
Arin membawakan lagu dari Alan Walker yang berjudul 'Not You' yang dipopulerkan oleh Emma Steinbakken. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang selalu berusaha keras untuk menepis rasa sepi dan takutnya dalam menghadapi kerasnya dunia setelah ditinggalkan oleh orang yang ia cinta. Hadir sosok baru, namun dia bukanlah sosok yang dicari. (Pasti readers sudah gak asing kan sama lagu nya). Dalam bernyanyi, Arin seketika membayangkan Dion yang selama ini selalu bersarang namanya di hati Arin meski tuh anak gak peka sama sekali, dan hadir sosok Zian yang berusaha menggantikan posisi Dion tapi sampai sekarang gak berhasil sama sekali, entahlah Arin juga gak yakin yang jelas Dion masih jadi prioritas utama baginya. Arin tau kok Dion lebih suka Agatha dibanding dirinya yang gak ada apa-apanya, tapi apakah harus Arin membuang rasa sukanya sedangkan dia sudah lama mencintai Dion dalam diam, bakalan sia-sia gak sih?
Arin menyanyikan setiap part dengan penuh penghayatan sehingga emosi nya tuh dapet banget. Dalam hati Arin masih was-was tentang pendapat orang lain dengan suaranya saat ini, dalam benak Arin saat ia selesai dengan lagu ini seluruh penonton akan meneriaki nya dan melemparnya dengan botol plastik, uhh membayangkannya saja sudah membuat Arin bergidik ngeri. Tapi hal itu tidak mempengaruhi kefokusannha dalam membawakan lagu ini, dia tetap melanjutkan part demi part dengan profesional, hingga tibalah bagian terakhir disertai alunan musik lembut yang kian melemah tanda lagu sudah usai.
Semua tercengang setelah penampilan Arin di atas panggung selesai, butuh 5 menit lebih untuk membuat penonton terpukau dengan suaranya. Arin memejamkan matanya, takut melihat ekspresi para siswa dan siswi di bawah panggung yang saat ini masih tidak bersuara sama sekali, hanya hening yang mendominasi, suara bisik-bisik dan kalimat menjelekkan tidak lagi terdengar di telinga Arin. Perlahan Arin membuka mata, pelan tapi pasti. Arin mengernyit bingung karena tidak ada yang bersuara sama sekali, hanya menatap Arin dengan tatapan kagum plus gak percaya. Seketika Arin menunduk, merasa malu mungkin para penonton langsung bisu dan tuli karena suaranya saat menyanyi tadi, namun suara tepukan tangan dan siulan memeriahkan suasana, Arin sampai terjengit kaget dan tidak percaya akan apa yang ia dengar, bahkan siswa yang sempat meragukan dan menjelekkannya juga ikutan tepuk tangan di bawah sana.
"Hebat, hebat!!" Begitulah teriakan semua orang. Arin melamun sebentar, padahal Arin sendiri sadar bagaimana suaranya merusak indra pendengarannya tapi kok reaksi mereka berbeda, kayaknya butuh ke dokter nih, begitu pikir Arin.
"Apa gue bilang, suara lo memang bagus jadi gak usah ngeles," tutur Zian saat Arin sudah turun dari panggung, namun siara teriakan dan tepuk tangan masih terdengar sampai ada yang teriak kencang banget minta Arin buat nyanyi lagi.
"Bacot lo Zian, minggir gue mau makan, laper," ketus Arin seraya mendorong pelan dada bidang Zian, dengan sigap tangan Zian menahan pergelangan tangan Arin.
"Ngomong-ngomong, lo keren juga tadi, gue hampir gak percaya lo nguasain panggung secepat itu. Sinar dari lampu panggung menambah kesan mellow dari lagu yang lo bawakan tadi, gue suka," ucap Zian sambil terus menatap Arin intens sampai gak sadar masih ada Rangga di dekatnya lagi menyaksikan mereka berdua.
Arin segera menarik tangannya, karena jantungnya sudah disco di dalam sana, ditambah wajahnya sedikit panas mungkin sudah memerah, untung saja di bawah panggung lampu tidak menyorot ke arah mereka jadi Zian tidak biaa melihat wajah Arin yang bersemu merah.
"Lebay lo, mending traktir gue makan karena gue sudah lakuin apa yang lo mau," jawab Arin seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Perut lo terbuat dari apa sih? Perasaan tadi lo habis makan seblak tiga mangkok?"
"Seblak sama nasi beda, seblak sudah termasuk cemilan bagi gue, kalo nasi itu makanan berat, nah kebetulan dari rumah gue belum makan nasi."
"Nanti, selesai acara gue traktir." Zian berlalu pergi meninggalkan Arin yang sudah kesal banget.
"Lo denger gak apa yang gue omongin?" bentak Rini karena gak direspon sama sekali oleh Arin, cuma dilihatin doang dengan muka datar.
"Iya denger, suara lo kayak toa mushola yakali gue gak denger," sahut Arin lalu berjalan melewati Rini begitu saja.
"Mau kemana lo? Acara belum selesai, lo gak minat lihat group band yang terkenal itu? Katanya mau tampil sekarang," teriak Rini sambil terus mengejar langkah Arin yang Rini akui sangat cepat.
"Makan doang bentar, habis itu balik lagi," jawab Arin santai setelah sadar Rini sudah ada di sampingnya mensejajarkan langkah mereka.
"Kan tadi lo habis makan seblak, Arin. Masa iya laper lagi?"
"Ya lo pikir lah sendiri, gugup plus grogi itu habisin tenaga banget, jelas dong gue laper lagi, lagian cuma seblak doang kok."
Di perjalanan, Arin dan Rini dicegat, siapa lagi pelakunya kalo bukan Nayla. (Hadeuh, dia lagi, dia lagi. Mau apa sih?)
Nayla menatap Arin dari atas sampai bawah, tapi tatapannya itu tuh kayak orang benci banget, Arin sendiri hanya melirik Nayla malas, sepertinya dia akan berurusan dengan perempuan kecentilan ini.
"Seneng kan lo? Bangga kan lo, bisa mencuri perhatian Zian dan seluruh siswa beserta guru di sekolah ini gara-gara suara lipsync lo itu? Lo pikir gue bakal tertipu hah?" teriak Nayla dengan wajah berapi-api, kentara banget kalo dia tuh lagi iri sekaligus cemburu.
"Maksud lo apaan? Lipsync dari mana coba, suara Arin tuh memang dari dasarnya sudah bagus, lo nya aja yang kelebihan iri. Arin, suara lo ternyata bagus banget sampai dikira lipsync sama mak lampir," kekeh Rini dengan muka mengejek. Mau tidak mau, amarah Nayla terpancing dan hendak menerkam Arin yang daritadi hanya diam sambil sesekali senyum meremehkan. Namun, tangannha dicekal oleh seseorang yang jelas bukan Arin dan Rini.
Arin terdiam, karena orang itu adalah Dion.