Selfish

Selfish
Selfish : 16



Sampai sekarang Arin masih tidak paham kenapa Zian membawanya ke makam, Arin hanya mendengar sedikit ucapan Zian tentang janji, janji apa? Arin sebenarnya tidak mau terlalu penasaran tapi memang orangnya kayak gitu mau gimana lagi. Satu fakta yang Arin tau jika makam tempat mereka tadi adalah makam Ayah Zian.


Saat ini mereka berdua ada di taman bermain, hari minggu pengunjungnya cukup ramai membuat mereka harus sedikit berdesakan saat berpapasan dengan orang lain. Mereka ingin bermain wahana tapi antriannya masih panjang jadi mereka memutuskan untuk duduk santai di bangku sambil memandangi orang berlalu lalang di depan mereka.


"Lo gak bertanya tentang tadi?" Zian membuka suara dan meontarkan pertanyaan yang membuat Arin menajamkan matanya.


"Buat apa?" tanya Arin sok tidak peduli padahal dalam hati bergejolak ingin tau. Dia menyesal mengeluarkan kalimat itu, takut juga jika Zian tersinggung dengan ucapannya yang refleks


"Siapa tau lo penasaran, ternyata tidak. Lupakan saja," Zian terkekeh tapi bisa Arin lihat tersirat kesedihan dari raut wajah Zian, Arin jadi merasa bersalah. Untuk merncairkan suasana dia bertanya saja siapa tau Zian mau menjawabnya.


"Maaf kalau gue lancang, Bokap lo meninggal karena apa?" Arin merutuki dirinya, dia tidak pandai perhatian sama orang lain.


"Ayah meninggal karena kanker otak, beliau awalnya tidak terlalu mempermasalahkannya karena sibuk bekerja, saat itu juga Perusahaan Ayah sedang tidak baik-baik saja, saham Ayah menurun hampir saja Perusahaan nya bangkrut, Ayah setiap malam mencari investor yang mau membantu Perusahaannya agar kembali seperti semula, untungnya ada Paman adik dari Ayah yang bersedia membantu walaupun tidak banyak dan Alhamdulillah semuanya kembali normal, dan mulai saat itu Ayah mulai sakit-sakitan, kondisinya melemah sering pusing juga, Bunda terpaksa tidak bekerja selama satu minggu untuk merawat Ayah. Sudah dipaksa beberapa kali untuk ke rumah sakit tetapi beliau menolak dan bilang ini hanya sakit biasa dan juga wajar akibat terlalu sering bekerja, Ayah hanya meminum obat yang Bunda beli dari apotek dan bukan resep dokter, bukannya membaik malah semakin buruk, gue dan Bunda sepakat untuk memaksa Ayah ke rumah sakit dengan bantuan Paman juga. Kami sagat shock mendengar penjelasan dokter bahwa Ayah menderita kanker stadium akhir, Bunda menangis histeris karena tau jika kanker stadium akhir jarang bisa disembuhkan, gue dan Paman berusaha menenangkan nya walaupun gue juga gak bisa menahan tangis..." Zian berhenti sejenak lalu melirik Arin, kelihatannya dia sangat fokus mendengarkan dari tadi tanpa memotong ucapan Zian.


"Dokter bilang dia akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan Ayah walaupun tidak bisa menjamin 100%, kami menyerahkan semuanya pada yang di atas dan selalu berdoa agar Ayah diberikan kesehatan. Kami tidak peduli dengan biaya administrasi nya, kami rela jika harus menjual rumah dan barang berharga lainnya asalkan Ayah bisa selamat melawan kanker berbahaya itu, tapi takdir baik tidak berpihak pada keluarga gue, Ayah pergi menghadapa Tuhan meninggalkan kami untuk selamanya. Gue rasa Bunda masih belum terima dengan kepergian Ayah, setiap malam gue mendapati Bunda nangis sambil mendekap baju Ayah, gue jadi ikutan terpukul dan berusaha menenangkan Bunda..." Sekali lagi Zian memandang Arin yang masih setia mendengar.


"Lo gak bosan denger cerita gue?" tanya Zian. Arin menggeleng lucu, jujur dia paling suka jika ada sesi bercerita apalagi tentang masa lalu, hanya saja temanya sedih jadi Arin tidak begitu antusias tapi dia bersedia kok jadi pendengar yang baik.


"Ceritanya masih panjang, lo yakin kuat dengernya?" Zian hanya ingin memastikan karena takut pendengarnya jenuh karena ceritanya.


"It's okay, lanjut saja. Gue akan dengerin siapa tau itu bisa buat hati dan pikiran lo tenang setelah bercerita," jawab Arin.


'Anjir mulut gue minta di ruqiyah,


"Bu-bukan seperti itu, gue juga penasaran kok kenapa tiba-tiba lo bawa gue ke pemakaman, gue penasaran dengan semuanya jadi lanjutkan saja," Arin tertawa garing seraya menyibak anak rambutnya yang tertiup angin.


"Gue bercanda, gue seneng kok lo mau dengerin semuanya. Sebelumnya gue gak pernah seterbuka ini sama orang lain dan lo sebagai pengecualian," kekeh Zian. Arin membuang muka takut jika Zian melihat wajahnya yang sudah memerah seperti udang rebus.


Zian menarik nafas sebentar kemudian menyambung ceritanya.


"Satu tahun setelah kepergian Ayah, gue rasa Bunda masih belum rela gue pun begitu, gue tau itu semua dilarang karena semua yang hidup bakalan mati, tinggal tunggu giliran saja. Tetapi beliau masih tetap berlarut dalam kesedihannya sampai Paman gue mengusulkan ide yang menurut gue konyol dan tentu saja itu akan dibantah oleh Bunda. Lo tau ide apa?" Arin menggeleng tidak tau. "Paman bilang, jika Bunda menikah lagi pasti akan sedikit mengurangi kesedihannya, lagipula Bunda juga masih awet muda pasti banyak yang suka. Gue coba samperin beliau dan menyatakan ide gila ini, lo tau apa yang gue dapat?" Lagi-lagi Arin menggeleng. "Gue dilempar pake sapu dan bantal guling yang lebih parahnya lagi sendal Bunda berhasil mendarat indah di mulut gue saat itu, sambil ngomel Bunda memukuli gue pake tas mahalnya, gue hanya pasrah saja dan mengingat akan balas dendam ke paman gue atas usulannya yang berakhir membuat gue tersiksa." Arin menahan tawanya, dia ingin tertawa ngakak tapi ntar dilihatin banyak orang terus dikira orang gila kan gak lucu. Alhasil Arin hanya tertawa dalam diam.


"Setelah tiga tahun, Bunda sudah mulai menampakkan senyum nya lagi yang sudah lama redup, beliau bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Gue cukup senang akan perubahan itu dan gue bersyukur walaupun sudah tiga tahun Bunda mau mengikhlaskan Ayah. Ayah meninggalkan banyak sekali harta warisan atas nama gue dan Bunda, belum lagi perusahaan yang harus dikelola, waktu itu gue masih belum bisa mengelola perusahaan dan umur gue juga masih belum cukup, jadi paman gue sebagai pengganti sementara gue lulus SMA, di bawah pimpinannya semua berjalan dengan baik, ungkapan terima kasih mungkin tidak cukup untuk jasa Paman. Sampai di mana saat gue dibuat terkejut dan sampai demam tiga hari, Paman melamar Bunda." Arin melongo, bagaimana bisa? Arin mengira jika paman Zian sudah menikah ternyata masih lajang. Cerita Zian plot twist sekali.


"Mungkin gue egois karena gak menerima pernikahan mereka walaupun Paman sangat baik, tapi gue pikir posisi Ayah gak pernah tergeser tapi mau gimana lagi Mama juga butuh pendamping di saat keterpurukannya selama ini. Dan sampai sekarang beliau masih ku panggil Paman, karena gue gak menemukan panggilan yang cocok untuknya." Zian menutup ceritanya, bisa Arin lihat bulir bening mulai mengalir di pipi Zian.


...----------------...


Prik banget yaaaa...