
Acara MPLS yang membosankan ini sudah benar-benar selesai, hanya dua hari cukup buat melatih siswa baru untuk mengenal lingkungan sekolahnya dan bisa beradaptasi dengan sesamanya. Besok sudah boleh masuk seperti biasanya dan mengikuti pelajaran seperti biasa juga. Arin bernafas lega mendengarnya, dia tidak perlu lagi ikut ikutan bertingkah aneh dalam acara yang menyiksanya ini.
Jauh siang Arin dan yang lainnya diizinkan pulang, beda dengan hari kemarin yang pulangnya cepat tapi hari ini beda dia agak telatan pulang. Arin meraih benda berbentuk persegi panjang dari dalam saku nya kemudian menekan nomor Papa nya minta dijemput.
Setelah mendapat jawaban iya dari sang Papa, Arin bergegas keluar menuju gerbang sekolah. Di sana Arin tidak sengaja bertemu dengan musuh nya baru-baru ini, siapa lagi kalo bukan Nayla si cewe centil dan sok polos.
Arin bodo amat dengan tatapan sinis Nayla, dia juga sepertinya sedang menunggu jemputan, Arin memilih nunggu di sebelah timur menghindari perempuan itu.
Tak lama kemudian, Zian and the genk keluar dari ruang rapat mereka, melihat itu Nayla berlari menghampirinya. Alih-alih menyapa dia malah blak-blakan minta diantar sama Zian.
"Kak Zian, ayo anter aku pulang," ujarnya tanpa dosa, tanpa permisi dia langsung saja menggandeng lengan Zian sok akrab. Agatha mengernyit heran begitu juga dengan Rangga dan Rafi yang saling pandang tidak mengerti. Zian nampak tenang, tapi percayalah dia juga tak kalah terkejutnya dengan yang lain.
"Apa-apaan nih? Lo siapa?" tanya Rangga pada Nayla yang dijawab hanya dengan tatapan malas.
"Sorry, gue bukan sopir taxi," sahut Zian seraya menyingkirkan tangan Nayla dari lengannya.
"Kak Zian curang, kemarin aja kakak anterin Arin kok sekarang nolak aku?" Nayla merenggut kesal, dia sengaja mempoutkan bibirnya agar terkesan imut, trio julid yang menyaksikan itu hanya bisa menatap sinis dan hendak muntah melihatnya. Zian menghela nafas pelan lalu menatap ke arah ketiga temannya yang masih memasang ekspresi julid nya.
"Lo bisa pulang sama Rangga, dia yang punya mobil bukan gue, gue gak bawa mobil," jawab Zian dengan ekspresi tenangnya.
"Lah kok gue anjir, gak-gak, gue gak mau," tolak Rangga tegas, mana mau dia pulang sama cewek yang sok akrab ini. Nayla yang ditolak mentah-mentah langsung protes.
"Yang mau sama kakak juga siapa? Orang aku nya mau sama kak Zian," ejek Nayla sambil menjulurkan lidahnya.
"Rafi, ingatkan gue kalo membunuh orang itu dosa, cepat tahan tangan gue sebelum gue hilang kendali dan mencekik perempuan ini!"
Agatha ingin tertawa ngakak melihat perubahan ekspresi wajah Rangga, kesabarannya setipis tisu toilet. Zian menghela nafas pasrah dan asal mengiyakan permintaan Nayla untuk mengantarnya, kebetulan Agatha bawa mobil jadi lah mereka bertiga dalam mobil, yang dua nya lagi pake mobil yang satunya soalnya beda arah.
Zian duduk di depan kemudi disusul oleh Nayla di sampingnya, tadi sih Agatha yang di depan tapi Nayla merengek gak terima, jadi Agatha ngalah aja deh demi kenyamanan bersama. Di perjalanan Nayla tak henti-hentinya memandangi pahatan sempuran wajah Zian yang tengah fokus menyetir mobil. Agatha memperhatikan gerak-geriknya dari belakang walaupun dia terlihat sibuk dengan ponselnya tapi pandangannya tidak bisa lepas.
Rumah Nayla dekat hanya saja dia ngarahinnya berbelit-belit agar bisa lebih lama sama Zian dalam mobil, kurangnya cuma di Agatha dia jadi tidak leluasa menggoda Zian. Gak tau malu memang, padahal ini mobilnya Agatha.
"Turun!" perintah Zian datar. Nayla menggerutu kesal kemudian turun dari mobil disambut Agatha di luar karena mau tukar posisi. Setelah mengucapkan terima kasih yang tidak tulus, Zian langsung melesat pergi dari hadapan Nayla, muak juga lama-lama.
......................
"Lumaya Pah, ada suka dukanya," jawabnya memelas.
"Kok gitu? Kamu gak nyaman ya sekolah di sana?, apa mau pindah aja?" Hendri yang protektif banget masalah kenyamanan Arin di sekolah tidak akan segan-segan mengambil keputusan apapun itu asal putrinya bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya.
"Gak kok Pah, masalah sepele doang tidak perlu dibawa serius. Arin suka kok sama sekolahnya," jawab Arin sedikit panik kemudian kembali lagi menyenderkan kepalanya pada kaca mobil dan mulai tertidur, padahal sebentar lagi sampai rumah tapi dia sudah pulas.
Setelah sampai rumah, Arin segera masuk rumah sendiri karena Hendri juga harus balik ke Kantor nya untuk melanjutkan kerja nya yang tertunda. Rumah tampak sepi, Mama Arin sepertinya sedang berkunjung ke rumah tetangga sebelah yang katanya lagi sakit. Karena capek Arin segera masuk kamar untuk beristirahat.
Sorenya Arin terbangun sekitar jam 4, dia segera membersihkan diri dan langsung sholat asar. Tidak ada tanda-tanda Rima di rumah ini, masa berkunjung sampai sore begini.
"Sore-sore gini enaknya makan es krim," gumam Arin sambail membayangkan. Karena stok di kulkas sudah habis, dia memutuskan untuk pergi ke supermarket di pinggir jalan, mumpung deket jadi gak perlu naik kendaraan. Arin bersenandung ria menuju supermarket, sudah tidak sabar untuk cepat-cepat makan es krim kesukaannya.
Setelah sampai, Arin segera berlari ke arah kulkas tempat es krim berada kemudian mengambil beberapa untuk persediannya di rumah. Arin teringat bahwa dia harus beli sesuatu juga, dia kemudian pindah ke arah rak yang berjajar.
"Beli snack juga kali ya," Arin mengetuk-ngetuk dagunya berfikir mau beli atau tidak, takut uangnya gak cukup soalnya tujuan dia ke sini kan cuma mau beli es krim, tapi snack di sini sangat menggiurkan minta dibeli.
"Ya udah lah cari yang murah saja," ujarnya lagi kemudian menatap satu persatu harga nya siapa tau ada yang murah.
Saat asik memilih, Arin tidak sengaja menabrak tubuh seseorang, tanpa menoleh Arin melontarkan kata maaf karena di sini dia yang salah karena tidak memperhatikan jalan.
"Ahh maaf, saya tidak sengaja," ucap Arin sambil membungkuk sedikit, tapi matanya masih fokus mencari harga snack yang murah.
"Tidak apa-apa," jawab orang itu. Wait, suara itu? Arin kenal suara itu, dengan cepat dia menoleh ke arah orang tersebut.
"Hai, sudah lama sekali ya?"
Gak mungkin. Arin pasti salah lihat kan, dan kenapa orang ini ada di sini? Oh tidak, Arin benar-benar malu sekarang, rasanya pengen menghilang saja dari muka bumi ini.
***Hmmmm, kira-kira Arin ketemu siapa ya?????
Sedikit pengumuman dari saya, sepertinya dua minggu saya gak bisa up novel dikarenakan ujian akhir sekolah yang akan dilaksanakan besok, tapi insya Allah akan saya usahakan untuk tetap update walaupun terlambat. Saya harap readers bisa memakluminya.
Terima kasih***....