
Beberapa hari berlalu, kondisi Zian sudah semakin membaik tapi harus tetap stay di rumah sakit meski ruangannya sudah dipindahkan. Tidak ada yang berubah, tubuh Zian masih dilengkapi dengan berbagai macam alat medis.
Zian saat ini tengah disuapin makan oleh sang Bunda, tampak Riana dengan telaten dan penuh kasih sayang memperlakukan Zian, baginya selama ini dia gagal sebagai seorang Ibu bagi putranya karena tidak mengetahui sama sekali penyakit yang selama ini diderita oleh Zian. Matanya kembali berkaca-kaca mengingat saat di mana dirinya menerima hasil pemeriksaan Zian dari dokter. Riana menunduk menatap mangkuk yang sudah kosong isinya, memejamkan mata meredam semua bulir bening yang sudah siap meluncur keluar.
"Sekarang kamu istirahat ya, Ibu ke toilet sebentar," Riana mengusap punggung tangan Zian dan sesekali mengecup kening putra tunggal kesayangan. Zian mengangguk lemah berusaha menggenggam telapak tangan Riana, tenaganya lemah tapi terukir senyum bahagia di wajahnya yang masih membuat Riana kuat melihat kondisi Zian.
Riana tak sepenuhnya bohong, dia memang ke toilet tapi cuna sebentar. Riana langsung menuju ruangan Dokter yang selama ini menangani Zian. Tangannya bergerak mengetuk pintu kayu tersebut sehingga sahutan dari dalam membuatnya langsung menarik knop pintu dan segera masuk, Riana tak punya banyak waktu. Tak ingin meninggalkan Zian sendirian di ruangannya, Riana harus meluruskan ini terlebih dulu supaya hati dan pikirannya bisa tenang.
Terjadi dialog antara dua manusia di dalam sebuah ruangan, Riana yang protes dan meminta diagnosa ulang tentang masalah penyakit Zian, Riana masih belum puas dan susah untuk percaya karena selama ini di pandangan Riana, Zian terlihat sehat dan bertenaga setiap masa.
Dokter Andre hanya menghela nafas pelan, mengangguk yakin tanda bahwa semua hasil pemeriksaannya tidak pernah salah. Riana langsung membeku di tempat, kini air mata sudah tak bisa ia tahan lagi, bulir bening itu berlomba-lomba turun untuk mengabarkan pada dunia bahwa Riana sedang tidak baik-baik saja, pikirannya melayang kemana-mana, mengarah kepada hal yang negatif. Dokter Andre merasa tidak enak, dengan berat hati ia hanya bisa mengusap punggung Riana untuk menenangkan, tak ada lagi yang bisa dia lakukan. Dalam hati, Dokter Andre juga sebenarnya enggan membeberkan semua ini karena sudah mengikat janji dengan Zian sendiri tapi semua ini tidak bisa ditahan lagi, akhirnya setelah kondisi Zian semakin memburuk, terpaks dokter Andre memanggil Riana ke ruangannya, di situlah Riana menangis tersedu-sedu sambil menggenggam selembar kertas berisi hasil diagnosa penyakit Zian, Riana terduduk di lantai karena kakinya seperti tidak sanggup lagi menopang badannya yang sudah seperti jelly. Mengingat dulu bahwa mendiang suaminya juga mengalami hal yang sama dengan Zian membuat Riana seketika kehilangan semangatnya, dia tak mau kejadian yang sama terulang lagi. Dua kali kehilangan seseorang yang paling dicintainya adalah hal terburuk bagi Riana, jika semua itu terjadi sepertinya benar cahaya hidup Riana akan redup selamanya.
Dengan langkah kaki lemas, Riana keluar dari ruangan Dokter Andre setelah menerima beberapa penjelasan singkat dan bermanfaat yang sekiranya dapat mengurangi sakit Zian. Riana masih bisa bersyukur karena penyakit Zian belum terlalu parah, oleh sebab itu sebisa mungkin Riana akan mengusahakan yang terbaik untuk kesehatan Zian meski harus menjalani operasi sekalipun yang penting putranya bisa sembuh total meski perkiraannya hanya 60%.
Riana berdiri di depan ruangan Zian seraya menghapus sisa air mata, Riana tidak mau jika Zian menyangka dirinya habis menangis karena kondisinya. Riana tak suka melihat Zian bersedih. Tetapi, entah kenapa air matanya selalu merembes keluar tanpa diminta membuat Riana susah mengontrol emosinya sendiri.
Setelah nafas nya mulai stabil, perasaannya sudah membaik. Riana membuka pintu ruang rawat Zian, tampak pemuda dengan bantuan alat medis di atas brankar tengah tertidur lelap, sama sekali tidak terganggu dengan suara pintu yang sedikit berisik jika berada di ruangan tertutup.
Perlahan langkahnya bergerak mendekati brankar, ditatapnya wajah tampan dengan ukiran sempurna itu, sungguh mahakarya Tuhan yang sangat indah. Tak terasa air mata kembali berjatuhan diselingi senyum yang tak dapat diartikan, yang jelas tatapannya seolah bicara bahwa semua akan baik-baik saja, dan Riana berjanji untuk senantiasa menemani Zian, bahkan rela berhenti dari pekerjaannya demi putra semata wayangnya yang sangat ia sayangi.
Laras mengotak-atik laptopnya, tangannya menari di atas keyboard menekan satu persatu tombol alfabet dan membentuk sebuah kalimat. Laras mendengus pelan, meremat kuat selimut tebalnya sambil terus menatap kesal ke arah layar laptop yang menyala. Rupanya Laras sedang membuat alasan pada dosennya untuk memberinya waktu satu minggu lagi berada di Indonesia, memilih untuk tidak berterus terang, Laras mentumbalkan Om nya sebagai bahan alasan yang sedikit masuk akal. Memberitahukan bahwa Om nya ini baru saja meninggal dunia padahal mah masih sehat wal afiat.
Laras menendang angin karena sudah kesal sekali, waktunya di Indonesia tinggal besok, padahal dia tuh pengen nemenin Zian sampai pacarnya itu sembuh yah meski dalam waktu seminggu belum seratus persen berhasil, tapi yang jelas Laras ingin Zian tau bahwa rasa cintanya itu tulus dan gak main-main.
Gadis itu merebahkan tubuhnya kasar di atas ranjang, melempar selimut ke lantai mengacak rambutnya frustasi karena besok dia harus siap-siap berangkat ke London.
Mendapat kabar bahwa Zian sudah siuman membuat Laras senang bukan main. Ingin sekali rasanya Laras langsung menyusul pujaan hati ke rumah sakit, tapi sayangnya dia harus packing barang untuk besok.
"Huh, setidaknya aku masih punya waktu untuk salam perpisahan dengan Zian," kini Laras beralih memainkan ponselnya, menatap satu persatu notif dari temannya di London, yang isinya mengingatkan Laras bahwa besok hari terakhirnya di Indonesia. Yang paling banyak sih notif dari Joshua, nama dia saja yang memenuhi layar. Laras membaca satu persatu chat Joshua, isinya hanya mengucapkan selamat kembali ke London dan hati-hati, itu saja yang Joshua ulang sampai puluhan kali. Laras merenggut, capek-capek dia scroll chat Joshua ternyata isinya sama semua.
Untuk menghemat waktu, Laras berencana untuk packing barang-barangnya hari ini saja karena kalo nunggu besok bakal keburu. Laras meraih koper yang biasanya dia pakai untuk bepergian. Sudah cukup lama dan sedikit berdebu, padahal baru sebulan. Terpaksa Laras harus membersihkannya terlebih dulu. Utamakan kebersihan.
Tak banyak yang Laras bawa, hanya setengah dari isi lemarinya.
"Apa lagi yang kurang? Hmm, aku rasa tidak ada." Laras menatap jam dinding, masih pukul 2 siang.
"Nanti sore aku ke rumah sakit," Laras akhirnya tertidur karena capek.