Selfish

Selfish
Selfish : 21



Sudah kelar masalah yang pertama ehh malah muncul masalah baru lagi dengan teman yang sama tentunya, memang ya netizen gak ada henti-hentinya nyibukin diri dengan urusan orang lain, hidup sendiri udah tentu bener?


Arin dan Rini tengah berjalan santai hendak menuju kelas, namun fokus mereka teralihkan saat melihat para siswi berkumpu di depan mading sambil berbisik-bisik gak jelas, kayak ngegosip satu sama lain. Mereka berdua saling pandang, saling melemparkan tatapan penuh tanda tanya.


"Bukannya kita belum memasuki hari kelulusan ya, kok pada rame kerumunin tuh mading?" Pertanyaan Rini sama juga seperti yang ada di benak Arin. Perasaannya mulai gak enak saat salah satu siswi menunjuk ke arah dirinya dengan tatapan tak terbaca dan masih dengan bibirnya yang tidak bisa berhenti ngebacot.


Daripada berdiri kayak bebek tuli, mending langsung samperin dan lihat apa yang terjadi sebenarnya. Arin mendorong satu persatu siswi yanh banyaknya bejibun itu demi bisa melihat isi mading. Betapa terkejutnya dia saat mendapati foto dirinya dan Zian di taman bermain kemarin, dengan posisi membelakangi kamera sudah pasti orang yang memotretnya lewat belakang. Arin benar-benar capek dan kesal sekarang, dengan kasar dia membuka kaca mading itu dan merobek foto di dalamnya. Semua siswi memperhatikan itu dengan jelas bahkan ada yang memprotes perbuatan Arin karena telah lancang menyingkirkan yang sudah menjadi hak mading.


"Gue cuma pengen sekolah dengan tenang, kenapa sih orang-orang susah bangeg lihat gue adem sedikit, ada aja beban yang gue dapet di sini. Setidaknya kasih gue waktu seminggu saja untuk menikmati ketenangan di sekolah ini," Arin memijat pelipisnya, mencurahkan segala beban pikiran kepada Rini. Kantin mulai ramai karena suara bel yang mendominasi, Arin jadi tidak fokus untuk menetralisirkan otaknya.


"Gue tau ini pasti berat banget buat lo, apa sebaiknya lo jaga jarak dulu sama kak Zian untuk berjaga-jaga, siapa tau tuh paparazi jadi-jadian akan terus ngikutin lo kemana pun." Hening, tidak ada jawaban sama sekali dari Arin. Bukannya nggak mau jauh dari Zian tapi dia nya aja yang keras kepala, pasti dia akan menolak keras saran ini.


Genk Nayla lewat tepat di depan mereka, Arin bisa lihat tuh anak sangat bahagia sekarang, wajahnya berseri seperti telah melakukan sesuatu yang luar biasa dalam hidupnya. Nayla balik menatap Arin dengan songongnya dia mengedipkan sebelah matanya seolah menggoda, Arin bergidik ngeri dan langsung membuang muka.


"Gimana hadiah dari gue? Lo suka?" Arin mengernyit, Nayla menghampiri meja mereka dan bertanya seperti itu.


"Maksud lo?"


"Gue rasa lo suka banget hadiah gue, bisa gue lihat dari wajah susah lo," Nayla tersenyum miring kemudian berlalu pergi.


"Dasar orang aneh, seharusnya sekolah ini menerapkan syarat jika muridnya harus berakal biar gak ada yang gila."


Arin menyipitkan matanya saat menangkap sosok Zian yang berjalan dengan tampang gagahnya memasuki kantin diiringi oleh ketiga temannya yang lain. Kehadirannya itu menyita pandangan para siswi yang tergila-gila padanya, teriakan heboh memenuhi kantin sampai membuat telinga pengang seketika.


"Lebay banget sumpah, Zian masih kalah jauh, visualnya kebanting sama Dion," Arin berdecih, hatinya ternyata masih ada pada Dion seorang, setelah semua yang Zian lakukan masih tak berdampak apa-apa bagi seorang Arin.


"Arin, Arin. Lo liat itu mereka semua ganteng banget, apalagi kak Rangga oh my god, pengen gue gotong bawa ke KUA," Rini tidak ada bedanya dengan cewek-cewek centil itu hanya saja Rini mengagumi dalam diam gak teriak histeris macam penghuni kebun binatang.


"Sejak kapan lo suka kak Rangga?" Arin menautkan alisnya, bingung juga dengan status Rini.


"Sejak dia meminjamkan gue topi sama dasinya kemarin, anjir lah saat ngomong sama gue suaranya lembut banget kayak brownies baru mateng," Rini yang masih terngiang-ngiang dengan interaksi antara mereka berdua kemarin.


"Heh, sejak kapan gue naksir kak Zian. Gue udah sadar duluan kali gak mampu bersanding dengan kak Zian lantaran saingan gue sebanyak itu, ya termasuk lo tentunya, masa gue rebut punya temen sendiri. Noh, lo liat aja tuh barisan ciwi-ciwi yang ngantri pengen deket dengan dia, apa gak kebanting gue sama mereka. Lagian ya gue cuma kagum doang dengan ketampanan kak Zian itu aja gak lebih. Mending yang pasti-pasti ajalah yang sudah jelas di depan mata." Rini kembali memandangi Rangga dari jauh. Arin mengangguk-angguk mendengar penjelasan panjang lebar kali tinggi dari Rini, tumben sekali dia bijak biasanya asal ngomong, sudah begitu ngawur lagi.


"Ehh Arin, mereka kesini tuh astaga makin deket kok hati gue jedag jedug ya," mata Rini membola sempurna membuat Arin penasaran. Dengan posisi yang membelakangi semua orang, Arin jadi gak sadar dengan sekitar kecuali dia berbalik badan.


"Hah apaan?" Arin hanya bisa ngang ngong di tempat. Telunjuk Rini sudah memberi isyarat untuk Arin noleh ke belakang. Baru saja menoleh, netranya bertemu tatap dengan Zian. Pria itu berjalan lurus dan mulai mendekat ke arahnya. Mampus dah, kena skandal lagi nih gue besok.


Arin tak mau menghiraukannya, selain tidak suka dengan cara pandang para siswi pengagum Zian ke arahnya dia juga tidak mau ada berita hoax lagi seperti yang baru-baru saja terjadi pada dirinya bahkan menjelekkan dan menjatuhkannya secara nyata.


Zian duduk tepat di samping Arin.


"Hai." Sapaan singkat yang membuat Arin jadi tidak fokus. Untung ada sisa kuah bakso jadi dia ada kerjaan untuk mengalihkan perhatian.


"Apa?" ketusnya.


"Kok jawabnya kek gitu? Coba hadap sini deh," Zian menarik dagu Arin membuat kantin jadi semakin riuh lagi oleh teriakan penghuninya saat ini, entah itu teriakan kecemburuan atau kegembiraan. Arin sontak menepis tangan Zian yang sudah lancang itu. Jujur saja jantung Arin berdetak tidak karuan sekarang. Berbeda hal nya dengan Rini yang salting tujuh turunan karena sejak tadi ditatap oleh Rangga yang duduk di depannya. Lelaki itu terlihat mencoba mencari perhatiannya dengan melempar gumpalan kertas dan berhasil mengenai kepala Rini.


Di tempat yang sama namun di posisi yang berbeda, Nayla mengepalkan tangannya kuat-kuat, panas juga melihat interaksi lelaki yang selama ini dia idam-idamkan malah bermesraan dengan perempuan lain di depannya.


"Udah Nay, si Arin itu gak ada apa-apanya dibandingkan lo, menang tampang doang dia mahh," ucap Gisel.


"Ohh jadi secara fisik gue gak cantik, begitu?" Niat hati menenangkan malah kena semprot.


"Bukan seperti itu Nayla, aduh gimana sih cara jelasinnya. Ehh Maya bantuin gue kenapa sih, make up aja kerjaan lo dari tadi, tuh liat muka lo selicin kepala botak pak Kepsek."


"Syirik aja lo, dibanding muka lo kek besi karatan."


"Berantem saja terus, jangan sampe nih meja gue lempar ke muka lo berdua," Nayla menghentakkan kakinya lalu pergi. Lama-lama atmosfer di kantin berubah jadi api neraka.