Selfish

Selfish
Selfish : 82



Semenjak percakapannya beberapa hari lalu dengan Arin, Zian baru sadar dan mulai introspeksi diri, semua yang Arin katakan tentang dirinya memang sepenuhnya benar, gak ada yang salah.


Zian menjambak rambutnya kuat, bulir air mata mulai membasahi pipi. Tanpa sengaja Zian mengingat Laras, genap satu bulan dia belum menghubungi gadis itu seperti janjinya dulu. Tapi, apakah Laras masih mengharapkannya? Pikiran bodoh yang terlintas begitu saja di otak yang memprovokasi gerakannya untuk jangan mendial nomor Laras.


Zian kembali terhanyut dalam pikirannya, apa benar dia harus menyerah saja untuk mencintai Laras? Bukan, bukan karena Zian bosan, hanya saja mengingat kelakuannya selama ini di belakang sang kekasih membuatnya berfikir sudah gak pantas buat bersanding dengan gadis cantik itu, masih banyak laki-laki lain yang lebih tampan dan setia untuknya. Tetapi, balik lagi ke Laras, apa dia mau melepaskan Zian sedangkan dirinya saja masih belum bisa melupakan Zian, diselingkuhin beberapa kali Laras masih tetap bertahan. Meski begitu, Zian bukanlah orang yang tepat.


Tiba-tiba Zian teringat pembicaraan seriusnya dengan sang Bunda beberapa waktu lalu, entah karena alasan apa Riana meminta Zian untuk melepas Laras, merelakan hubungan mereka yang baru berjalan dua tahun. Tentu tidak mudah, walaupun tanpa komunikasi tetapi ikatan hati mereka masih kuat, jadi sulit untuk mengucap putus secepat itu.


"Lo di mana? Gue lagi butuh obat penenang, temui gue di tempat biasa, gak usah ajak Rafi, dia cerewet orangnya. Cepet ya!!" Zian baru saja menghubungi Rangga, memintanya untuk datang ke tempat biasa mereka singgah sepulang sekolah.


Di tempat lain, Rangga sudah misuh-misuh karena tidurnya terganggu, padahal dia sedang memanfaatkan hari libur dengan sebaik-baiknya.


.


"Tumben banget pagi-pagi ngajak ke sini? Ada beban pikiran apa lo?" Rangga mengeratkan jaketnya karena suhu pagi ini sangat dingin padahal sudah jam 8 lebih, dan mereka juga tidak berada di negeri 4 musim, apakah ini artinya Indonesia akan turun salju?


Zian menatap Rangga tak minat lalu lanjut pada aktivitasnya. Kurang lebih sudah 8 gelas Zian teguk paksa, Rangga sudah menahan tangan Zian untuk tidak minum lagi tetapi entah teori darimana tenaga Zian jauh lebih kuat dibanding saat dia masih sadar, dengan mudahnya Zian menepis genggaman tangan Rangga dari gelas.


"Oke-oke, gue gak akan larang lo lagi, tapi resiko sendiri kalo gak ada yang nganterin lo pulang, gue mah ogah bawa orang mabuk," ketus Rangga, mancing Zian untuk berhenti tetapi usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil, malah Zian makin semangat meneguk minumannya. Rangga membuang muka, meludah ke sembarang arah lalu kembali menatap Zian yang sudah lemas.


"Mampus lo mabuk, kalo banyak beban tuh sholat, dzikir, istighfar, jangan lari ke minuman keras, gimana mau menjalankan rumah tangga kalo lo aja kayak gini," ungkap Rangga bijak, keluar sudah ceramah andalannya.


"Bacot banget lo, gue tebas juga lo lama-lama, " cerca Zian, pandangannya mulai berkunang-kunang, susah payah menahan agar tidak ambruk.


"Udah puas mabuk lo?" Rangga menoel-noel pipi Zian, memastikan sobatnya itu apakah beneran pingsan. Zian membuka mata sambil menggoyangkan tangannya di udara.


"Ya udah, minum lagi sampai puas," Rangga menuangkan minuman ke gelas kosong Zian, mengisyaratkan dengan bibirnya agar Zian segera meminumnya.


"Udah tau jantung lemah masih aja dipaksain, saran gue untuk ke depannya kalau lo banyak beban mending lari ke Tuhan, sholat yang bener, masih mending gue mau temenin lo ke sini, kalo bukan karena lo ogah banget gue napakin kaki ke sini lagi," Rangga kembali dengan ceramahnya. Zian hanya ngangguk-ngangguk doang padahal gak ngerti sama sekali dengan ocehan Rangga, pendengarannya tidak berfungsi dengan baik.


.


"Lo juga, kenapa sih selalu saja nyusahin gue. Semoga beliau gak ada di rumah," berharap banget nyokapnya sudah pergi kerja.


"Gue bilang aja kalo gue nemu Zian di pinggir jalan tengah pingsan gara-gara dibegal sama penjahat lalu gue sebagai pahlawan kepagian menolongnya dan membawa Zian ke rumah karena gak mungkin gue bawa ke rumahnya dalam keadaan begini. Wahhh, otak gue masih berfungsi juga rupanya setelah dua tahun gak di upgrade," Rangga bertepuk tangan, memberikan pujian pada dirinya sendiri dengan mengusap kepalanya penuh bangga.


Kebetulan sekali, rumah Rangga tidak jauh dari tempat mereka bertemu tadi, jadi gak perlu muterin jalan jauh-jauh. Rangga natap gerbang rumahnya dengan intens, berusaha mencari keberadaan mobil sang Mama apakah masih terparkir atau tidak.


"Terobos aja lah, kan gue sudah punya ide briliant," dengan perasaan percaya diri dan dada membusung tanda ia sudah siap, Rangga menginjak pedal gas tepat di depan gerbang, security yang lagi asik main catur sama suami tetangga kaget dan langsung menghampiri mobil karena terlihat asing di matanya.


"Oh, nak Rangga ternyata. Nyolong mobil di mana?" tanya security polos tanpa beban.


"Sembarangan, ini mobil temen saya, pak. Noh dia di samping saya lagi teler." Security tersebut diam sebentar sambil memperhatikan Zian yang asik tidur, kepalanya sudah jatuh ke bawah, salahin Rangga gak pakein Zian sabuk pengaman, kurang ajar memang.


"Mama di rumah gak, pak?" Rangga sedikit berbisik sambil nyengir.


"Baru saja pergi, katanya ada meeting mendadak, nak Rangga disuruh jaga rumah sama jemput dek Tasya nanti di rumah guru les-nya," jelas pak security.


"Hadeuh, hari libur begini masih ada les?" Rangga berdecak kesal, males banget kalo harus jemput adik perempuannya ke tempat les.


Gerbang sudah terbuka, Rangga langsung saja injak gas dan masuk ke pekarangan.


"Pak, minta tolong bantuin bawa temen saya ke dalem, saya sendiri soalnya gak kuat, dia berat kebanyakan dosa," Rangga kembali memanggil security yang sudah siap-siap lanjutin main catur.


"Terima kasih ya, pak," security tersebut hanya mengacungi dua jempol lalu berlari keluar, meski tak terjadi sesi bertanya tetapi tidak menutup kemungkinan jika pak security tak tau jika Zian sedang mabuk.


"Dasar anak muda jaman sekarang, masih pagi sudah berani minum," gumam pak security di sepanjang jalan sambil geleng-geleng kepala.


"Kaki lo jangan dinaikin ke kasur gue, lo belum buka sepatu," Rangga menepis kaki Zian yang sebelahnya sudah nangkring di atas ranjang. Zian melenguh pelan, tak mempedulikan ucapan Rangga dan kembali menaikkan kaki yang satunya lagi. Rangga lama-lama kesal, ditariknya Zian hingga tiduran di karpet.


"Nah, gini kan enak."