
Ini niatnya beli bahan praktikum atau shopping, karena sejak melangkahkan kaki di lantai Mall Rini menarik Arin menuju toko baju, sepatu dan tas pokoknya yang mengarah pada fashion. Arin hendak protes tetapi Rini seolah tidak memberikannya ruang untuk bicara.
"Gimana, cocok gak sama badan gue?" Rini mencocokkan sebuah dres selutut warna maroon, desainnua cukup cantik namun sedikit gerah jika dipakai, itu sih menurut pandangan Arin karena hiasannya banyak sekali.
"Dari tadi kita ke toko baju gak ada satu pun yang lo beli, gue hitung-hitung sudah 4 toko yang kita datangi," ketus Arin sambil bersidekap dada, Rini hanya cengengesan. Memang dalam hati Rini gak ada niatan untuk membeli baju hanya ingin melihat-lihat saja.
"Nyengir kan lo kayak kuda habis makan. Cepat, toko perlengkapan ada di sebelah sana," kali ini Arin yang memimpin jalan diikuti Bastian dan Rini yang saling senggol karena sudah membuat Arin emosi, bukan emosi sih lebih tepatnya kesal, lagian sudah hampir dua jam mereka hanya berkeliling di sekitar toko baju.
Mereka gak beli banyak, sesuai kebutuhan saja. Praktek mereka kali ini yakni membuat rumah-rumahan dari stik es krim, mungkin agak kekanak-kanakan sih tapi lumayan susah, harus ada keterampilan dan kesabaran dalam menyusun tumpukan stik. Bukan hanya rumah saja tetapi harus lengkap sama halaman bahkan disuruh buat serta kolam renang nya. Jadi dalam praktek Prakarya ini harus membutuhkan banyak stik, mumpung satu kelompok dua orang jadi di suruh buat dua karya, satunya rumah-rumahan dan yang ke duanya bebas apa pun yang ada di pikiran sang pembuat.
Arin bersyukur satu kelompok dengan Rini, karena gurunya juga males buat bagi kelompok jadi disuruh bagi sendiri asal dua orang sudah cukup.
"Anjir banyak banget stik yang lo beli, Arin." Rini kaget melihat dua tangan Arin penuh dengan stik es krim.
"Buat jaga-jaga nanti kalo salah gak perlu buka lem tinggal pake stik baru lagi," jawab Arin dengan santainya.
"Ambil kain flanel nya sama lem di sebelah sana!" Rini hanya menurut, berjalan gontai ke arah yang ditunjukkan Arin tadi. Sementara Bastian ikut berkeliling, maniknya tidak sengaja melihat kertas minyak yang sering digunakan untuk membuat layangan.
"Kak Bastian mau buat layangan? Ambil aja nanti aku traktir," ujar Arin dari belakang sambil menahan tawa, Bastian cepat-cepat melempar gulungan kertas itu dan menatap Arin canggung.
"Siapa yang mau buat layangan coba, gue bukan anak kecil lagi ya, udah gak jaman main kayak gitu," sahut Bastian dengan raut songongnya lalu pergi.
"Ngaku aja apa susahnya sih," kekeh Arin sambil ngebayangin Bastian lari-larian di sawah main layangan bersama para bocil lainnya.
Usai berbelanja kebutuhan praktek, Arin mengajak Rini dan Bastian untuk mampir ke restorang yang ada di dalam Mall, laper juga setelah berkeliaran gak jelas.
.
"Bye Arin, besok gue ke rumah lo buat kerja kelompok, kalo buat sekarang keburu malem," usai mengantar Arin pulang, Bastian melajukan mobilnya bersama Rini.
Setelah mobil Bastian tidak terlihat lagi, Arin membawa barang-barang yang sudah dia beli ke dalam rumah.
"Mandi dulu habis itu baru tidur," Rima datang dengan secangkir teh yang kemudian ia letakkan di atas meja sembari memperhatikan putri kesayangannya tiduran di karpet.
"Nanggung, Ma. Mandinya besok aja," sahut Arin dengan badan tengkurap.
"Tadi Zian ke sini katanya mau ajak kamu buat beli perlengkapan acara di sekolah, Mama denger juga kamu jadi wakil ketua osis ya di sekolah, kenapa gak pernah cerita sama Mama, hmm? Mama bangga loh kamu kepilih," tutur Rima, baru tau Arin jadi wakil dari organisasi yang menurut sebagian orang keren, kalo Zian gak cerita sih Rima sampai kapan pun gak bakal tau, Arin sengaja rahasiain takut sang Mama marah karena gara-gara ikut organisasi itu pembelajaran akan banyak yang tertinggal, tapi bayangan Arin kebalikannya, Rima malah bangga dengan hal itu. Oke, skip dulu. Arin sampai lupa jika dia sudah buat janji dengan Zian untuk pergi sepulang sekolah ini.
"Bisa-bisanya gue lupa, dasar otak udang gak inget sama sekali," Arin mengetuk kepalanya pelan menyalahkan memori ingatannya sambil merutuk gak jelas. Rima sendiri heran dengan kelakuan Arin yang tiba-tiba saja begitu.
Sudah ia duga, layar ponsel Arin dipenuhi tulisan panggilan tidak terjawab dari Zian disertai beberapa pesan juga.
.
Sebelum turun dari mobil, Arin berpamitan pada sang Papa yang bersiap-siap pergi kerja.
"Maaf ya sayang, Papa jarang bisa jemput kamu. Tapi untuk hari ini akan Papa usahakan, semoga bisa."
"Gak apa-apa, Arin bisa jalan kaki atau pesan ojol juga bisa," kekeh Arin agar sang Papa menyimpan rasa bersalahnya.
Arin melambai kala mobil warna abu melaju membelah jalanan, Arin berbalik dan hampir saja kejengkang ke belakang karena kaget Zian tiba-tiba berdiri di depannya dengan tatapan datar.
"Datang tuh pake salam, main muncul aja kayak setan, atau jangan-jangan bener lagi kalo lo titisan setan," ujar Arin dengan nada kesal. Tanpa mempedulikan ocehan Arin, Zian menarik pergelangan tangan nya dan membawa Arin masuk area sekolah, cekalannya cukup kuat hingga membuat Arin meringis.
"Lo kalo ada masalah jangan lampiasin ke gue dong," bentak Arin saat Zian melepaskan genggamannya tepat di depan ruangan osis.
"Habis ke mana lo kemarin?"
"Gue mau ke mana aja bukan urusan lo, repot banget."
"Lupa ya sama janji lo?" Zian menarik sudut bibirnya ke atas.
"I-iya maaf, habis tugas gue juga gak kalah penting."
Zian terdiam cukup lama, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.
"Pergi sama siapa?"
"Rini."
"Sama siapa lagi?" Zian bertanya seolah-olah dia tau bahwa Arin gak pergi berdua aja tapi ada orang ke tiga, memang Zian tau sih kan dia cenayang, canda.
"Kak Bastian," Arin males debat, lagian pergi bertiga memang apa salahnya.
"Gue kira lo bakal bohong, sudah terlanjur mau diapain lagi kan. Oke, lo boleh pergi. Pulang sekolah gue jemput, gak ada penolakan, sampai rumah lo siap-siap kita langsung pergi, gue gak terima alasan klasik lo, pokoknya hari ini jadi gak jadi harus jadi," keputusan bulat dari Zian membuat Arin kehabisan kata-kata, padahal Rini sudah berjanji juga akan datang ke rumahnya hari ini untuk buat tugas sekolah, tau ahh Arin pusing pengen beli truk.