
Zian sampai di depan pintu gudang yang terkunci, dan kebetulan kuncinya masih tergantung di sana.
"Dasar tuh anak, dibilangin kalo sudah kunci pintu gudang langsung seragin ke gue kuncinya malah dibiarin ngegantung begini, ntar kalo ada yang hilang gue juga yang disalahain sebagai ketua," tanpa ragu, Zian mencopot kunci tersebut dan mengantonginya. Di pikiran Zian mungkin Arin sudah otw aula makanya lupa cabut kunci, keyakinan itu muncul karena Zian juga datang dari arah berbeda.
Arin masih santai selonjoran di dalam gudang, tubuh ia sandarkan pada dinding sambil nyanyi gak jelas. Merasa sudah biasa terkunci seperti ini, Arin memilih untuk diam dan tenang saja pasti lambat laun pintu akan kebuka sendiri, begitu pikir Arin, jadi tugas dia hanya menunggu bila perlu teriak juga supaya orang di luar mendengar suaranya.
Dibanding merasa merinding, Arin malah merasa nyaman di sini, selain ada alat dan barang berharga, di gudang ini juga tersimpan alat olahraga, seperti bola, net. raket, kok, kerucut lalulintas, bola basket, bola voli, matras, dan banyak lagi alat-alat yang lain.
Arin merebahkan tubuhnya pada matras empuk yang sering digunakan untuk praktek jungkir balik, karena kegabutannya yang hakiki, Arin mencoba untuk jungkir balik depan-belakang, yang paling susah menurut Arin sih jungkir ke belakang, karena saat latihan lehernya terasa patah.
"Gimana sih anjir caranya," Arin mencoba berkali-kali tapi tidak bisa, malah kakinya doang yang ribut mengayun di udara.
"Tau ahh, capek gue. Kira-kira kapan ya gue bisa bebas dari gudang ini, perasaan sudah setengah jam gue kekurung di sini. Biasanya sih seperti di sinetron kalo ada tokoh utama nasibnya kayak gue, selametnya bakal lama berhari-hari gitu, masa iya gue juga kayak gitu?" Arin mengetuk dagunya pelan membayangkan ada pahlawan yang menyelamatkan nya dan membawanya terbang ke angkasa.
"Gue mikir apa sih anjir, kebanyakan baca novel ya gini, otak gue jadi ngawur kalo mikir."
.
Zian kembali ke aula dengan langkah tergesa-gesa, matanya menelisik seluruh manusia yang hadir dan berkumpul di tempat itu tapi tidak ada orang yang dia cari, padahal dari gudanh dia sudah berlari sekuat tenaga, gak mungkin kan Arin ninggalin aula begitu cepat.
"Kenapa lo? Habis dikejar setan?" Rangga tiba-tiba menghampiri lalu menepuk pelan pundak sobatnya yang berhasil membuat Zian terjingkat kaget, maklum masih fokus cari Arin sampai kehadiran dan suara Rangga gak Zian gubris sama sekali.
"Ngagetin aja lo, heran gue. Hobi banget muncul di mana-mana," kesal Zian lalu meninju lengan Rangga.
"Terserah lo, lagian ngapain sih sampai sini ngos-ngosan, ya gue pikir lo habis dikejar setan," sahut Rangga dengan wajah jutek, udah kesel banget kalo Zian mode kayak begini.
"Lo lihat Arin gak ke sini?"
"Arin? Kagak deh, terakhir gue ketemu dia di koridor, waktu itu gue suruh dia minggir, lagian siapa suruh berdiri tengah jalan, mana kerjaannya cuma merhatiin anak-anak lalu lalang, dia sendiri cengo kek tuyul hilang arah, terus habis gue omelin, gue paksa dia buat susul lo di gudang," jelas Rangga mengakhiri ceritanya yang sama sekali tidak penting menurut Zian, padahal dia cuma nanya lihat Arin apa nggak doang malah dijelasin dari akar sampai batang.
"Ehh ngomong-ngomong, kardus isi properti yang di gudang sudah dianter?" Zian mengganti pertanyaannya, siapa tau Arin kabur setelah meletakkan kardus yang disuruh Zian bawa.
"Lah bukannya lo yang bakalan bawa ke sini, kok malah nanya ke gue?" Zian menggigit bibir bawahnya kuat. Zian berfikir sebentar, kira-kira di mana anak itu berada.
"Eh-eh mau kemana?" teriak Rangga saat melihat Zian yang sudah berlari menjauhinya.
"Mau nikahin nyokap lo," sahut Zian dengan suara lantang.
"Ohh mau nikah sama nyokap gue. Ehh, Bangshatt!! Jangan ngadi-ngadi lo Saprudin, gue sunat dua kali baru tau rasa."
"Heh, kalo mau teriak di lapangan saja sana, suara kamu menggema tau nggak," tegur guru BK karena merasa gak nyaman dengan suara Rangga, mana bahasanya gak sopan lagi diselingi umpatan.
"Maaf, Bu. Kelepasan, kalo begitu izin saya mau ke lapangan dulu."
"Kan tadi Ibu suruh saya ke lapangan buat teriak, ya sudah saya sebagai murid yang berbakti dan penurut, selain ganteng saya juga suka menabung walau seribu sehari, dengan tulus hati yang paling dalam saya menuruti omongan Ibu."
"Memang bandit ya kamu, cepat selesaikan saja itu jangan mencoba kabur dari tugas," guru BK langsung melenggang pergi, capek dia tuh ngurusin anak murid yang kelewat bego macam Rangga, ganteng sih tapi sayang otaknya kegeser dikit dari tempatnya.
.
Dorr Dorr Dorr
Zian menggedor pintu gudang sambil meneriaki nama Arin.
"Arin, lo di dalem kan?" teriak Zian. Entah kenapa feeling-nya mengatakan Arin terkunci di gudang.
"Iya, gue di dalem. Buka aja pintunya, tapi dikunci cuma kuncinya gak ada sama gue," sahut Arin dengan santai, Zian membelalak kaget, ternyata selama satu jam ini Arin menetap di gudang tanpa makan dan minum, kasihan sekali.
"Tunggu ya, gue bakal buka pintunya, lo bertahan sebentar."
"Iya, elah tinggal buka doang banyak drama lo, buruan anjir pengap gue di sini lama-lama, tapi enak juga sih bisa rebahan di matras, gak kayak di UKS, ranjangnya keras banget kayak rebahan di atas besi."
Pintu gudang terbuka menampakkan Arin yang setia rebahan di atas matras tanpa ekspresi melihat ke arah Zian yang sudah mirip Superhero yang datang untuk menyelamatkannya.
"Akhirnya gue bisa keluar, bye matras. Besok kita ketemu lagi, gue janji bakal kunjungin kamu setiap ada waktu, untuk saat ini gue mau makan dulu soalnya laper, gak mungkin kan gue makan bola," Arin beranjak berdiri lalu menghampiri Zian yang terdiam mematung melihat kondisi Arin sangat jauh dari eksptektasinya, padahal tadi Zian mengira Arin kehabisan nafas di dalam gudang atau nggak ketakutan kayak di film-film horor, tapi nyatanya nih anak santai banget kayak gak ada beban sama sekali.
"Kenapa lo natap gue kayak gitu? Baru nyadar gue cantik? Mata lo kemana aja sih selama ini?" ucap Arin dengan percaya diri. Zian sudah merenggut kesal pengen ceburin Arin di empang tetangga.
"Mati aja lo sono," ketus Zian lalu berjalan keluar diikuti Arin yang terkekeh gak jelas.
"Kenapa? Lo pikir gue bakal nangis-nangis gara-gara kekunci di gudang sendirian? Oh tidak semudah itu."
"Bacot, buruan keluar!!"
"Temenin gue makan yok, lapar nih."
"Makan no rumput, mumpung masih seger."
"Lo pikir gue sapi?"
"Hampir mirip, tinggal pasang ekor sama telinga."
"Anjing lo."