Selfish

Selfish
Selfish : 83



Zian mengerjapkan matanya, sinar lampu sangat menyilaukan, buru-buru Zian bangun dan menatap sekeliling. Tempatnya sekarang berada terasa familiar namun ini bukan kamarnya. Zian berusaha memproses ingatannya meski nyawanya masih setengah jadi.


Pintu kamar terbuka menampilkan Rangga dengan mangkuk dan air minum di tangannya. Zian mengernyit bingung sementara Rangga menatap Zian sinis.


"Baru bangun lo?" Rangga duduk di samping Zian, menempelkan punggung tangannya pada kening sahabatnya, Zian yang masih belum sepenuhnya sadar diam-diam aja dengan perlakuan Rangga.


"Oke, panas lo udah turun. Lo masih mabuk gak?" tanya Rangga lagi, Zian sendiri langsung menggeleng tapi kepalanya masih terasa sakit.


"Baguslah, nih makan! Katanya sup tauge ini bisa menghilangkan pengar," Rangga menyodorkan mangkuk berisi sup tauge buatannya sendiri hasil nyontek tutor dari youtube. Zian tak langsung mengambil, ditatapanya sup itu lamat-lamat tanpa mau menyentuhnya.


Decakan kesal Rangga lontarkan, menyendokkan sup tersebut kemudian memberikannya pada Zian. Tanpa lama-lama lagi, Zian menerima suapan tersebut tanpa protes. Tiga kali suapan, empat kali, lima kali suapan tidak ada dilalog antara mereka.


"Kita kayak pasangan gak sih?" Tiba-tiba Zian melontarkan kalimat yang emmh sedikit membuat Rangga merinding setengah mampus.


"Sembarang anjing, gue masih normal ya," protes Rangga, hampir saja sendok di tangannya melayang ke wajah Zian.


"Bercanda setan, gue juga cuma bicara fakta. Berdua di kamar, lo suapin gue kayak begini tuh kesannya mesra banget untuk seorang pasangan," jelas Zian yang semakin menjadi-jadi. Sepertinya efek minuman tadi pagi sudah mempengaruhi pikirannya.


"Jangan sampai gue tumpahin sup ini ke wajah lo ya, ngadi-ngadi lo memang. Kelihatan banget kalau lo kurang kasih sayang," ketus Rangga.


"Lo gak merampas keperjakaan gue kan selama gue mabuk?" tanya Zian penuh selidik sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangan, bak seorang wanita yang tak ingin dilihat lekuk tubuhnya.


"Amit-amit anjing, mending gue perawanin kambing tetangga daripada lo," Rangga menaruh kasar mangkuk supnya ke atas meja karena kesal Zian selalu ngomong hal yang jorok dan tidak sopan masuk telinga.


"By the way, sup nya enak, lo buat sendiri?" Zian kembali meraih sup sisa setengah di atas meja.


"Nggak, tadi gue suruh pak RT buatin. Ya iyalah anjir gue buat sendiri, nyokap gue masih kerja belum pulang dari tadi pagi," cerocos Rangga, menyandarkan tubuhnya pada tembok kamar.


"Berarti kita berdua doang ya di sini?" Oke, Rangga mulai merinding sekarang, ekspresi Zian sangat menjiwai dan sangat menyebalkan.


"Kenapa tampang lo kayak orang happy banget begitu?" Rangga merubah posisinya berdiri tegak, menunjuk tepat di wajah Zian menggunakan gulungan kertas yang habis dia ambil di meja belajarnya.


"Sumpah Zian, mending lo pulang sekarang deh, gue bener-bener merinding anjir," ucap Rangga takut sambil meremas kertas tadi lalu melemparkannya ke wajah Zian.


"Cuma suruh duduk doang," elak Zian, balik melempar gumpalan kertas tadi yang mengenai tepat di hidung Rangga.


"Ogah, gue mau nonton TV. Lo mau ikut gak? Katanya ada acara give away kulkas," Rangga menarik knop pintu, menatap Zian sebentar untuk mendapat jawaban. Tetapi Zian hanya menggeleng tanda tidak tertarik.


"Kita nonton drama Korea aja pakai laptop lo lebih seru, kebetulan ada yang request drama ke gue," usul Zian, menurutnya ide tersebut cukup cenerlang, sudah lama gak nonton drama Korea.


"Bagus sih, tapi nggak dulu. Gue tau lo belum waras sepenuhnya, bisa-bisa nanti di pertengahan drama lo berbuat macem-macem," sambil membentang kedua tangannya membentuk tanda X, artinya Rangga menolak keras ajakan Zian. Gak bohong sih, Rangga memang suka dan sering nonton drama Korea bahkan jika dihitung bisa 4 kali sehari, itu juga alasannya sering telat kerjain PR. Zian mencebik kesal, membaringkan tubuh lemahnya pada ranjang empuk Rangga, tak peduli sang empunya kamar sudah keluar duluan dengan alasan ingin menonton TV.


Sadar akan kekurangan sesuatu, Zian sontak bangun dari rebahannya dan mencari benda tersebut. Setelah menemukan apa yang dia cari, Zian dapat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Bundanya dan belasan pesan yang menanyakan keberadaannya. Zian merutuki dirinya sendiri, tega banget dia sudah membuat Riana khawatir. Hendak membalas dan telpon balik, tiba-tiba ponselnya mati, padahal baterai masih lumayan banyak.


"Ahhh sial," Zian celingukan mencari charger milik Rangga. Mencari ke semua sudut kamar tak pun ia temukan, membuat Zian mau tak mau harus pinjam ponsel Rangga segera. Riana kalo belum dapat kabar sering mimpi buruk dan mikir yang aneh-aneh. Zian pun ada rencana mau menginap untuk waktu semalam dulu di rumah Rangga untuk menghindari pertanyaan mambabi buta dari Bundanya.


Ruangan tengah cukup gelap, entah nyokap Rangga yang belum bayar listrik atau memang mau hemat. Hanya cahaya dari layar televisi yang menerangi ruangan tersebut.


Zian dapat melihat bayangan Rangga yang duduk tegap di depan televisi yang menayangkan film horor. Zian jadi ikutan merinding, ditambah suasana gelap begini membuatnya semakin ingin kembali naik ke kamar.


Rangga tak bergerak sama sekali, dia duduk mematung sambil matanya tuh fokus banget hadap layar televisi, Zian jadi berspekulasi bahwa temannya itu sedang kemasukan jin. Setau Zian, Rangga itu benci film horor kalo diajak nonton di sepanjang film matanya ditutup pakai kain saking pengecutnya, tetapi yang Zian lihat sekarang berbanding terbalik dengan kebiasaan Rangga yang sering nolak jika diajak ke bioskop buat nonton horor.


Kaki Zian berhenti tepat di ujung tangga, mau puter balik aja rasanya kalau sudah begini. Zian langsung menggeleng dan memberanikan diri untuk mendekati sofa, posisi Rangga yakni menyampingi Zian, tetapi tuh anak gak merasa terganggu ataupun sadar akan kehadiran Zian di sana.


Zian tarik nafas dalam-dalam sebelum mulai jalan pelan ke arah sofa.


"Rangga, pinjem ponsel lo dong, gue mau hubungi nyokap bentar, ponsel gue mati," ucap Zian, tak berniat menoleh pada Rangga, malah netranya lurus ke televisi ikut nonton meski gak tau alurnya.


Awalnya hening sebelum sebuah tangan menyodorkan benda pipih ke arahnya, Zian menelan ludahnya pelan, menganbil ponsel tersebut dan mengetikkan nomor Bundanya. Dalam keadaan begini, Zian memilih untuk tidak menghubungi sang Bunda, ia hanya mengirim beberapa baris pesan yang mengabarkan bahwa untuk malam ini dia menginap di rumah Rangga, menenangkan agar Bundanya tidak khawatir lagi. Meski lega, namun ketakutan Zian tidak berakhir di sana, Rangga masih belum mengeluarkan sepatah kata, begitu pun Zian yang enggan menatap sahabatnya itu.


Karena tidak tahan dengan keheningan ini, Zian memberanikan diri untuk melihat langsung tepat di depan mata Rangga. Baru saja ngangkat kepalanya, mata Rangga sudah melotot di depan wajah Zian, seketika Zian kaget dan pingsan gitu aja.