni gunung membuat mereka kelaparan.


"Pulang bareng siapa lo?" tanya Rini, santai memijat kakinya yang pegal, tak lama kemudian datang Rangga dengan dua botol Floridina di tangannya, satu untuk Rini dan satunya lagi untuk dirinya sendiri lah, jelas. Mana ingat dia sama teman-temannya kalo sudah sama ayang.


Arin natap Rini sekilas lalu mengangkat bahu tak tau, gak perlu bingung sih, angkutan umum berkeliaran di sekitar mereka, buat apa susah kalo emang gak ada yang bersedia memberikannya tumpangan.


"Bareng gue sama Bang Bastian aja, mumpung banyak tempat kosong," ujar Rini usai meneguk minumannya sampai sisa setengah. Arin memanyunkan bibirnya berpikir sambil hadap langit.


"Hmm, bo--"


"Bareng gue!!" Arin tersentak, suara deep Zian mengagetkannya, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya.


"Nggak. Orang mereka nanti pulang naik delman," sela Zian. Dion langsung duduk, menatap Zian tidak terima.


"Lo ngebuang gue? Padahal kita berangkat bareng loh," Dion merangkak mendekati Zian yang sibuk cabutin rumput, tidak peduli dengan omongan Dion.


"Untuk kali ini gue butuh waktu berdua sama Arin, ada yang mau gue omongin," Zian mendekati Dion dan membisikkannya sesuatu, Arin mendengus malas, menarik tangan Rini untuk pergi dari tempat itu.


.


Arin menyandarkan kepalanya pada jendela mobil, berusaha memejamkan mata dan mengabaikan sekitar. Arin sejenak ingin mengistirahatkan pikiran.


"Lo gak apa-apa? Kaki masih sakit?" pertanyaan Zian sungguh mengganggu, Arin membuka mata dan segera menoleh.


"Udah baikan," jawaban singkat yang terlontar dari Arin membuat Zian kehabisan topik, mau langsung ke pembahasan tapi suasana dalam mobil masih terasa kaku.


Zian narik nafas dalam-dalam, membasahi bibirnya kemudian kembali melirik Arin, perempuan itu sepertinya berusaha untuk tidur, Zian jadi kembali mengurungkan niatnya.


"Ada yang mau lo omongin sama gue?" Zian berdehem dan sontak melotot, sepertinya Arin bisa mengetahui isi pikirannya.


"Lo mau ngomong apa?" Arin semakin mendesak, atmosfer di antara keduanya membuat Zian keringat dingin.


"Gak penting-penting amat sih, tapi gue cuma mau jujur aja," Zian kembali membasahi bibirnya, meneguk salivanya dengan berat karena tenggorokannya mulai terasa kering. Arin masih menunggu, alisnya berkerut hebat tanda bahwa ia benar-benar penasaran.


"Ngomong aja kali, gak usah ngegantung gitu. Gue bukannya penasaran ya," kata Arin meyakinkan, karena kalimatnya tadi seolah mendesak Zian untuk segera bicara. Zian terkekeh pelan sebelum kembali mengatur detak jantungnya yang berpacu dengan kuat.


"Gue... Gue bakal putusin Laras." Hening. Zian merutuk, sudah dia duga Arin tidak akan peduli tentang ini, tetapi hatinya seolah mendorong Zian untuk ngomongin hal ini pada Arin, entahlah Zian pun tak tau kenapa hal ini penting buat Arin, padahal faktanya mah, tidak.


"Kenapa?" Masih dengan nada acuh, Arin berusaha menormalkan intonasi suaranya, padahal tadi dia hampir saja meledak karena kaget.


"Gue gak tau kenapa, tapi yang jelas gue merasa gak pantes buat dia, masih banyak laki-laki lain yang lebih layak buat Laras dibanding gue," tutur Zian, pandangannya lurus ke depan.


"Lo egois."


"Hah?" Zian segera menoleh, menatap Arin bingung.


"Iya, lo egois!!"