Selfish

Selfish
Selfish : 77



Laras menghirup nafas dalam-dalam, di Bandara kali ini dia hanya diantar oleh nyokapnya yang kebetulan lagi free sementara bokap lagi sibuk di kantor, alhasil gak ikut. Laras gak permasalahin itu kok, lagian dia juga paham banget urusan di kantor lagi mumet. Hanya saja ada satu yang kurang, sudah tentu jawabannya Zian, iya Zian. Laki-laki yang masih menyandang status sebagai kekasihnya itu tidak datang untuk mengantarnya ke Bandara, iya Laras tau Zian juga saat ini tengah berperang melawan penyakitnya.


Sekilas Laras melirik sang Mama yang sepertinya sibuk berbicara dengan seseorang di seberang sana, Laras tersenyum simpul dan kini beralih menatap ponselnya, harap-harap Zian menghubungi atau setidaknya mengirimi dia pesan untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan dengannya, tetapi notif yang Laras tunggu tak kunjung sampai. Laras hanya bisa tersenyum miris, apakah perasaan cintanya akan berakhir di sini saja, mencoba membuka hati untuk orang baru, itu tidak mungkin. Laras segera menggeleng karena tak suka dengan jalan pikirnya yang sangat pelik.


Merasa sudah tak ada harapan lagi, Laras memasukkan ponsel ke dalam tas setelah mematikan daya karena sebentar lagi pesawat yang ia tumpangi akan segera lepas landas. Laras berlari pelan menghampiri sang Mama yang berada tak jauh dari tempatnya duduk tadi.


Mama Laras memberikan petuah pada putrinya sebelum betangkat, harap-harap Laras tidak ngelamun atau teledor di dalam pesawat, karena biasanya dalam keadaan seperti ini pikiran Laras suka melanglang buana. Wanita paruh baya itu paham sekali apa yang membuat putri kesayangannya tampak cuek saja sedari kemarin, tidak ada gurat kebahagiaan lagi di wajah cantiknya.


Dan benar saja, Laras benar-benar tak berselera di pesawat. Makanan yang dia pesan sama sekali tak ia sentuh. Air mata mulai menitik melewati sudut matanya, bayangan tentang Zian selalu mengganggu pikirannya, susah payah Laras berusaha positif thinking denga keadaan namun hati selalu menolak, kenyataan-kenyataan yang ia terima perlahan menghancurkan harapannya pada Zian.


Laras membuang nafas kasar, menghapus air matanya lalu beralih menatap tak minat makanan lezat yang tersaji di hadapannya. Lagi-lagi Laras tak berniat menyentuhnya.


Kantuk tiba-tiba menyerang, Laras memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman lalu perlahan mencoba untuk terlelap, berharap bisa berjumpa dengan Zian meskipun dalam mimpi, gak masalah asal Zian selalu bersamanya.


.


Zian memainkan selang infus yang tersemat di punggung tangannya, kondisinya sudah lumayan membaik dan seharusnya hari ini dia bisa pulang, tetapi Riana melarang dengan alasan Zian masih butuh perawatan khusus di sini, terpaksa Zian harus mendekam lagi di ruangan serba putih ini.


Sejenak Zian teringat tentang Laras, pemuda tampan itu sempat menerima beberapa chat dan pesan dari kekasihnya itu, mengabarkan bahwa dia akan balik ke London, namun Zian tak sempat membalas dikarenakan Riana masih belum memberikan izin main ponsel.


Zian juga sempat mendengar kabar dari Riana bahwa Laras kemarin sore datang berkunjung ke sini, hanya saja saat itu Zian masih tidur alhasil Laras menyampaikan salam lewat Bundanya.


"Sayang, kamu kenapa ngelamun? Laper ya?" Suara lembut Riana segera menyadarkan Zian dari lamunan panjang melemparkan senyum manis ke arah perempuan hebatnya sambil menggeleng.


"Terus, kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu?" Riana lantas duduk di kursi samping brankar Zian, memainkan jemari putranya sambil terus menatapnya.


Zian mendongak, menatap langit-langit kemudian kembali memfokuskan tatapannya pada sang Bunda.


"Aku hanya memikirkan tentang Laras," ucap Zian jujur, karena bagaimanapun juga dia harus sering-sering konsultasi masalah pikiran ke Riana, Zian selama ini jarang mendam beban pikiran sendirian, selalu ia ceritakan pada Riana kecuali tentang masalah penyakitnya saat ini, tapi sekarang Riana sudah tau jadi gak ada rahasia sama sekali di antara mereka.


"Laras memangnya kenapa? Oh iya, Bunda lupa. Hari ini dia mau balik ke London," Riana menepuk dahinya, merutuk karena dia sungguh pelupa padahal baru kemarin. Zian terkekeh sambil mengangguk samar.


.


"Libur bentar lagi tiba, lo ada rencana mau liburan ke mana?" Rini merentangkan tangannya sehabis main game di rumah Arin, kebetulan mereka me time berdua selagi menunggu waktu liburan.


Arin mengetuk dagunya berpikir lalu balik menatap Rini.


"Gak ada, paling rebahan di rumah sampai modar. Males gue keluar rumah," jawab Arin acuh kemudian lanjut main. Rini berdecak malas, Arin emang mager orangnya tapi gak cuma rebahan doang dong, masa liburan dua minggu diisi untuk di rumah saja.


"Minimal healing lah, ke pantai kek ke gunung atau nggak ke tempat wisata seperti air terjun dan lain-lain. Di rumah doang mah gak seru," Rini menyilangkan tangan di dada tanda gak setuju dengan Arin.


"Healing terbaik gue adalah rebahan di kamar sendirian. Kuota lancar, baterai HP full, cemilan banyak, sudah lebih cukup buat gue," yang namanya Arin tetaplah Arin, gak peduli mau semua teman-temannya pergi liburan ke luar negri atau keluar semesta, dia tetap memilih rumah sebagai tempat ternyaman sejauh ini. Rini lagi-lagi berdecak kesal, merebut stik PS dari tangan Arin kemudian melemparnya ke kasur tepat di belakang mereka. Arin merotasikan matanya, menatap Rini julid. Sekarang apa lagi?


"Gak mau tau, besok lo ikut liburan sama gue, kita pergi ke puncak," Rini tersenyum bangga, setiap kalimat yang dia ucapkan mengandung pemaksaan sehingga Arin jadi tak minat.


"Males, mending gue tiduran di kamar," Arin merebahkan tubuhnya di atas kasur, menyisakan Rini di lantai yang hanya menatapnya datar.


"Gak mau tau, lo harus ikut. Masalah izin nanti gue yang urus, kan gue sama nyokap lo best friend forever," Rini menepuk dada kirinya bangga. Arin mendelik tajam, sejak kapan Mamanya mau temenan sama manusia modelan Rini, Arin aja nyesel dulu pernah kenalan sama dia, ehh astaga gak boleh gitu, gak baik.


Setelah berdebat sebentar, mereka lanjut main game, kali ini game terbaru yang Arin punya, katanya game ini sangat laris di pasaran dan levelnya lumayan susah, jadi mereka berdua mencoba keberuntungan siapa tau mereka orang pertama yang bisa memenangkan game tersebut.


"Ini dia, Papa Zola 5. Gue baru keluarin dari plastik, soalnya kalo main sendiri gak seru, mumpung ada lo di sini ya udah kita main bareng," seru Arin. Rini ngangguk-ngangguk saja memperhatikan.


Arin dan Rini main sampai petang, gak ingat makan. Rima sampai ngomel ketuk-ketuk pintu Arin yang dikunci dari dalam.


"Terserah, mau makan ya syukur, gak makan alhamdulillah, nasi dan laukku gak habis," gerutu Rima lalu pergi ke lantai bawah.