
Acara Pensi ini dilakukan satu tahun sekali setelah ujian atau saat menunggu pembagian rapot. Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, panggung berdiri dengan kokoh dan di atas panggung ada berbagai jenis alat musik, katanya sih bakal ada yang mempersembahkan sebuah lagu di atas panggung, kayak group band gitu tapi belum tau siapa. Dan acara musik sengaja ditampilkan di akhir acara katanya biar gak pada bosen, dan pertunjukkan musik inilah yang paling ditunggu-tunggu oleh para murid, kabar burung sih katanya group band personilnya ganteng-ganteng dan berbakat, ya yang gak tau pada nyimpulin bahwa sekolah mereka sewa group band luar buat tampil di acara pensi sekolah ini.
"Arin, keliling yuk kita lihat pameran seni di sebelah sana," Rini yang bosen karena daritadi diajak keliling buat cari makan doang sama Arin yang katanya belum makan dari rumah.
"Gak ahh, males banget lihat lukisan abstrak yang gue gak paham," tolak Arin dengan bahu terangkat tanda dia gak minat.
"Jadi tujuan lo apa ke sini kalo gue ajak ke sana sini gak ada yang lo setuju," keluh Rini yang sudah mulai emosi, bukan sekali dua kali Rini mengajak Arin pindah tempat tapi sudah berkali-kali, cuma Arin saja yang bandel dan gak mau denger.
"Lo lupa ya, gue kan waketos jadi wajar lah gue di sini buat membantu."
"Tapi masalahnya dari tadi lo gak ada membantu sama sekali, kerjaan lo makan aja deh perasaan."
"Kerjaan bisa nanti, isi perut dulu yang pasti."
"Tau deh, capek gue." Rini hendak pergi dari samping Arin, keinginannya sejak lama dari adanya pensi sekolah yakni pergi ke bazar yang diadakan, ada banyak sekali dijual di sana mulai dari aksesoris dan berbagai macam jenis kerajinan tangan. Bazar yang biasanya jual makanan tapi ini kebalikannya.
Rini terpaksa meninggalkan Arin sendirian di warung depan sekolah dan memilih masuk untuk melihat-lihat.
Saat di jalan, Rini berpapasan dengan Zian yang berlari tergesa-gesa ke arahnya.
"Ehh Rini, lo lihat Arin gak?" tanya Zian dengan nafas yang terengah-engah, bahunya naik turun mengatur nafas agar lebih stabil.
"Tuh di depan, lagi maka di warung mang Dandy," tunjuk Rini ke arah luar gerbang.
"Si anying, disuruh bantu-bantu malah nyeblak. Ya udah, thanks ya," Zian kembali melebarkan langkahnya keluar gerbang. Bukannya pergi, Rini malah nungguin Zian seret Arin ke dalam, tidak lama menunggu akhirnya mereka berdua datang dengan posisi Zian menarik ujung baju Arin untuk masuk, sementara yang ditarik santai sambil bawa mangkok seblak yang isinya masih setengah.
Rini tersenyum puas saat netra mereka tidak sengaja bertemu, Arin menatap Rini tajam, pasti semua ini ulahnya.
Zian memberhentikan langkahnya di depan kelas, entah kelas berapa Arin gak terlalu peduli.
"Lo harus tolongin gue, oke!"
"Dihh, bantuin apaan?" tanya Arin heran sambil meletakkan mangkok yang sudah kosong isinya di ataa meja depan pintu.
"Lo harus nyanyi untuk mengisi acara selanjutnya, awalnya sih kakak kelas yang punya tugas tapi mereka katanya datang terlambat karena ada urusan keluarga, jadi untuk mengisi kekosongan acara lo yang harus nyanyi, gantiin dia. Mau ya," Zian begitu memohon. Arin jelas saja melotot kaget, dia kan gak bisa nyanyi suaranya aja kayak cicak keselek nyamuk, sekali nyanyi hancur dah tuh speaker.
"Lo gila ya? Suara gue gak bagus anjing, bisa-bisanya lo minta gue nyanyi, itu sih lo mau permalukan gue namanya. Kan masih banyak tuh yang lain suaranya lebih bagus dari gue," tutur Arin, merasa gak terima jika dia harus disuruh nyanyi. Beda lagi kalo disuruh habisin makanan di atas panggung dia maju paling depan, kalo masalah nyanyi mah Arin angkat tangan sekalian juga angkat kaki.
"Sekali doang Rin, gue pernah denger kok suara lo nyanyi dan itu merdu buat gue," mohon Zian yang masih keukeh minta Arin nyanyi gantiin kakak kelas yang katanya mau nyumbang lagu tapi nyatanya malah gak dateng dengan alasan kehalang urusan keluarga, halah bacot banget bilang aja gak mau nyanyi.
Arin terus saja menggeleng sambil menyilangkan tangannya, tanda dia tidak mau.
"Kalo gue gak bisa, masih banyak yang harus gue urus," sela Zian sambil menunduk. Tangannya mengatup, ia masih memohon agar Arin mengiyakan.
"Gue gak mau jadi bahan tertawaan dan bahan gosip untuk satu bulan ke depan, lo tega ya lihat gue digibahin gara-gara nyanyi terus suara gue gak bagus," ketusnya.
"Kan udah gue bilang, suara lo tuh bagus."
"Ya itu kan menurut lo Saprudin, gak tau menurut penilaian orang lain."
"Pokoknya lo harus nyanyi, terserah mau bawain lagu apa, yang penting isi acara yang sempat tertunda," Zian mendorong pelan tubuh Arin menuju lapangan tempat panggung berada. Di sana sudah ramai banget penonton yang setia menunggu di bawah panggung. Arin memutar bola matanya malas, padahal mereka semua gak menikmati acara, mereka cuma nunggu pementasan yang terakhir, yakni group band yang katanya populer itu, sudah jelas mereka semua pada nungguin itu lumayan buat cuci mata biar gak ngantuk.
Zian memaksa Arin naik ke atas panggung walau tuh anak masih terus berontak gak jelas.
"Gue gak mau asuu, gak usah maksa," bantah Arin, pokoknya dia gak mau jadi bahan ketawa di seluruh sekolah ini.
"Gue yakin lo bisa handle semuanya, gue tau suara lo bagus hanya saja po males buat ngembanginnya."
"Gak usah sok bijak, yang jelas gue gak mau."
"Ehh kalian berdua kenapa sih? Ribut tau nggak," Rangga datang bersama Agatha yang ngekor di belakang.
"Gue suruh Arin nyanyi buat ngisi acara," jawab Zian santai.
"Lo gak bisa dong suruh orang sembarangan buat bawain lagu, bisa hancur ntar acara yang sudah kita susun mateng-mateng, apalagi kan kita gak tau suara Arin kayak gimana? Bisa dianggap acara pensi paling gagal nantu," sahut Rangga. Arin mengangguk setuju tetapi sedikit jengkel juga karena Rangga seperti menjatuhkan dirinya yang katanya gak bisa nyanyi.
"Ehh gue bisa nyanyi ya, hanya saja gue males," ujar Arin yang sudah kelewat kesal.
"Bagus, ayo naik." Zian kembali mendorong tubuh Arin untuk naik ke atas panggung. Seluruh penonton langsung terdiam yang tadinya ribut kayak pasar senen kini semuanya kicep tanpa suara, hal tersebut sukses membuat Arin semakin gugup, ditambah Zian meninggalkannya sendirian di atas panggung. Banyak bisik-bisik tetangga yang terdengar oleh Arin, terlebih dari siswa perempuan yang kayaknya gak terlalu yakin dengan kehadiran Arin di atas panggung.
'*Dia ngapain di sana?'
'Ehh itu bukannya Arin ya, anak kelas 10 yang katanya pacar Zian*.'
'*Masa iya dia yang nyanyi, emang suaranya sebagus apa sampai berani naik panggung.'
'Gue berani jamin suaranya bakal cempreng di mic, secara gue pernah denger suaranya waktu ngomong, aduh nggak banget deh*!!!'
Arin kesal setengah mati, orang-orang hanya bisa menilai dari luar saja tanpa tau isi dalamnya.
"Gue bakal buktiin kalo gue bisa nyanyi" pikir Arin.