Selfish

Selfish
Selfish : 47



Usai mengantar Arin pulang dengan selamat sampai rumah, meski mereka berdua lebih sering cekcok dalam mobil, tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena Arin memilih diam begitu juga dengan Zian. Di perjalanan, Zian merasakan sakit kepala yang luar biasa, ditambah dada kirinya berdenyut, Zian memukul dada nya agar sedikit menghilangkan rasa sakit itu namun tidak ada gunanya bahkan sakitnya dua kali lipat. Zian menepikan mobilnya, tidak bisa ia berkendara dalam keadaan seperti ini, Zian menyandarkan tubuhnya menahan sakit, menunggu gejala ini hilang baru dia akan kembali mengemudi.


Bukan sekali, dua kali Zian mengalami hal ini, tetapi sering. Zian tidak tau apa penyebabnya, awalnya ada niatan untuk pergi ke dokter iseng-iseng hanya untuk periksa, namun karena kegiatannya yang cukup padat, rencana tersebut ditunda sampai sekarang, ditambah Zian juga gak terlalu memusingkannya, toh lama kelamaan bakal hilanh, begitu pikirnya.


Setelah dirasa sakitnya sudah mereda, Zian kembali mengemudikan mobilnya dengan kencang, agar segera sampai di rumah.


Pulang-pulang, Zian disambut oleh Ibunda tercinta dan jangan lupakan juga Ayah sambungnya yang selalu ia panggil paman, padahal sudah beberapa kali Bunda menyuruhnya untuk terbiasa dengan panggilan yang lebih akrab tetapi Zian tidak bisa, Paman nya pun memaklumi karena dia lebih tau perasaan Zian bagaimana.


"Makan dulu, sayang," Bunda membelai surai hitam Zian, mengajaknya untuk makan siang bersama. Zian hanya menoleh dan tersenyum simpul sebelum menggeleng, menolak.


Bunda mengernyit bingung, namun tetapk memaksa sambil menarik tangan putra semata wayangnya untuk ikut ke meja makan, karena Bunda tau Zian sering mengeluh sakit perut karena telat makan, apalagi sarapan Zian jarang banget, alasannya selalu ada kegiatan sekolah yang harus diselesaikan, Bunda juga bisa menebak bahwa Zian juga gak pernah sarapan di sekolah walau itulah alasan yang selalu Zian lontarkan. Bunda tau banget, selain masakannya, Zian gak akan pernah memakannya.


Sebagai Ayah yang baik, paman Zian menarik kursi untuk dia duduki, mengambilkan nasi dan lauk kesukaan Zian.


Zian akui, effort Ayah sambungnya memang gak main-main, Zian jadi sering merasa bersalah jika selalu memanggilnya dengan sebutan Pama, tetapi di sisi lain Zian masih belum bisa melupakan sosok Ayah kandungnya. Oke, Zian akan belajar menerima entah mulai dari kapan.


.


Rima jelas kaget banget mendapati keadaan Arin yang berjalan sambil dipapah Zian masuk rumah. Cara jalannya juga pincang.


"Kucing siapa lagi yang kamu kejar sampai pincang begini, Arin?" Rima membantu Zian mendudukkan Arin di sofa.


"Mama apaan sih?" ketus Arin seraya menselonjorkan kakinya.


"Sebelumnya saya minta maaf, tante. Arin seperti ini karena saya," Zian menunduk menperhatikan sepatunya, sementara Rima masih menunggu kelanjutan biar lebih paham.


"Arin terlambat dan memanjat tembok, saya mendapatinya di belakang sekolah, lalu saya menghukumnya atas perintah guru BK," jelas Zian sambil terus memusatkan pandangan pada lantai, namun sesekali mendongak untuk melihat ekspresi Rima bagaimana.


"Ohh karena hukuman, Mama kira karena kamu kejar kucing tetangga, ya sudah tidak apa-apa, Zian. Arin pantes kok dapet hukuman, siapa suruh dia begadang kemarin main PS sama Dion di sini, udah dibilangin besok sekolah tapi anaknya ngeyel, ya begini jadinya," akhirnya Rima bicara sebab dari keterlambatan Arin. Zian terkesiap mendengar penjelasana Rima, Dion lagi, Dion lagi. Selain kakak sepupunya, kini gantian Arin yang dia rebut, dasar playboy. Zian jadi semakin jengkel dengan Dion, terutama ke Arin juga, apa gak masalah cowok sama cewek begadang hanya karena main game? Berdua lagi.


"Kalo begitu, saya pamit ya, tante. Arin, jangan lupa istirahat." Zian melirik Arin penuh intimidasi, yang ditatap hanya meringis pelan.


.


"Mau kemana, Zi? Siang-siang bukannya istitahat malah keluyuran," Bunda menghampiri Zian yang sudah siap melangkah pergi.


"Aku mau keluar sebentar, Bun. Cari angin," alasan Zian membuat Bunda mengangguk pelan.


"Tapi kok wajah kamu pucat banget, kamu sakit?" Tangan Bunda bergerak memegang kening Zian namun segera ditepis pelan oleh empunya.


"Aku gak apa-apa, pergi dulu ya," Zian mencium pipi Bunda sebelum pergi.


Tidak butuh waktu lama, Zian akhirnya tiba di rumah sakit, mumpung siang jadi tidak terlalu ramai. Akhirnya, Zian konsultasi pada salah satu dokter yang ternyata spesialis organ dalam, seperti jantung, ginjal dan lain-lain.


Di sana, Zian menyampaikan keluhannya selama ini, dokter Andre diam mendengarkan sambil menyelipkan beberapa kesimpulan dan analisis berdasarkan penjelasan panjang dari Zian.


"Hasil diagnosis akan keluar dua hari lagi, kamu bisa ke sini untuk memeriksanya," ucap dokter Andre ramah, Zian sebenarnya gak sabaran pengen cepat-cepat tau apa sih penyebab sakit yang selalu ia rasakan.


Selesai dari rumah sakit, Zian tidak memutuskan untuk langsung pulang, dia mampir ke Minimarket terdekat terlebih dulu untuk membeli cola, kebetulan Zian tuh doyan minuman yang bersoda, asal jangan yang beralkohol, Zian lemah akan hal itu, selain haram dia juga alergi.


Bisa dibilang, minum cola adalah salah satu pelampiasan Zian.


Zian duduk di kursi yang tersedia depan Minimarket untuk menghabiskan minumannya. Tiba-tiba pikirannya melayang jauh pada kondisinya saat ini, apakah sakit di dada kirinya ini penyebab dia cepat lelah dan sering merasa pusing luar biasa, kadang tengah malam Zian sering muntah.


Zian memejamkan matanya, dia ingat almarhum Ayahnya juga pernah seperti ini. Cepat-cepat Zian membuang jauh pikiran kotornya.


Hari sudah hampir sore, sekitar dua jam-an Zian duduk di depan Minimarket dan sudah menghabiskan lima kaleng minuman bersoda. Hendak pulang, Zian bertemu Dion yang kebetulan juga mau membeli sesuatu di Minimarket. Tanpa sengaja, tatapan mereka bertemu, Dion dengan mata elangnya dan Zian dengan manik kelamnya, terjadi aksi saling tatap menatap selama beberapa menit. Mereka saling benci satu sama lain, terlebih waktu kejadian di rumah Dion, Zian merasakan hal demikian, selain sepupunya dan kini bedebah di depannya ingin mendekati Arin, iya Zian tau rumah mereka berdekatan tapi kan gak ada ikatan keluarga seperti Zian dan Agatha, jadi gak wajar banget sampai Dion harus menginap di rumah Arin, kek Zian tuh gak terima. Heleh, padahal gak ada hubungan apa-apa sama Arin.


"Apa lo liat-liat, ada hutang gue sama lo?" tanya Dion memutus tatapan mereka sebelum beranjak pergi dari hadapan Zian yang seperti sudah siap menerkam. Mendengar kenyataan bahwa Arin terlambat gara-gara Dion membuat Zian jadi uring-uringan dan kesal, gak Bastian, gak Dion sama saja.


Sorry, ceritanya emang gak jelas, bingung mau nulis apa😭