
"Baiklah anak-anak, sampai sini saja pertemuan kita hari ini. Ingat, senin besok kalian sudah mulai mengikuti ujian kenaikan kelas, Ibu harap kalian belajar dengan rajin. Ibu gak mau lihat nilai kalian di bawah rata-rata besok, awas saja," Bu Ratih mengakhiri kelas, merapikan buku lalu keluar. Seluruh siswa bernafas lega, akhirnya mereka bisa bersantai setelah 3 jam pelajaran yang membosankan, dikarenakan masih banyak sekali materi yang ketinggalan.
"Kok gue belum siap ya buat ujian besok," ucap Rini seraya menguap lebar. Arin yang merasa diajak ngobrol mengernyit heran.
"Kenapa gak siap? Ini demi masa depan loh," jawab Arin, memilih untuk menelungkupkan wajahnya di atas tumpukan buku yang ia jadikan sebagai bantalan. Rini mengangguk meski dia tau Arin tidak bisa melihat postur gerakannya.
"Intinya gue belum siap aja, takut gue hancurin nilai gue sendiri, secara gue tuh kalo masalah belajar paling males," jawab Rini kemudian mengikuti Arin yang tidur di atas tumpukan buku.
"Rasa malas itu dilawan jangan dipelihara," Arin mengangkat wajahnya kemudian menoleh ke Rini yang masih pada posisinya.
"Lawan bagaimana, udah melekat lama di tubuh gue."
"Kayaknya lo perlu di ruqiyah deh biar sadar," kekeh Arin kemudian beranjak berdiri yang berhasil mengundang tatapan bingung dari Rini.
"Mau kemana lo?"
"Toilet, ikut gak?" Arin mengedipkan sebelah matanya, mengisyaratkan sesuatu pada Rini yang langsung dibalas dengan senyuman licik. Rini mengacungkan jempolnya mantap.
"Dela, izin ke toilet bentar," Dela si ketua kelas menatap sekilas lalu mengangguk.
"Awas kalian berdua bohong, gue laporin ke wali kelas," ancam Dela karena sedikit aneh melihat gerak-gerik dua bersahabat itu.
"Santai, bentar doang kok gak lama," Rini segera menarik lengan Arin ke luar kelas.
.
Sesuai tebakan kalian, mereka bukannya ke toilet malah mampir ke kantin mumpung sepi soalnya nanti pas jam istirahat rame, otomatis mereka ngantri dong.
Untung gak ada Osis yang jaga jadi mereka leluasa berkeliaran mau ke mana aja bebas, karena biasanya kalo mendekati hari ujian tuh pasti kebanyakan jam pelajaran kosong, palingan cuma dikasih kisi-kisi habis itu guru keluar kelas.
"Kulineran kemana lagi nih?" tanya Rini seraya mengusap perutnya yang kembung karena kebanyakan isi.
"Udah ah, kita masuk kelas aja. Nanti satu kelas pada curiga, lo gak dengen ancaman Dela tadi." Rini mendengus kesal, padahal dia tuh mau lanjut makan di kantin luar sekolah. Tanpa berlama-lama lagi, Arin menyeret Rini kembali ke kelas, dalam perjalanan mereka ketemu guru yang berlalu lalang di depan Lab komputer. Tak jarang mereka ditanya bahkan dimarahi karena keluar kelas pada jam pelajaran, tetapi dengan akal pintar mereka hanya beralasan ke toilet. Mereka kebetulan melewati ruangan Osis yang sontak mencuri perhatian Rini kecuali Arin yang bodo amat. Rini menahan tangan Arin untuk berhenti sebentar.
"Ehh Arin, lo kan anggota Osis juga kok gue gak pernah lihat lo ikut rapat atau apalah yang berhubungan sama Osis," Rini tiba-tiba penasaran. Arin menggigit bibir bawahnya mikir gimana cara jelasin ke Rini.
"Sebenarnya gue ngundurin diri bukan secara resmi sih tapi dengan gak ngikutin semua kegiatan Osis itu sudah termasuk gue keluar kan dari organisasi itu." Rini mengangguk paham tapi sedikit kaget juga.
"Tapi menurut gue nih ya, lo gak bisa seenaknya keluar Arin, secara seluruh guru dan siswa di sini percaya banget kalo lo tuh punya potensi dan layak jadi bagian dari anggota Osis yang kebanyakan anggotanya orang populer semua."
"Gue gak mikir sampai ke situ, yang jelas gue merasa gak mampu, dan semua yang berhubungan dengan Osis menurut gue sedikit mengganggu waktu belajar."
"Itu masalah belakangan, walaupun nilai lo kurang dari KKM dengan lo ikut Osis pasti akan tetap dapat nilai rata-rata.
"Mata lo curang, ya nggak lah, semuanya sudah diatur di sekolah ini, jadi lo gak perlu ribet mikirin gimana nanti nilai tugas dan ujian lo, semua guru paham kok." Arin manggut-manggut mendengar penjelasan Rini yang akurat dan meyakinkan, ada benarnya juga, kenapa Arin gak sampai mikir ke sana ya. Tapi jujur, alasan Arin males itu ya karena harus ketemu Zian.
"Kelamaan mikirnya lo, udah yok buruan, katanya mau ke kelas," lagi-lagi Rini menyambar lengan Arin untuk ditarik.
"Ehh bentar, ada yang merhatiin kita dari tadi," Rini menoleh. "Kak Zian di arah jam 9, tapi jangan lirik balik soalnya dia lagi natap lo," Rini langsung menghentikan Arin yang hendak menoleh.
"Terus gimana? Kita mematung begini sampai kapan?"
"Tinggal jalan susah amat, ayo pergi," sebelum melangkah pergi, suara Zian menginterupsi keduanya.
"Mampus, dia manggil lo tuh," Rini memejamkan matanya gugup, melepaskan tautan tangan mereka.
"Jangan bilang lo mau ninggalin gue," bisik Arin dengan nada penuh intimidasi. Rini cengengesan, ternyata Arin tau akal busuknya, lagian siapa sih yang mau jadi nyamuk. Zian datang menghampiri mereka, Rini sudah berbalik menatap Zian sedangkan Arin masih pada posisi memunggungi.
"Arin, gue boleh ngomong berdua doang gak sama lo?" Mendengar ucapan Zian membuat Rini sedih, cukup tau aja sih emang Rini gak ada urusan di sini. Tau gini mending dia kabur aja lari ninggalin Arin sendirian.
Arin menggeleng keras sambil menahan tangan Rini.
"Sorry, gue sibuk. Lain kali aja." Zian memandangi punggung Arin yang kian menjauh, tampak menyeret Rini sekuat tenaga agar bisa menghindar dari Zian.
Setelah sampai di lantai dua, Arin melepaskan cengkraman tangannya pada Rini, nafasnya tersenggal akibat lari tadi.
"Jahat banget sih lo, kasihan kak Zian lo cuekin begitu, siapa tau yang mau dia omongin penting," ucap Rini sambil mengusap pergelangan tangannya.
"Gak peduli sih, palingan seputar si Laras-Laras itu, bosen gue denger namanya," jawabnya acuh.
"Hm, gue mencium bau-bau kecemburuan."
"Lo mau gue gelindingin di tangga?" Rini segera mengatupkan tangannya di depan dada dengan cengiran khasnya.
.
Kalo di pikir-pikir Arin jadi kepikiran, antara menyesal dan merasa bersalah atas kejadian tadi. Menyadari sesuatu, Arin segera menggelengkan kepalanya membuang jauh-jauh perasaan menyesalnya.
"Cih, buat apa gue ngerasa bersalah sama dia, harusnya kan dia yang paling salah di sini," gumam Arin sambil menggenggam kuat pulpen di tangannya mencorat-coret bukunya sampe tembus ke halaman belakang.
"Woy woy Istighfar woy, lo bayar LKS pake duit bukan daun." Arin menatap Rini datar, menghentikan aksinya lalu segera menarik nafas dalam, sadar dari tadi ia kebawa emosi.
"Ngapa lo? Ada masalah rumah tangga?" Satu sentilan manis mendarat di kening Rini.
"Kalo ngomong gak pernah difilter dulu, mulut lo emang mau banget dibor. Dah yok kita pulang, males gue lama-lama di sini." Rini memberikan jempolnya tanda setuju.